Keutamaan Membaca Al-Qur’an Setiap Hari

Sedang Trending 9 jam yang lalu
Keutamaan Membaca Al-Qur’an Setiap HariKeutamaan Membaca Al-Qur’an Setiap Hari

– Al-Qur’an bukan kitab biasa. Ia turun dari langit. Ia datang dengan wahyu. Ia dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. Ia turun berangsur-angsur, selama kurang lebih 23 tahun. Dimulai dengan Al-Fatihah. Ditutup dengan An-Nas. Nah berikut keistimewaan membaca Al-Qur’an setiap hari.

Karena itu, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan. Ia adalah petunjuk. Ia adalah cahaya. Ia adalah jalan pulang. Dari sinilah semua keutamaannya bermula. Dan dari sinilah seorang mukmin semestinya menata harinya.

Sebab, membaca Al-Qur’an itu bukan aktivitas sampingan. Ia adalah ibadah. Bahkan, ibadah nan paling dekat dengan jiwa. Hanya dengan membaca satu huruf saja, pahala sudah dijanjikan. Apalagi jika dibaca dengan hati nan hadir. Apalagi jika dibaca dengan mengerti maknanya.

Allah berfirman dalam surah Fathir ayat 29-30;

ان لَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang nan selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki nan Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan nan tidak bakal merugi”. “Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Lalu Nabi Saw menegaskan perihal itu dengan sabda nan sangat terkenal. Riwayat al-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: “Siapa nan membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu kebaikan dengan referensi tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya, dan saya tidak mengatakan الم satu huruf bakal tetapi “alif” satu huruf, “lam” satu huruf dan “mim” satu huruf.”

Inilah keistimewaannya. Al-Qur’an memberi pahala hanya lantaran dibaca. Bahkan sebelum dipahami. Sebelum direnungi. Sebelum diamalkan. Tetapi tentu saja, jika dibaca berbareng pemahaman, nilainya bertambah. Bertambah ilmu. Bertambah cahaya. Bertambah dekat kepada Allah.

Lalu di mana letak keagungannya? Di sini. Di kitab lain, membaca belum tentu berbobot ibadah dengan sendirinya. Harus paham. Harus tahu maksudnya. Harus mengerti isinya. Tetapi Al-Qur’an tidak demikian. Ia dibaca saja sudah bernilai. Ia dilafalkan saja sudah berbuah kebaikan.

Kedua, Al-Qur’an memberi syafaat kepada pembacanya. Ini bukan janji biasa. Ini janji hari akhir. Saat manusia berdiri sendiri. Saat kebaikan ditimbang. Saat tidak ada nan bisa menolong selain izin Allah.

Hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Umamah al-Bahili menyebutkan:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Artinya: “Bacalah Alquran lantaran sesungguhnya dia bakal datang pada hari hariakhir sebagai pemberi syafa’at kepada orang nan membacanya.”

Betapa besar kedudukan pembaca Al-Qur’an. Ia tidak dibiarkan sendiri. Ia punya pembela. Ia punya saksi. Ia punya syafaat. Dan pembela itu bukan manusia. Melainkan kalam Allah nan selama ini dia baca dengan setia.

Ketiga, membaca Al-Qur’an membersihkan hati. Ini penting. Sebab masalah manusia bukan hanya pada tubuhnya. Bukan hanya pada lisannya. Tapi pada hatinya. Hati nan lama dibiarkan gelap bakal berkarat. Hati nan jauh dari dzikir bakal mengeras. Hati nan jarang disentuh wahyu bakal kehilangan arah.

Dari Ibnu Umar, Nabi Saw bersabda:

اِنَّ هَذِهِ القُلُوْبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الحَدِيْدُ. قَالُوا : فَمَا جَلَاءُهَا ؟ قَالَ : تِلَاوَةُ القرْأنِ

Artinya: “sesungguhnya hati seseorang bisa karat sebagaimana berkaratnya besi. Sahabat bertanya; Lalu gimana membersihkan karat itu? Nabi Saw menjawab; membaca Alquran.”

Kalimat ini pendek. Tetapi dalam maknanya sangat dalam. Hati itu bisa berdebu. Bisa kusam. Bisa keras. Dan obatnya bukan ramai-ramai. Bukan pujian manusia. Bukan jabatan. Obatnya adalah tilawah. Bacaan nan rutin. Bacaan nan hidup. Bacaan nan menetes ke batin.

Keempat, membaca Al-Qur’an tidak hanya menenangkan. Ia juga mendatangkan jawaban besar. Setiap huruf. Setiap bacaan. Setiap lantunan. Tidak ada nan sia-sia.

Hadis riwayat al-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud kembali menegaskan:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الۤــمّۤ حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: “Barang siapa membaca satu huruf saja dari al-Qur’an, maka dia bakal mendapat satu pahala kebaikan, sedangkan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif, satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.”

Di sini Islam mengajar kita satu perihal penting. Kecil dalam pandangan manusia belum tentu mini di sisi Allah. Satu huruf. Sepuluh kebaikan. Maka, apa argumen kita untuk meremehkan satu halaman? Satu ayat? Satu surat? Bahkan satu momen berbareng Al-Qur’an?

Kelima, membaca Al-Qur’an adalah ibadah nan paling utama. Ini bukan sekadar kebaikan tambahan. Ini pusat. Ini inti. Ini kemuliaan.

Dari Al-Nu’man bin Bisyr, Nabi Saw bersabda:

أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al-Quran.

Dan dalam riwayat lain, Nabi Saw bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik Anda adalah orang nan belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” [HR. al-Bukhari]

Artinya jelas. Al-Qur’an bukan untuk disimpan. Bukan untuk dipajang. Bukan untuk dibaca musiman. Ia kudu dipelajari. Dihidupkan. Diajarkan. Dan dijadikan napas keseharian.

Keenam, Al-Qur’an memberi agunan rezeki dan kesejahteraan. Ini terdengar besar. Tetapi justru di situlah letak rahasianya. Orang nan disibukkan oleh Al-Qur’an tidak dibiarkan kosong oleh Allah.

Dalam sabda qudsi, Allah berfirman:

مَنْ شَغَلَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ ثَوَابِ السَّائِلِينَ وَفَضَلُ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ

Siapa saja nan disibukkan membaca Al-Quran, hingga tak sempat dzikir pada-Ku dan meminta pada-Ku, maka Aku bakal memberinya jawaban terbaik melampaui orang-orang nan meminta. Ingatlah, keistimewaan Al-Quran atas kalimat-kalimat nan lain seperti keistimewaan Allah atas makhluk-Nya.

Ini bukan janji kosong. Ini langkah Allah memuliakan orang nan mendahulukan kalam-Nya dibanding kegaduhan dunia. Saat orang lain sibuk mengejar banyak hal, pembaca Al-Qur’an sedang dibayar dengan sesuatu nan lebih luas. Lebih dalam. Lebih berkah.

Ketujuh, Al-Qur’an adalah obat penyejuk hati. Ia bukan hanya referensi pahala. Ia juga referensi penyembuh.

Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan kami turunkan dari al-Qur’an suatu penawar (penyembuh) dan rahmat bagi orang orang nan beriman. Dan al-Qur’an itu tidaklah menambah terhadap orang orang nan dhalim melainkan kerugian.”

Apa artinya? Al-Qur’an bukan hanya menyentuh lidah. Ia juga menyentuh luka batin. Ia menenangkan nan gelisah. Ia menguatkan nan goyah. Ia menghidupkan nan letih. Ia menjadi rahmat bagi nan membuka diri kepadanya.

Kedelapan, pembaca Al-Qur’an diakui sebagai family Allah di bumi. Ini martabat nan sangat tinggi. Sangat mulia. Sangat layak membikin seorang mukmin menjaga hubungannya dengan Al-Qur’an.

Nabi Saw bersabda:

مَنْ يَرْجُو لِقَاءَ الله فَلْيُكْرِمْ أَهْلَ الله قِيْلَ يَا رُسُوْلَ الله هَلْ لِلّه عَزَّ وَجَلَّ أَهْلٌ قَالَ نَعَمْ , قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ الله , قَالَ أَهْلُ اللهِ فِى اْلأَرْضِ اَلَّذِيْنَ يَقْرَؤُوْنَ اْلقُرَأۤنَ .  أَلَا مَنْ أَكْرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَهُ اللهُ وَأَعْطَاهُ اْلجَنَّةَ وَمَنْ أَهَانَهُمْ فَقَدْ أَهَانَهُ اللهُ وَأَدْخَلَهُ النَّارَ

Artinya: “Barang siapa nan mau berjumpa dengan Allah pada hari kiamat, maka hormatilah family Allah di muka bumi ini. Para sahabat bertanya. “Apakah Allah mempunyai family di muka bumi ini wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,” Ya”. “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?”

Rasulullah menjawab.

“Mereka adalah orang orang nan senang membaca al-Qur’an, itulah family Allah di muka Bumi. Barangsiapa nan menghormati mereka, maka dia bakal dimuliakan dan dimaksukkan kedalam surga-Nya. Dan peralatan siapa nan merendahkan mereka, maka dia bakal dihinakan dan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Maka, siapa nan berbaur dengan Al-Qur’an, dia sedang mendekat ke kemuliaan. Siapa nan memuliakan pembacanya, dia sedang memuliakan kehormatan nan Allah sendiri sebut. Dan siapa nan meremehkannya, dia sedang menutup pintu keberkahan atas dirinya sendiri.

Karena itu, di bulan Ramadhan, di hari-hari nan lapang maupun sempit, Al-Qur’an jangan ditaruh di pinggir. Letakkan dia di tengah. Bacalah dia setiap hari. Tadabburi maknanya. Hidupkan rumah dengan suaranya. Hidupkan hati dengan cahayanya. Sebab Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca. Ia untuk membentuk jiwa.

Mudah-mudahan Allah memberi kita taufik dan hidayah. Agar kita termasuk orang-orang nan senang membaca, memahami, dan menghayati Al-Qur’an. Agar kita tetap dekat dengan kalamullah. Agar hidup kita tidak jauh dari cahaya. Amin ya rabbal ‘alamin.

Demikian esai tentang keistimewaan membaca Al-Qur’an ini. Semoga menjadi pengingat. Dan semoga Al-Qur’an betul-betul menjadi referensi utama kita.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah