The Clash of Civilizations: Benturan Peradaban

Sedang Trending 11 jam yang lalu
The Clash of Civilizations: Benturan Peradaban

– Jika ditanya, benarkah Islam dan Barat berhadap-hadapan secara diametral? Apakah nan disebut Barat? Siapakah nan disebut Islam? Apa relevansi teori Samuel Huntington ini dalam kehidupan keberagamaan kita?

Syahdan. Dahulu kala ada teori mengenai “Clash of Civilizations” alias tumbukan antara peradaban-peradaban. Belakangan ini, berasas teori itu, muncullah  pandangan bahwa telah terjadi perbenturan peradaban antara Islam dan Barat.

Menurut Azyumardi Azra, teori ini pertama kali dikemukakan oleh seorang guru besar nan berjulukan Samuel Huntington dalam bukunya nan diterbitkan pada tahun 1996  dengan judul “The Clash of Civilizations”.

Dalam perihal ini, perbenturan antara peradaban Islam dan Barat, jika dilihat menggunakan teori Samuel, keduanya sama-sama mempunyai banyak kelemahan. Kenapa demikian? Karena mendikotomikan antara Barat dan Islam nan secara teoritis maupun substantif “agak” sulit.

Dikatakan susah lantaran apa nan disebut sebagai Islam alias bumi Islam sebetulnya juga beragam. Misalnya, ada nan pro Barat (kita sebut sebagai sebuah kelompok), ada nan sangat pro Barat, dan apalagi menjadi sekutu Barat seperti negara-negara Arab, Israel, Turki, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, dan lainnya.

Sebenarnya, jika disederhanakan, maksud dari Samuel Huntington tentang tumbukan peradaban ini adalah perang Iran vs Amerika sejak revolusi Ayatollah Khomeini tahun 1979.

Barat sendiri secara substantif sesungguhnya tidak sepenuhnya menjadi satu kutub alias blok nan monolitik, karena di Barat sendiri seperti di Amerika, Eropa, dan lainnya juga banyak orang Islam nan memegang posisi-posisi krusial seperti tenaga mahir di Nasa. Begitu juga di Eropa, Jerman, Prancis, Inggris dan seterusnya.

Bahkan  di Eropa khususnya banyak sekali peninggalan Islam. Menurut penelitian nan dilakukan oleh UNESCO dan PBB, sumber peradaban Barat itu berasal dari tiga tradisi keagamaan, ialah kepercayaan Yahudi, Kristen, dan Islam.

Karena itu, menurut Azyumardi Azra, teori The Clash of Civilizations itu banyak kelemahannya. Dengan demikian, kita tidak perlu mengikuti dan mendikotomisasikan Islam dengan Barat.

Sekali lagi, negara-negara Muslim sendiri banyak mendapat faedah dari Barat. Misalnya, faedah dalam bagian pengetahuan pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain, hal-hal nan positif dari Barat bisa kita ambil sekalipun tidak ditiru. Sebaliknya, bumi Barat juga bisa banyak belajar dari bumi Muslim mengenai hal-hal nan positif.

Bahwa Islam itu sesungguhnya dalam banyak perihal kompatibel dengan apa nan terjadi di bumi Barat khususnya. Dalam perihal ini adalah bagian pengetahuan pengetahuan, sains, teknologi, pengelolaan pemerintahan dan lain sebagainya.

Dengan demikian, apa nan disebut dengan The Clash of Civilizations lebih merupakan teori nan kemudian memang kelihatannya seolah dirancang untuk membenturkan Islam pada satu pihak dan bumi Barat pada pihak nan lain.

Padahal, jika ditelaah lebih jauh, sesungguhnya di antara dua kutub ini banyak sekali terjadi saling tukar-menukar antar peradaban, ialah tukar-menukar pengetahuan pengetahuan dan beragam aspek kehidupan lainnya. Wallahu a’lam bishawab.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah