Tradisi Ulama Salaf dalam Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Tradisi Ulama Salaf dalam Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘banTradisi Ulama Salaf dalam Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban

– Malam pertengahan bulan Sya‘ban (Nisfu Sya‘ban) sejak dulu telah mendapat perhatian besar dari para ustadz dan generasi awal umat Islam. Malam ini menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah, doa, dan muhasabah.

Ibnu Hajar al-Maliki dalam kitab al-Madkhal (Jilid I, hlm. 299) menjelaskan bahwa para salaf sangat mengagungkan malam Nisfu Sya‘ban. Mereka tidak menunggu malam itu datang begitu saja, tetapi sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk menyambutnya.

Ketika malam tersebut tiba, mereka telah siap menghidupkannya dengan beragam corak ibadah dan penghormatan terhadap syiar-syiar agama. Inilah nan disebut sebagai corak pengagungan nan sesuai dengan tuntunan syariat. Simak penjelasan berikut ini;

وكان السلف رضي الله عنهم يُعَظِّمونها -أي: ليلة النصف من شعبان-، ويُشَمِّرُون لها قبل إتيانها، فما تأتيهم إلا وَهُمْ متأهِّبون للقائها، والقيام بحرمتها على ما قد عُلِمَ من احترامهم للشعائر على ما تَقَدَّم ذِكْرُه؛ هذا هو التعظيم الشرعي لهذه الليلة.

Artinya: “Para salaf dulu mengagungkannya, ialah malam pertengahan bulan Sya‘ban, dan mereka bersungguh-sungguh mempersiapkan diri sebelum kedatangannya. Maka malam itu tidak datang kepada mereka selain mereka sudah siap menyambutnya dan memuliakannya, sebagaimana telah diketahui tentang penghormatan mereka terhadap syiar-syiar agama. Inilah corak pengagungan syar‘i terhadap malam tersebut.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa pengagungan Nisfu Sya‘ban bukanlah bid‘ah tercela, melainkan bagian dari pengamalan syiar kepercayaan nan berakar pada teladan generasi terbaik umat Islam.

Senada dengan itu, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaiful Ma‘arif laman 137 menjelaskan bahwa para tabi‘in dari wilayah Syam (Syria), seperti Khalid bin Ma‘dan, Makhul, dan Luqman bin ‘Amir—sangat mengagungkan malam Nisfu Sya‘ban. Mereka bersungguh-sungguh mengisinya dengan beragam ibadah, dan dari merekalah umat Islam kemudian mengenal keistimewaan serta pengagungan terhadap malam tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban bukan sekadar ibadah pribadi, melainkan telah menjadi tradisi keilmuan dan spiritual nan diwariskan dari generasi ke generasi.

وليلة النصف من شعبان: كان التابعون من أهل الشام؛ كخالد بن معدان ومكحول ولقمان بن عامر وغيرهم، يعظمونها ويجتهدون فيها في العبادة، وعنهم أخذ الناس فضلها وتعظيمها.

Artinya: “Dan malam pertengahan bulan Sya‘ban: para tabi‘in dari kalangan masyarakat Syam, seperti Khalid bin Ma‘dan, Makhul, dan Luqman bin ‘Amir serta nan lainnya, mengagungkannya dan bersungguh-sungguh dalam beragama pada malam tersebut. Dari merekalah orang-orang mengambil (mengetahui) keistimewaan dan pengagungan terhadap malam itu.”

Di sini terlihat bahwa tradisi menghidupkan Nisfu Sya‘ban bukan sekadar ibadah personal, tetapi telah menjadi warisan kolektif para ustadz tabi‘in nan kemudian diwariskan kepada generasi setelahnya.

Lebih jauh lagi, praktik umat Islam di Makkah juga menunjukkan pengagungan luar biasa terhadap malam nisfu Sya’ban. Simak keterangan Al-Fakihi dalam Akhbar Makkah, jilid III, laman 64, dia berkata;

ذِكْرُ عمل أهل مكة ليلة النصف من شعبان واجتهادهم فيها لفضلها: وأهل مكة فيما مضى إلى اليوم؛ إذا كان ليلة النصف من شعبان خرج عامة الرجال والنساء إلى المسجد، فصلَّوا، وطافُوا، وأحيَوْا ليلتهم حتى الصباح بالقراءة في المسجد الحرام، حتى يختموا القرآن كله، ويُصلُّوا، ومَن صلَّى منهم تلك الليلة مائة ركعةٍ يقرأ في كل ركعة بـ﴿الْحَمْدُ﴾ و﴿قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ﴾ عشر مرات، وأخذوا من ماء زمزم تلك الليلة، فشربوه، واغتسلوا به، وخبَّؤُوه عندهم للمرضى، يبتغون بذلك البركة في هذه الليلة، ويروى فيه أحاديث كثيرة.

Artinya: “Disebutkan tentang ibadah masyarakat Makkah pada malam pertengahan bulan Sya‘ban dan kesungguhan mereka dalam menghidupkannya lantaran keutamaannya: Penduduk Makkah dari masa lampau hingga sekarang, andaikan tiba malam pertengahan bulan Sya‘ban, kebanyakan laki-laki dan wanita keluar menuju masjid, lampau mereka shalat, thawaf, dan menghidupkan malam mereka hingga pagi dengan membaca Al-Qur’an di Masjidil Haram sampai mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an, serta melaksanakan shalat.

Di antara mereka ada nan shalat seratus rakaat pada malam itu, membaca dalam setiap rakaat surah Al-Fatihah dan surah Al-Ikhlas sepuluh kali. Mereka juga mengambil air Zamzam pada malam itu, lampau meminumnya, mandi dengannya, dan menyimpannya untuk orang-orang sakit, dengan angan memperoleh keberkahan pada malam tersebut. Dan diriwayatkan tentang perihal ini banyak hadis.”

Dari keterangan-keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban adalah praktik nan mempunyai dasar kuat dalam tradisi ustadz salaf dan umat Islam generasi awal. Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai corak ibadah tertentu, namun kesepakatan para ustadz terletak pada prinsip utama: menghidupkan malam tersebut dengan ibadah, doa, istighfar, dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Oleh lantaran itu, sikap moderat nan diajarkan Ahlussunnah wal Jama‘ah adalah menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban dengan penuh keikhlasan, tanpa menyalahkan nan mengamalkan dan tanpa menganggap wajib apa nan berkarakter sunnah.

Dengan demikian, Nisfu Sya‘ban menjadi momentum spiritual untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah