
ulekan batu mudah berjamur | foto ilustrasi: Gemini AI
- Ulekan batu alias ulekan dikenal awet dan bisa menghasilkan bumbu nan lebih lembut dibanding perangkat berbahan lain. Meski begitu, tidak sedikit nan menemukan bintik putih, kehijauan, alias bercak hitam pada permukaan ulekan setelah lama disimpan. Kondisi ini sering memunculkan dugaan bahwa ulekan tersebut terbuat dari bahan nan kurang bagus, padahal penyebabnya belum tentu demikian.
Faktanya, batu alam mempunyai pori-pori alami nan dapat menyimpan sedikit air dan sisa bahan makanan. Jika kelembapan tetap tersisa saat ulekan disimpan di tempat tertutup, jamur bisa tumbuh di permukaannya. Dengan memahami penyebabnya, ulekan batu dapat dirawat lebih tepat sehingga tetap bersih dan nyaman digunakan.
Kenapa Ulekan Batu Mudah Berjamur?
Jamur tumbuh lantaran memerlukan kelembapan, udara, dan sumber makanan. Ketiga aspek tersebut bisa ditemukan pada ulekan nan tidak dibersihkan alias dikeringkan secara menyeluruh setelah dipakai.
Selain itu, batu alam mempunyai pori-pori berukuran sangat kecil. Meski tidak terlihat, pori-pori tersebut dapat menyerap air, minyak, dan sisa ramuan sehingga menciptakan lingkungan nan mendukung pertumbuhan jamur andaikan disimpan dalam kondisi lembap.
Penyebab Ulekan Batu Mudah Berjamur
1. Pori-Pori Batu Menyimpan Air
Batu alam seperti andesit mempunyai pori-pori alami nan bisa menahan sedikit air setelah dicuci. Air nan tertinggal di dalam pori tidak selalu langsung menguap. Jika penyimpanan kurang mempunyai sirkulasi udara, kelembapan bakal memperkuat lebih lama.
2. Sisa Bumbu Masuk ke Dalam Permukaan Batu
Cabai, bawang, kemiri, kacang, maupun rempah mengandung minyak alami. Sebagian minyak dan partikel makanan dapat masuk ke pori-pori batu ketika proses mengulek berlangsung. Bila tidak dibersihkan hingga tuntas, sisa tersebut menjadi sumber nutrisi bagi jamur.
3. Disimpan Saat Masih Lembap
Cobek nan hanya dilap lampau langsung dimasukkan ke lemari mempunyai akibat lebih tinggi ditumbuhi jamur. Udara nan minim membikin proses pengeringan berjalan lebih lambat.
4. Tempat Penyimpanan Kurang Memiliki Sirkulasi Udara
Lemari dapur nan tertutup rapat condong lebih lembap dibanding rak terbuka. Kondisi tersebut membikin spora jamur lebih mudah berkembang andaikan tetap ada air alias sisa makanan pada cobek.
Perbandingan Material Ulekan dan Risiko Berjamur
| 🪨 Batu alam | Sedang | Sedang | Air dan minyak masuk ke pori-pori batu. | Sikat hingga bersih, keringkan, lampau jemur secara berkala. |
| 🧱 Semen / Batu Campuran | Tinggi | Tinggi | Menyerap air lebih banyak dibanding batu alam. | Perlu dikeringkan lebih lama sebelum disimpan. |
| 🪵 Kayu | Tinggi | Tinggi | Serat kayu menyimpan air dan sisa bumbu. | Jangan direndam, segera cuci dan keringkan setelah dipakai. |
| 🏺 Keramik | Rendah | Rendah | Permukaannya rapat sehingga air dan sisa ramuan susah meresap. | Cukup dicuci bersih lampau dikeringkan sebelum disimpan. |
Hack Membersihkan Ulekan Batu nan Berjamur
Jamur nan baru muncul biasanya tetap berada di permukaan sehingga dapat dibersihkan tanpa bahan kimia keras. Pembersihan sebaiknya dilakukan segera agar noda tidak semakin susah dihilangkan. Setelah bersih, pastikan ulekan betul-betul kering sebelum digunakan kembali.
Bahan
- Garam kasar
- Jeruk nipis alias sedikit cuka
- Air hangat
- Sikat berbulu sedang alias keras
Langkah
1. Bilas ulekan menggunakan air hangat.
2. Taburkan garam kasar pada permukaan nan berjamur.
3. Gosok menggunakan irisan jeruk nipis alias tambahkan sedikit cuka.
4. Sikat seluruh permukaan hingga sisa jamur dan ramuan terangkat.
5. Bilas kembali menggunakan air bersih.
6. Jemur alias angin-anginkan sampai betul-betul kering sebelum disimpan.
Hack Mencegah Ulekan Batu Berjamur
Perawatan sederhana setelah digunakan jauh lebih efektif dibanding membersihkan jamur nan sudah muncul. Kebiasaan ini juga membantu menjaga kebersihan ulekan dalam jangka panjang. Pengeringan menjadi langkah nan tidak boleh dilewatkan.
Langkah
1. Cuci ulekan segera setelah selesai digunakan.
2. Gunakan sikat agar sisa ramuan di pori-pori ikut terangkat.
3. Bilas menggunakan air hangat jika lenyap mengulek bahan berminyak.
4. Keringkan di tempat nan mempunyai sirkulasi udara baik.
5. Jemur secara berkala, terutama saat cuaca cerah.
6. Simpan ulekan di rak terbuka alias tempat nan tidak lembap.
Tanda Ulekan Batu Perlu Dibersihkan Lebih Menyeluruh
Beberapa tanda menunjukkan tetap ada sisa bahan nan tertinggal pada permukaan batu, antara lain:
- Muncul bercak putih, hijau, alias hitam.
- Permukaan terasa licin meski sudah dicuci.
- Tercium aroma apek saat ulekan bakal digunakan.
- Warna permukaan berubah tidak merata.
- Masih terdapat sisa ramuan pada cekungan batu.
FAQ
1. Apakah ulekan batu nan berjamur tetap bisa dipakai?
Bisa, selama jamur hanya berada di permukaan dan sukses dibersihkan hingga bersih, kemudian ulekan dikeringkan secara menyeluruh sebelum digunakan kembali.
2. Apakah sabun cuci piring kondusif digunakan untuk membersihkan ulekan batu?
Boleh digunakan secukupnya, terutama jika lenyap mengulek bahan berminyak. Setelah itu, bilas hingga tidak ada sisa sabun nan tertinggal.
3. Seberapa sering ulekan batu perlu dijemur?
Tidak kudu setiap selesai dipakai. Penjemuran berkala, terutama setelah pencucian alias saat cuaca cerah, sudah membantu mengurangi kelembapan di dalam pori batu.
4. Apakah semua jenis batu mempunyai pori-pori?
Ya. Sebagian besar batu alam mempunyai pori-pori alami, hanya tingkat porositasnya nan berbeda-beda tergantung jenis batunya.
5. Apakah menyimpan ulekan di dekat kompor lebih baik?
Belum tentu. Area dekat kompor bisa terkena uap dan minyak saat memasak, sehingga tetap perlu dipastikan ulekan berada di tempat nan bersih dan mempunyai sirkulasi udara nan baik.
(brl/tin)
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·