Kisah Nabi Muhammad Diracun Perempuan Yahudi yang Dendam

Sedang Trending 1 tahun yang lalu
Kisah Ketika Nabi Muhammad Diracun Perempuan Yahudi nan DendamKisah Ketika Nabi Muhammad Diracun Perempuan Yahudi nan Dendam

– Kisah tentang Nabi Muhammad SAW nan diracun oleh seorang wanita Yahudi merupakan salah satu peristiwa krusial dalam perjalanan hidup Rasulullah. Peristiwa ini bukan hanya menunjukkan sungguh berat ujian nan beliau hadapi dalam menyebarkan Islam, tetapi juga mengungkapkan sikap mulia Nabi dalam menghadapi musuh dan pengkhianatan.

Langit Khaybar pagi itu cerah, seolah merestui kemenangan nan baru saja diraih pasukan Rasulullah SAW. Debu-debu nan beterbangan tetap menyisakan jejak pertempuran—benteng-benteng Yahudi nan selama bertahun-tahun kukuh dalam perlawanan, satu per satu runtuh oleh strategi jitu kaum Muslimin.

Namun, kemenangan tak selalu berfaedah damai. Di antara reruntuhan kebesaran Khaybar, dendam tak mati. Ia berlindung di dada seorang perempuan—Zainab binti al-Harith—yang suaminya, Salam bin Mishkam, tewas dalam peperangan. Dendamnya bukan sekadar kehilangan, tapi kepercayaan bahwa aliran Muhammad SAW adalah ancaman terakhir bagi keberadaan kaumnya.

Lalu dia menyiapkan “perjamuan”.

Seekor kambing muda disembelih. Dagingnya dipanggang dengan rempah-rempah terbaik. Tapi racun mematikan menjadi ramuan rahasia pada bagian nan paling disukai Rasulullah SAW: lengan kambing. Racun itu bukan racun biasa—ia diracik untuk membunuh secara perlahan namun pasti.

Sebuah percobaan nan bukan hanya mau menghilangkan nyawa, tapi juga membuktikan bahwa Muhammad bukanlah Nabi, bukan pula utusan Tuhan—hanya seorang manusia biasa nan bisa meninggal oleh racun.

Hari itu, Rasulullah SAW menerima hidangan itu tanpa curiga. Wajah beliau bercahaya dalam senyum kemenangan, tapi tubuhnya capek oleh perang nan belum lama usai. Di sekeliling beliau, para sahabat menyambut hidangan tersebut. Di antara mereka adalah sahabat mulia: Basyar bin al-Barra’. Dengan penuh rasa syukur, mereka menikmati daging panggang itu.

Namun belum sempat ditelan, lengan kambing itu “berbicara”.

Bukan dengan suara, tapi dengan rasa getir dan isyarat Ilahiyah nan merambat di lidah Rasulullah SAW. Seketika beliau berhenti. Beliau meludahkan daging itu, lampau berfirman dengan keteguhan nan menggetarkan:

“Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun.”

Terlambat bagi Basyar bin al-Barra’. Racun telah menyusup ke dalam darahnya. Tubuhnya melemah hari demi hari, hingga akhirnya dia wafat sebagai syahid. Sedangkan Rasulullah SAW selamat—namun racun itu tidak pergi. Ia menetap di tubuh sang Nabi, menjadi saksi bisu nan perlahan menorehkan luka dalam, hingga beberapa tahun kemudian, di ranjang wafatnya, beliau berkata:

“Kini telah tiba saatnya nadiku terputus lantaran makanan berbisa nan saya makan di Khaybar.”

Berita tentang racun itu menyebar cepat. Rasulullah SAW segera memerintahkan agar para pemuka Yahudi Khaybar dikumpulkan. Di hadapan mereka, beliau berdiri bukan sebagai korban, tapi sebagai pengadil dan nabi nan dijaga Tuhannya.

“Siapa ayah kalian?” tanya beliau.

Dengan licik mereka menyebut nama palsu, namun Rasulullah SAW membongkar bohong mereka dengan menyebut nama original ayah mereka. Mereka pun terdiam, lampau berbicara dengan wajah pucat:

“Engkau benar, wahai Abu al-Qasim, dan engkau telah bertindak adil.”

Kemudian, beliau bertanya dengan tenang namun menghunjam:

“Apakah kalian meracuni daging ini?”

Mereka mengaku: “Kami mau menguji. Jika engkau hanyalah raja, racun itu bakal membunuhmu. Tapi jika engkau seorang nabi, tentu engkau bakal selamat.”

Lalu wanita itu dipanggil: Zainab, sang pelaku makar. Dengan kepala tegak dan lidah nan tajam, dia mengakui perbuatannya.

“Aku mau mengujimu. Aku mau tahu, apakah engkau betul-betul Nabi.”

Nabi SAW tidak marah. Tidak pula langsung menghukumnya. Ia mengampuni Zainab. Tidak lantaran lemah, tapi lantaran kasih nan meluap dari dada seorang Rasul nan hidupnya adalah rahmat bagi semesta alam. Namun setelah Basyar wafat, keadilan kudu ditegakkan. Zainab dihukum qishash oleh para sahabat atas dasar pembunuhan.

Peristiwa Khaybar bukan sekadar catatan tentang racun dan pengkhianatan. Ia adalah potret agung dari pribadi Rasulullah SAW—seseorang nan bisa mengampuni musuh apalagi setelah mencoba membunuhnya. Beliau bukan hanya nabi nan dijaga oleh wahyu, tapi juga manusia nan diuji, disakiti, dan akhirnya wafat dengan luka nan disebabkan oleh tangan seorang musuh.

Namun di sanalah letak keagungan beliau. Tak satu pun dari luka itu membuatnya membalas demi kepentingan pribadi. Tidak pula membatalkan rahmat nan dia bawa untuk semua manusia, termasuk mereka nan meracuninya.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menulis dalam Zad al-Ma’ad:

“Peristiwa racun ini adalah tanda kenabian. Jika Muhammad SAW bukan Nabi, dia pasti wafat saat itu. Tapi Allah menundanya hingga risalah disempurnakan dan wahyu terakhir diturunkan.”

Kini, lebih dari seribu empat ratus tahun telah berlalu sejak racun itu disuguhkan kepada sang Nabi. Tapi setiap kisah tentangnya hidup kembali dalam hati orang-orang beriman. Bahwa hidup bukan tentang bebas dari ujian, tapi tentang gimana menghadapi makar dengan rahmat. Tentang gimana membalas pengkhianatan dengan keadilan, dan membalas dendam dengan maaf.

Dan di atas semuanya, tentang gimana seorang manusia bisa mencintai Tuhan dengan begitu tulus, hingga racun nan paling mematikan pun tak bisa mencuri sinar dari jiwanya.

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ۝١٠٧

Artinya; Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), selain sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah