Doa Ketika Takut pada Kezaliman Penguasa– Berikut ini adalah angan ketika takut pada kezaliman penguasa. Pasalnya, dalam sejarah kehidupan manusia, kekuasaan selalu punya dua wajah: dia bisa menjadi pelindung, tetapi juga bisa menjelma menjadi ancaman.
Ketika tangan penguasa condong kepada kezhaliman, ketika kekuasaan tidak lagi menjadi perangkat menegakkan keadilan, melainkan perangkat menakut-nakuti rakyat, maka orang beragama tidak kehilangan pegangan. Ia kembali kepada Allah. Sebab di hadapan kekuasaan nan bengis, ada perlindungan nan lebih tinggi: perlindungan dari Tuhan semesta alam.
Doa ini merupakan pernyataan ketaatan bahwa kuasa manusia itu terbatas, sedangkan kuasa Allah tidak berbatas. Karena itu, ketika seseorang takut terhadap kezhaliman penguasa, dia dianjurkan membaca angan perlindungan berikut.
Doa ini termaktub dalam Hisnul Muslim karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, dan menjadi salah satu ikhtiar spiritual agar seseorang dijaga dari keburukan orang kejam beserta para pengikutnya.
Berikut angan ketika takut pada kezaliman penguasa;
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، كُنْ لِي جَارًا مِنْ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ، وَأَحْزَابِهِ مِنْ خَلَائِقِكَ، أَنْ يَفْرُطَ عَلَيَّ أَحَدٌ مِنْهُمْ أَوْ يَطْغَى، عَزَّ جَارُكَ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Allāhumma rabba as-samāwāti as-sab‘i wa rabba al-‘arsyi al-‘aẓīm, kun lī jāran min fulāni bni fulān, wa aḥzābihi min khalā’iqika, an yafruṭa ‘alayya aḥadun minhum aw yaṭghā, ‘azza jāruKa, wa jalla thanā’uKa, wa lā ilāha illā Anta.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan Tuhan ‘Arsy nan agung, jadilah Engkau pelindung bagiku dari si fulan bin fulan dan para pengikutnya dari makhluk-Mu, agar jangan ada seorang pun dari mereka bertindak melampaui pemisah alias melakukan kejam kepadaku. Maha mulia perlindungan-Mu, Maha agung pujian-Mu, dan tidak ada tuhan selain Engkau.”
Doa ini menyimpan pesan nan sangat dalam: ketika manusia merasa terdesak oleh kuasa nan tak adil, dia tidak sedang lari dari kenyataan. Ia sedang menegaskan bahwa ada penguasa di atas segala penguasa. Ada Allah nan menjaga, ketika manusia saling menindas.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَعَزُّ مِنْ خَلْقِهِ جَمِيعًا، اللَّهُ أَعَزُّ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ، أَعُوذُ بِاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، الْمُمْسِكِ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ أَنْ يَقَعْنَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ، مِنْ شَرِّ عَبْدِكَ فُلَانٍ، وَجُنُودِهِ وَأَتْبَاعِهِ وَأَشْيَاعِهِ، مِنْ الْجِنِّ وَالإِنْسِ، اللَّهُمَّ كُنْ لِي جَارًا مِنْ شَرِّهِمْ، جَلَّ ثَنَاؤُكَ وَعَزَّ جَارُكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Allāhu akbar, Allāhu a‘azzu min khalqihi jamī‘an, Allāhu a‘azzu mimmā akhāfu wa aḥdhar, a‘ūdzu billāhi alladzī lā ilāha illā Huwa, al-mumsiki as-samāwāti as-sab‘i an yaqa‘na ‘alā al-arḍi illā bi idznih, min syarri ‘abdika fulān, wa junūdihi wa atbā‘ihi wa asy-yā‘ihi, mina al-jinni wa al-insi, Allāhumma kun lī jāran min syarrihim, jalla thanā’uKa wa ‘azza jāruKa, wa tabāraka ismuka, wa lā ilāha ghayruka.
Artinya: “Allah Mahabesar. Allah lebih mulia dan lebih kuat daripada seluruh makhluk-Nya. Allah lebih kuat daripada apa nan saya takutkan dan saya waspadai. Aku berlindung kepada Allah nan tidak ada tuhan selain Dia, nan menahan tujuh langit agar tidak jatuh ke bumi selain dengan izin-Nya, dari kejahatan hamba-Mu si fulan, bala tentaranya, para pengikutnya, dan para pendukungnya, baik dari golongan hantu maupun manusia.
Ya Allah, jadilah Engkau pelindung bagiku dari kejahatan mereka. Maha agung pujian-Mu, Maha mulia perlindungan-Mu, Maha berkah nama-Mu, dan tidak ada tuhan selain Engkau.”
Doa ketika takut pada kezaliman penguasa bukan sekadar permintaan kondusif dari ancaman. Ia adalah perlawanan jiwa terhadap ketakutan. Sebab kezhaliman sering kali tidak hanya datang dalam corak pukulan alias penangkapan, tetapi juga dalam corak tekanan, ancaman, dan rasa takut nan terus dipelihara. Maka angan ini menjadi tameng jiwa: agar hati tidak runtuh sebelum tubuh disentuh.
Bagi orang nan hidup di bawah bayang-bayang kuasa nan sewenang-wenang, angan semacam ini bukan hiasan spiritual. Ia adalah kebutuhan. Ia adalah langkah seorang hamba menjaga martabatnya ketika dia tak lagi punya banyak daya. Sebab Islam tidak mengajarkan manusia tunduk kepada kezhaliman, melainkan menggantungkan minta kepada Allah nan Maha Melindungi.
Maka ketika kekuasaan mengeras, ketika bunyi rakyat dipersempit, dan ketika tangan-tangan kejam mulai bergerak, seorang mukmin tidak hanya mencari selamat di dunia. Ia juga mencari teguhnya hati. Dan angan inilah salah satu jalan untuk tetap berdiri, tanpa kehilangan iman.
47 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·