Cerita Rasulullah dan Anak Yatim di Hari Raya nan Mengharukan– Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi (wafat 1069 H) dalam kitab an-Nawadir mengisahkan salah satu kisah luar biasa perihal kasih sayang Rasulullah (syafaqah) kepada seorang anak kecil. Momen ini terjadi pada hari raya, tepatnya pada momen di mana setiap anak mini semestinya senang dengannya.
Namun tidak dengan anak mini nan satu ini. Alih-alih senang sebagaimana anak mini pada umumnya, dia justru sedih dan menangis di pinggir jalan lantaran tidak bisa merasakan kebahagiaan nan sama seperti nan dirasakan anak mini lainnya. Dan berikut kisah lengkapnya.
Pagi itu, kota Makkah tampak sangat indah. Orang-orang pergi dari rumah mereka masing-masing untuk menunaikan ibadah shalat hari raya berbareng Rasulullah. Di pinggir jalan, anak-anak bermain sembari tertawa dan apalagi memamerkan pakaian-pakaian terbaik nan mereka gunakan.
Namun di tengah suasana penuh senang itu, terdapat seorang anak mini nan duduk sendirian di perspektif jalan. Ia tidak bermain, berpakaian bagus, dan apalagi tidak tertawa senang sebagaimana teman-temannya nan lain. Ia hanya duduk menyendiri sembari menangis dengan menggunakan busana lusuh.
Rasulullah nan juga sedang keluar menuju tempat shalat sunnah hari raya pun memandang anak mini itu. Maka Nabi berakhir dan mendekatinya, kemudian bertanya:
“Wahai anak kecil, kenapa engkau menangis? Mengapa tidak bermain berbareng teman-temanmu nan lain?”
Ketika Rasulullah bertanya demikian kepada anak mini tersebut, dia tidak tahu bahwa sebenarnya laki-laki nan sedang berdiri di hadapannya dan berbincang kepadanya adalah Rasulullah. Maka dengan bunyi penuh sedih, dia menjawab:
خَلِّ عَنِّي! فَإِنَّ أَبِي مَاتَ فِي غَزْوَةِ كَذَا مَعَ النَّبِيِّ، فَتَزَوَّجَتْ أُمِّي بِزَوْجِ غَيْرِهِ. فَأَكَلَ مَالِي وَأَخْرَجَنِي زَوْجُهَا مِنْ بَيْتِهِ. وَلَيْسَ لِي طَعَامٌ وَلاَ شرَابٌ وَلاَ ثِيابٌ وَلاَ بَيْتٌ آوى إِلَيْهِ، فَلَمَّا رَئيتُ الصِّبْيَانَ ذَوِي الْأَبَاءِ يَلْعَبُوْنَ وَعَلَيْهِمُ الثِّيَابُ تَجَدَّدَ حُزْنِي وَمُصِيْبَتِي، فَلِذَلِكَ بكَيْتُ
Artinya, “Tinggalkan aku! Sesungguhnya ayahku gugur dalam perang berbareng Nabi, kemudian ibuku menikah dengan laki-laki lain. Laki-laki itu menyantap hartaku dan mengusirku dari rumahnya. Aku tidak punya makanan, tidak punya minuman, tidak punya pakaian, dan tidak punya rumah nan bisa saya tempati.
Maka ketika saya memandang anak-anak nan tetap mempunyai ayah nan sedang bermain dengan pakaian-pakaian (baru) mereka, semakin bertambahlah kesedihan dan musibahku. Karena itulah saya menangis.” (Al-Qalyubi, an-Nawadir, [Mesir: Mathba’ah al-Halabi, 1955 M], laman 13).
Mendengar jawaban anak mini itu, Rasulullah kemudian mendekati dan mengulurkan tangannya, selanjutnya Nabi menggenggamnya dan berkata:
أَمَا تَرْضَى أَنْ أَكُونَ لَكَ أَنَا أَبًا، وَعَائِشَةَ أُمًّا، وَفَاطِمَةَ أُخْتًا، وَعَلِيًّا عَمًّا، وَالْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ إِخْوَةً؟
Artinya, “Tidakkah engkau rela jika saya menjadi ayah bagimu, Aisyah menjadi ibu, Fatimah menjadi kerabat perempuan, Ali menjadi paman, serta Hasan dan Husain menjadi kerabat laki-laki (bagimu)?” (An-Nawadir, 14).
Mendengar rayuan Rasulullah tersebut, sontak dia langsung mendongak dan kaget. Ia nan sebelumnya tidak mengetahui siapa sosok nan berdiri di hadapannya, seketika mengenali bahwa dia adalah Rasulullah. Maka tanpa membuang waktu, dia langsung menjawab:
“Bagaimana mungkin saya tidak mau, wahai Rasulullah.”
Maka Rasulullah pun membawa anak mini itu menuju rumahnya. Sesampainya di sana, Nabi langsung mengenakan busana nan sangat bagus baginya, serta memberinya makanan nan lezat hingga dia sangat kenyang.
Kemudian tidak lama setelah itu, dia keluar dari rumah Rasulullah dengan wajah senang dan berseri-seri, lampau berlari-lari dengan hati nan ceria menuju tempat teman-teman seumuran dengannya untuk bermain bersama.
Melihat perubahan nan terjadi pada diri anak mini tersebut, teman-temannya nan lain lantas bertanya, “Bukankah tadi Anda tetap menangis sendirian, lantas apa nan membuatmu sangat bahagia?” Maka anak itu pun menjawab:
كنت جائعا فشبعت وعاريا فاكتسيت ويتيما فصارا رسول الله أبي وعائشة أمي وفاطمة أختي وعلي عمي
Artinya, “Dulu saya lapar, lampau saya kenyang. Dulu saya telanjang, lampau saya berpakaian. Dan dulu saya yatim, lampau Rasulullah menjadi ayahku, Aisyah menjadi ibuku, Fatimah menjadi saudariku, dan Ali menjadi pamanku.”
Mendengar jawaban darinya, teman-temannya nan lain lantas berkata: “Alangkah bahagianya jika seandainya kami bisa mengalami perihal nan sama sepertinya.”
Sebagaimana dicatat oleh Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi, kisah kehidupan anak mini tersebut terus melangkah dengan penuh senang di bawah naungan Rasulullah dan keluarganya nan mulia.
Namun setelah beberapa tahun hidup berbareng Rasulullah dengan penuh bahagia, Nabi pun wafat. Maka anak tersebut sangat terpukul dan sedih ketika ditinggal oleh Sang Nabi untuk selama-lamanya. Maka dia pun pergi melangkah keluar rumah sembari berkata:
“Barulah sekarang saya kembali menjadi anak yatim, barulah sekarang saya menjadi orang asing nan tidak mempunyai apa-apa.”
Kendati demikian, kasih sayang terhadap anak tersebut tidak berakhir dengan wafatnya Rasulullah. Sebagaimana nan dicatat oleh Al-Qalyubi, setelah Nabi wafat, Abu Bakar nan merawat dan mengasuhnya, sebagaimana nan Rasulullah lakukan kepadanya.
Demikian kisah tentang anak mini nan ditemukan oleh Rasulullah di pagi hari raya dalam keadaan menangis, kemudian diangkat menjadi bagian dari keluarganya nan mulia.
Semoga kita bisa meneladani kisah ini, khususnya di momen-momen senang seperti hari raya, di mana tak sedikit anak-anak yatim di sekitar kita justru menangis lantaran tidak merasakan kebahagiaan nan sama. Wallahu a’lam bisshawab.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·