Teras Kebinekaan Selenggarakan Diskusi Buku Pendidikan Bersama Para Pakar

Sedang Trending 14 jam yang lalu
Teras Kebinekaan Selenggarakan Diskusi Buku Pendidikan Bersama Para PakarTeras Kebinekaan Selenggarakan Diskusi Buku Pendidikan Bersama Para Pakar

– Teras Kebinekaan sukses menyelenggarakan forum obrolan intelektual tingkat nasional berjudul Hypatia School #07 nan bertempat di Kantor Teras Kebinekaan, Parung, Bogor, Jawa Barat. Forum eksklusif nan dikemas dalam corak roundtable discussion ini diselenggarakan unik untuk membedah pendapat besar di kembali kitab “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Menggali Pokok-pokok Pikiran Abdul Mu’ti”.

Diskusi melangkah sangat bergerak lantaran tidak sekadar mengulas narasi normatif di dalam buku, melainkan menguliti realitas struktural, metodologi pengajaran di kelas, hingga tantangan psikologis nan dihadapi oleh anak didik di era digital.

Dalam kata pembukanya, Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan, Dr. Moh. Shofan, melontarkan catatan kritis normatif agar konsep-konsep besar pembelajaran nan tertuang di dalam kitab tidak berakhir sebagai semboyan birokrasi semata. Ia menekankan perlunya membumikan konsep tersebut ke level epistemologi dan metodologi operasional riil.

“Membaca kitab ini, saya memandang konsep-konsep seperti deep learning, meaningful learning, dan joyful learning tetap berada di level paradigmatik, belum membumi secara metodologis di ruang kelas.

Di wilayah terpencil seperti Bone dan pulau-pulau di Maluku, problematika utamanya adalah sarana prasarana nan sangat tidak memadai. Namun, proses edukasi di sana beruntung tetap bisa melangkah lantaran adanya presence—kehadiran bentuk serta pengorbanan dedikatif dari para guru,” ungkap Dr. Moh. Shofan.

Staf Ahli Kemendikdasmen Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., nan datang secara resmi mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, menegaskan bahwa kementerian menjadikan forum ini sebagai wadah ‘belanja ide’ dari para pakar. Ia juga meluruskan kekhawatiran publik mengenai rumor kurikulum.

“Kami tegaskan bahwa deep learning ini bukan kurikulum baru. Kementerian berkomitmen penuh untuk menghindari adagium lama ‘ganti menteri tukar kurikulum’. Bagi sekolah nan saat ini menerapkan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, silakan terus melangkah lantaran deep learning adalah sebuah pendekatan untuk kedalaman berpikir, bukan penggantian arsip kurikulum,” tegas Prof. Biyanto.

Dari sisi operasional kelas, akademisi Universitas Sanata Dharma, Prof. Johanes Haryatmoko, menjabarkan ‘kendaraan pedagogis’ konkret nan dapat digunakan pembimbing untuk melatih keahlian berpikir reflektif, kritis, dan imajinatif siswa. Ia menawarkan integrasi metode baru nan dipetakan langsung dengan perangkat ukur kualitas kognitif.

“Tujuan besar kita adalah deep learning, dan kualitas kedalaman berpikir siswa tersebut kudu diukur secara terstruktur menggunakan Taksonomi SOLO. Caranya adalah dengan menerapkan lima metode operasional baru di kelas, seperti logika abduksi, design thinking, dan berpikir komputasional (computational thinking).

Melalui instrumen ini, siswa digerakkan dari sekadar menghafal kebenaran di permukaan menuju kapabilitas merancang solusi inovatif nan dapat diterapkan pada situasi baru (extended abstract),” urai Prof. Haryatmoko.

Catatan kritis nan tak kalah tajam disampaikan oleh Co-founder Yayasan Mulia Raya, Prof. Musdah Mulia. Beliau mengingatkan pemerintah agar tidak terjebak dalam semboyan moral tanpa adanya keberanian melakukan pembenahan esensial pada akar ketimpangan sosial masyarakat.

“Narasi pendidikan berbobot untuk semua bakal menjadi semboyan moral belaka jika pemerintah tidak berani melakukan transformasi struktural untuk membongkar ketimpangan kelas sosial, wilayah, dan kasta sekolah favorit.

Selain itu, pendidikan karakter tidak boleh disempitkan hanya untuk membangun kepatuhan umum alias moralitas konservatif, melainkan kudu melahirkan kemandirian berpikir kritis, empati, dan keberanian melawan ketidakadilan. Kita juga mendesak dibuatnya peta jalan (roadmap) pendidikan nasional 20–30 tahun agar arah visi kita stabil lintas pemerintahan,” cetus Prof. Musdah Mulia.

Melengkapi rangkaian kritik dari perspektif pandang pengalaman langsung siswa (student’s perspective), Inayah Wahid membongkar adanya gap alias lembah pemisah nan sangat lebar antara perangkat sistem pendidikan dengan output nyata nan dihasilkan.

“Banyak perihal nan kita hafalkan di masa lampau rupanya sama sekali tidak fungsional di masa depan. Tetapi kita tidak pernah diajari gimana langkah berpikir kritis, menumbuhkan empati, memelihara rasa penasaran (curiosity), hingga langkah berdebat sehat tanpa kudu mengamuk.

Lebih ironis lagi, dalam ruang sosial kita, ketika anak didik mencoba mempraktikkan critical thinking, tindakan kritis tersebut malah rentan membawa mereka ke penjara,” tutur Inayah dengan jujur.

Diskusi nan dipandu oleh Ayu Arman ini juga diperkaya oleh perspektif dari  Rikard Bagun, Anggota Dewan Pengarah BPIP, nan turut memberikan catatan tajam mengenai output nyata dari sistem pendidikan saat ini. Ia menyoroti bahwa daya pendidikan kita selama ini lenyap tersedot pada ruang mahfuz dan doktrinasi umum nan mempersempit ruang tumbuh anak didik.

“Hafalan itu penting, tetapi jika seluruh daya lenyap di sana, kita hanya bakal mengulang-ulang perihal nan sama. Dampaknya, kapabilitas reflective dan critical thinking generasi kita menjadi lemah,” ujar Rikard.

Di tengah banjir info dan media digital saat ini, pendidikan kudu bisa melahirkan manusia nan ocehan melakukan verifikasi, validasi, dan konfirmasi.

“Kemampuan analitik untuk memilah mana info nan betul dan mana nan hoaks itu basisnya adalah rasio, logika, ketajaman etika, serta estetika. Kita kudu ingat bahwa setiap kata itu mempunyai pesonanya sendiri nan kudu dipertanggungjawabkan,” tegas Rikard Bagun.

Melalui forum Hypatia School #07 ini, Teras Kebinekaan berambisi seluruh pokok pikiran dan catatan kritis nan lahir dari para tokoh dapat beralih bentuk menjadi rekomendasi kebijakan publik nan konkret.

Hal ini sejalan dengan komitmen lembaga untuk terus mengawal lahirnya ekosistem pendidikan Indonesia nan inklusif, adil, toleran, dan memanusiawakan manusia.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah