Khutbah Idul Adha: Hakikat Kurban sebagai Wujud Ketakwaan dan Solidaritas– Dalam sejarahnya, kurban berakar pada peristiwa agung ketika Nabi Ibrahim menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail. Perintah itu bukanlah ujian biasa. Ia adalah ujian tentang kepatuhan total seorang hamba kepada Tuhannya. Nah berikut teks Khutbah Idul Adha: Hakikat Kurban sebagai Wujud Ketakwaan dan Solidaritas
Khutbah I
اَللهُ أَكْبَرُ (3x)، اَللهُ أَكْبَرُ (3x)، اَللهُ أَكْبَرُ (3x) وَلِلهِ الْحَمْدُ. اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ شَهْرَ الْحَجِّ غُزَّةَ وَجْهِ الْعَامِ، وَأَجْزَلَ فِيْهِ الْفَضَائَلَ وَالْاِنْعَامِ، وَفَضَّلَ أَيَّامَهُ عَلَى سَائِرِ الْأَيَّامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلْمَبْعُوْثِ عَلَى جَمِيْعِ الْأَنَامِ، وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْأَنَامِ وَمَصَابِيْحِ الظَّلَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِلَهٌ تَفَرَّدَ بِالْكَمَالِ وَالتَّمَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَنْ صَلَّى وَصَامَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْ شُبِّهُوْا بِالْأَنْجَامِ، فَمَنْ تَبِعَهُ فَقَدْ نَالَ سُبُلَ التَّامِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيآ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ رَحِمَكُمْ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَقَالَ أَيْضًا: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Jamaah khutbah shalat Idul Adha nan dirahmati Allah
Ibadah kurban nan kita laksanakan pada hari-hari Idul Adha sejatinya merupakan warisan agung dari ketakwaan Nabi Ibrahim alaihis salam dan putranya, Nabi Ismail alaihis salam. Dari peristiwa besar itulah kita belajar bahwa Islam dibangun di atas ketundukan, keikhlasan, dan kesediaan untuk mengorbankan apa nan paling dicintai demi meraih ridha Allah SWT.
Allah Ta‘ala menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa nan sampai kepada-Nya bukanlah daging hewan kurban itu, bukan pula darahnya, melainkan ketakwaan hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧
Artinya: “Daging-daging unta itu dan darahnya itu sekali-kali tidak bakal sampai kepada Allah, tetapi nan sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar Anda mengagungkan Allah atas petunjuk nan Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah berita ceria kepada orang-orang nan melakukan baik.”
Ayat ini memberikan pelajaran nan sangat besar. Kurban tidak sekadar penyembelihan hewan, melainkan simbol keikhlasan, penghambaan, dan ketundukan total kepada Allah SWT. Karena itu, orang nan berkurban hendaknya tidak berakhir pada corak lahiriahnya saja, tetapi juga menghadirkan ruh kurban dalam sikap hidup sehari-hari: rendah hati, dermawan, dan peduli kepada sesama.
Jamaah khutbah shalat Idul Adha nan dirahmati Allah
Idul Adha adalah momentum emas untuk mengikis sifat kikir dan egoisme. Di hari nan mulia ini, umat Islam nan mempunyai keahlian dianjurkan, apalagi sangat ditekankan, untuk berkurban dan membagikan dagingnya, terutama kepada fakir miskin dan kaum nan membutuhkan. Di sinilah kurban menjadi ibadah nan tidak hanya berbobot vertikal, tetapi juga berbobot sosial.
Menurut penjelasan Ibnu Hajar, dalam kitab Fathul Bari, kebanyakan ulama, termasuk ustadz ajaran Syafi‘i, beranggapan bahwa kurban adalah sunnah muakkadah bagi orang nan mempunyai kemampuan.
Artinya, ibadah ini sangat dianjurkan dan mengandung pahala besar di sisi Allah SWT. Meskipun tidak diwajibkan, para ustadz Syafi‘iyah sepakat bahwa kurban merupakan salah satu syiar besar Islam nan mencerminkan ketakwaan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama.
Karena itu, seorang Muslim nan diberi kelapangan rezeki hendaknya tidak meremehkan kesempatan untuk berkurban. Di dalamnya terdapat nilai ibadah nan sangat agung, sekaligus kemaslahatan nan nyata bagi masyarakat. Kurban tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga mendekatkan hati antarsesama hamba-Nya.
Jamaah khutbah shalat Idul Adha nan dirahmati Allah
Lebih jauh, Ibnu Hajar juga menjelaskan bahwa sebagian ustadz beranggapan norma kurban adalah wajib bagi orang nan mampu. Pendapat ini dinisbatkan kepada Abu Hanifah, sebagian riwayat dari Malik bin Anas, serta ustadz seperti Al-Auza‘i, Rabi‘ah, dan al-Laits. Mereka beralasan dengan sabda Nabi ﷺ:
مَنْ وَجَدَ سِعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
Artinya; “Barangsiapa mendapatkan kelapangan kekayaan tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat salat kami.”
Akan tetapi, Ibnu Hajar menerangkan bahwa sabda tersebut diperselisihkan oleh para ustadz hadis, apakah betul-betul marfū‘ sampai kepada Nabi Muhammad alias hanya mauqūf pada sahabat. Karena itu, menurut beliau, sabda tersebut tidak cukup kuat untuk menetapkan norma wajib secara tegas.
Namun demikian, makna nan terkandung di dalamnya tetap memberi isyarat bahwa orang nan diberi kelapangan rezeki tetapi enggan berkurban telah kehilangan salah satu semangat besar dalam Islam, ialah semangat berbagi, semangat kepedulian, dan semangat menebar manfaat.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berfirman dalam sabda sahih nan diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَن ضَحَّى منكم فلا يُصبِحَنَّ بَعدَ ثالِثةٍ وبَقيَ في بَيتِه منه شَيءٌ، فلَمَّا كان العامُ المُقبِلُ، قالوا: يا رَسولَ اللهِ، نَفعَلُ كما فعَلنا عامَ الماضي؟ قال: كُلوا وأطعِموا وادَّخِروا؛ فإنَّ ذلك العامَ كان بالنَّاسِ جَهدٌ، فأرَدتُ أن تُعينوا فيها.
Artinya: “Barangsiapa di antara kalian berkurban, maka jangan sampai setelah hari ketiga tetap ada sedikit pun daging kurban nan tersisa di rumahnya.”
Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami kudu melakukan seperti nan kami lakukan tahun lalu?”
Beliau menjawab: “Makanlah, berilah makan orang lain, dan simpanlah. Karena pada tahun itu masyarakat sedang mengalami kesulitan, maka saya mau kalian membantu mereka.” (HR. Imam Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kurban bukan hanya ibadah personal, melainkan juga sarana menegakkan solidaritas sosial. Bahkan, Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni menjelaskan bahwa riwayat ini mengisyaratkan pembagian daging kurban nan dianjurkan Nabi, ialah sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk fakir miskin di sekitar, dan sepertiga untuk infak kepada para peminta-minta.
Dari sini kita belajar bahwa kurban adalah ibadah nan mengandung dua makna besar sekaligus: mendekat kepada Allah dan mendekatkan diri kepada manusia dengan kasih sayang.
Hakikat kurban adalah memberi dan berbagi. Para ustadz apalagi menekankan agar daging kurban tidak hanya berakhir di rumah orang nan berkurban, tetapi sebanyak mungkin mengalir kepada mereka nan membutuhkan. Sebab, di hari raya itu, tidak sepantasnya tetap ada kerabat kita nan menahan lapar sementara sebagian nan lain menikmati kelapangan.
Jamaah khutbah shalat Idul Adha nan dirahmati Allah
Islam tidak menghendaki kesalehan nan egois. Islam menghendaki kesalehan nan membumi, kesalehan nan menghadirkan manfaat, dan kesalehan nan memuliakan manusia. Kita tidak boleh menutup mata jika di sekitar kita tetap banyak saudara-saudara kita nan jarang apalagi nyaris tidak pernah menikmati daging lantaran keterbatasan ekonomi.
Melalui kurban, sekat antara si kaya dan si miskin dilebur. Pada hari itu, kegembiraan tidak boleh hanya dinikmati oleh mereka nan mampu, tetapi kudu dirasakan berbareng oleh seluruh umat. Kurban menjadi jembatan kasih sayang, penyambung persaudaraan, dan peneguh kepedulian sosial.
Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami, dalam Tuhfatul Muhtaj, jilid VI laman 296, disebutkan bahwa kurban disyariatkan sebagai corak kasih sayang kepada orang fakir. Karena itu, dari sisi makna, pendapat az-Zarkasyi cukup beralasan, ialah bahwa daging kurban hendaknya diberikan dengan kadar nan dapat mengenyangkan seorang fakir.
Ini menunjukkan sungguh para ustadz sangat menekankan aspek infak dan berbagi, agar faedah kurban betul-betul dirasakan langsung oleh fakir miskin tanpa ditunda-tunda.
Maka dari itu, bagi jamaah nan mempunyai kelapangan rezeki, janganlah ragu untuk berkurban. Karena di dalamnya terdapat bukti cinta kita kepada Allah dan bukti kepedulian kita kepada sesama manusia.
Sebagai penutup, marilah kita camkan baik-baik peringatan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang nan mempunyai keahlian materi, namun enggan berbagi melalui kurban.
Dalam sabda riwayat Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad disebutkan:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barangsiapa nan mempunyai kelapangan rezeki namun dia tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat salat kami.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ (3x)، اَللهُ أَكْبَرُ (3x)، اَللهُ أَكْبَرُ (3x) وَلِلهِ الْحَمْدُ. اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·