Keutamaan Puasa Dzulhijjah dalam Hadis Nabi – Ada masa-masa tertentu ketika langit terasa lebih dekat kepada bumi. Hari-hari itu bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum ketika kebaikan mini dilipatgandakan nilainya, doa-doa lebih mudah menembus langit, dan hati manusia dipanggil untuk kembali kepada Tuhan. Salah satu musim agung itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Di era sekarang, manusia begitu sibuk mengejar musim diskon, musim politik, alias musim hiburan. Namun ironisnya, banyak nan justru melewatkan musim terbesar untuk memperkaya ruhani mereka. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa tidak ada hari-hari nan kebaikan saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari Dzulhijjah.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هٰذِهِ الْأَيَّامِ ـ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ ـ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ
Artinya: “Tidak ada hari-hari di mana kebaikan saleh pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini,” ialah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, selain seseorang nan keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lampau tidak kembali sedikit pun dari keduanya.” (HR. Imam al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan satu perihal penting: Islam tidak pernah memandang mini kebaikan nan dilakukan pada waktu nan mulia. Sebab terkadang kemuliaan sebuah kebaikan bukan hanya terletak pada bentuknya, melainkan juga pada momentum spiritual nan mengitarinya.
Karena itu, puasa Dzulhijjah bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan membersihkan jiwa di tengah bumi nan semakin gaduh. Ketika manusia modern dipenuhi kerakusan konsumsi, puasa datang mengajarkan pengendalian diri. Saat manusia begitu mudah dikuasai hawa nafsu, puasa mendidik manusia untuk kembali menjadi tuan atas dirinya sendiri.
Dalam sabda lain Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya: “Tidak ada hari-hari nan lebih dicintai Allah untuk digunakan beragama kepada-Nya daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Puasa pada setiap harinya sebanding dengan puasa setahun, dan ibadah pada setiap malamnya sebanding dengan ibadah pada malam Lailatul Qadar.” (HR. Sunan at-Tirmidzi)
Betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia. Dengan umur nan pendek, manusia tetap diberi kesempatan mengumpulkan pahala berlipat melalui hari-hari spesial seperti ini. Dzulhijjah menjadi bukti bahwa rahmat Tuhan selalu lebih luas daripada keahlian ibadah hamba-Nya.
Yang menarik, spirit Dzulhijjah sesungguhnya bukan hanya soal ritual individual. Bulan ini juga mengajarkan solidaritas sosial. Di dalamnya ada ibadah kurban, simbol bahwa kedekatan kepada Allah tidak sah jika manusia tetap abai terhadap penderitaan sesama. Maka puasa Dzulhijjah semestinya melahirkan kepekaan sosial, bukan sekadar kesalehan pribadi.
Sebab ibadah nan sejati bukan hanya melangitkan doa, tetapi juga menghadirkan kasih sayang di bumi. Di tengah bumi nan semakin keras, penuh kebencian, fitnah, dan perebutan kepentingan, manusia sesungguhnya memerlukan ruang untuk menjernihkan hati. Puasa Dzulhijjah datang sebagai jalan sunyi untuk membersihkan jiwa dari kesombongan, iri hati, dan kerakusan dunia.
Karena itu, rugilah orang nan melewati hari-hari mulia ini tanpa ibadah. Lebih rugi lagi mereka nan tenggelam dalam hiruk-pikuk bumi namun lupa bahwa ada musim pahala nan sedang dibuka lebar oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Artinya:“Demi fajar, dan demi malam nan sepuluh.”(QS. Al-Fajr: 1–2)
Banyak ustadz tafsir menjelaskan bahwa “malam nan sepuluh” dalam ayat tersebut adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Di antaranya dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Mungkin kita bukan mahir tahajud. Mungkin pula bukan orang nan bisa bersedekah besar. Namun setidaknya, kita tetap bisa menyambut Dzulhijjah dengan puasa, dzikir, doa, dan memperbanyak kebaikan saleh.
Sebab bisa jadi, justru dari kebaikan mini nan dilakukan dengan tulus pada hari-hari mulia inilah, hidup seseorang perlahan berubah menjadi lebih dekat kepada Tuhan.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·