Benarkah Ada Larangan Bepergian pada Awal Bulan Safar?

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Benarkah Ada Larangan Bepergian pada Awal Bulan Safar?Benarkah Ada Larangan Bepergian pada Awal Bulan Safar?

– Setiap kali bulan Safar tiba, pesan-pesan berantai kembali bermunculan. Ada nan mengingatkan agar tidak berjalan jauh, tidak menggelar pernikahan, apalagi tidak memulai usaha. Alasannya nyaris seragam: Safar adalah bulan apes sehingga sebaiknya dihindari untuk memulai sesuatu nan penting.

Keyakinan semacam ini bukanlah perihal baru. Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab Jahiliyah telah menganggap bulan Safar sebagai pertanda kesialan. Mereka menunda perjalanan, mengubah rencana, apalagi merasa resah hanya lantaran memasuki bulan tersebut. Islam kemudian datang bukan untuk membenarkan kepercayaan itu, melainkan meluruskannya.

Rasulullah bersabda:

وحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ ، حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ ، أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ ، وَلَا غُولَ وَسَمِعْتُ أَبَا الزُّبَيْرِ يَذْكُرُ ، أَنَّ جَابِرًا فَسَّرَ لَهُمْ قَوْلَهُ : وَلَا صَفَرَ ، فَقَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ : الصَّفَرُ : الْبَطْنُ ، فَقِيلَ لِجَابِرٍ : كَيْفَ ؟ قَالَ : كَانَ يُقَالُ دَوَابُّ الْبَطْنِ ، قَالَ وَلَمْ يُفَسِّرِ الْغُولَ ، قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ : هَذِهِ الْغُولُ : الَّتِي تَغَوَّلُ

Artinya; Muhammad bin Hatim menceritakan kepadaku, dia berkata: Rauh bin ‘Ubadah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata:

“Aku mendengar Nabi SAW bersabda:  ‘Tidak ada penularan (yang terjadi dengan sendirinya), tidak ada Safar, dan tidak ada ghul.’

Abu az-Zubair juga menyebut bahwa Jabir menjelaskan kepada mereka makna sabda beliau, ‘tidak ada Safar’. Abu az-Zubair berkata: ‘Safar’ nan dimaksud adalah penyakit di dalam perut.

Lalu dikatakan kepada Jabir, ‘Bagaimana maksudnya?’ Jabir menjawab, ‘Dahulu orang-orang mengatakan bahwa ada binatang-binatang (atau cacing-cacing) di dalam perut (yang menular alias menyebabkan penyakit).’

Jabir tidak menjelaskan makna ‘ghul’. Abu az-Zubair berkata: ‘Ghul itu adalah makhluk (yang menurut kepercayaan orang Arab) suka menampakkan diri dan menyesatkan orang di padang pasir.’ (HR. Imam Muslim)

Hadis ini menghapus beragam kepercayaan nan berkembang di tengah masyarakat Arab saat itu. Mengenai makna “Safar”, para ustadz memang mempunyai beberapa penafsiran.

Dalam riwayat Jabir bin Abdullah, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, “Safar” dijelaskan sebagai kepercayaan tentang penyakit alias hewan di dalam perut nan diyakini dapat menular dengan sendirinya. Sementara ustadz lain memahami “Safar” sebagai bulan Safar, ialah penolakan Nabi terhadap dugaan bahwa bulan tersebut membawa kesialan.

Sekilas kedua penafsiran itu tampak berbeda. Namun jika dicermati lebih jauh, keduanya berjumpa pada satu pesan nan sama: Islam menolak kepercayaan bahwa sesuatu mempunyai pengaruh jelek secara berdikari tanpa kehendak Allah. Baik penyakit, waktu, tempat, maupun bulan, semuanya hanyalah makhluk. Tidak ada satu pun nan dapat mendatangkan faedah alias mudarat dengan kekuatannya sendiri.

Karena itu, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaiful Ma’arif menjelaskan bahwa menganggap bulan Safar sebagai pembawa kesialan termasuk corak ṭiyarah nan dilarang. Ia menulis:

ولعل هذا القول أشبه الأقوال ، وكثير من الجهال يتشاءم بصفر وربما ينهى عن السفر فيه ، والتشاؤم بصفر هو من جنس الطيرة المنهي عنها ، وكذلك التشاؤم بالأيام كيوم الاربعاء .

Artinya;Barangkali pendapat inilah nan paling mendekati kebenaran. Banyak orang jahiliyah menganggap bulan Safar sebagai pembawa kesialan, apalagi terkadang mereka melarang berjalan pada bulan tersebut.

Menganggap bulan Safar sebagai pembawa kesialan termasuk bagian dari ṭiyarah (anggapan apes alias takhayul) nan dilarang. Demikian pula menganggap hari-hari tertentu sebagai pembawa kesialan, seperti hari Rabu. (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif, (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1997) laman 89

Keterangan Ibnu Rajab menunjukkan bahwa persoalannya bukan terletak pada perjalanan itu sendiri. nan dikritik adalah kepercayaan bahwa waktu tertentu mempunyai kekuatan gaib untuk menentukan nasib manusia. Cara berpikir seperti inilah nan dibongkar oleh Islam sejak awal.

Islam justru mengajarkan bahwa keberuntungan dan musibah tidak ditentukan oleh pergantian bulan. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Karena itu, seorang Muslim boleh memilih waktu berjalan dengan mempertimbangkan cuaca, kesehatan, keamanan, alias kesiapan bekal.

Semua itu merupakan ikhtiar nan rasional. Akan tetapi, jika perjalanan dibatalkan semata-mata lantaran takut “sialnya bulan Safar”, maka keputusan tersebut tidak lagi bertumpu pada pertimbangan syariat, melainkan pada prasangka nan tidak mempunyai dasar.

Di sinilah letak keelokan aliran Islam. Islam tidak mengajarkan rasa takut kepada waktu, melainkan mengajarkan ketakwaan kepada Allah. Sebab, tidak ada bulan nan bisa mencelakakan manusia. nan menentukan baik dan jelek bukanlah kalender, melainkan kehendak Allah dan ikhtiar manusia sendiri.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah