Titane Review: Tubuh, Identitas, dan Cinta dalam Bentuk yang Paling Radikal

Sedang Trending 15 jam yang lalu

“Titane” (2021) karya Julia Ducournau adalah salah satu movie paling provokatif dalam dasawarsa terakhir—bukan hanya lantaran keberaniannya menampilkan tubuh secara ekstrem, tetapi juga lantaran kemampuannya meruntuhkan pemisah genre. Pemenang Palme d’Or di Festival Film Cannes ini bergerak di wilayah body horror, thriller, sekaligus drama emosional nan anehnya terasa sangat personal.

Film ini mengikuti Alexia, seorang wanita dengan pelat titanium di kepalanya akibat kecelakaan masa kecil. Sejak awal, “Titane” menetapkan tone nan dingin dan tidak nyaman. Alexia tumbuh menjadi sosok nan teralienasi, dengan relasi nan kompleks terhadap tubuh, kekerasan, dan hasrat. Narasi kemudian berkembang ke arah nan semakin tidak terduga, termasuk hubungan nan sangat tidak konvensional dengan mesin, hingga pelarian identitas nan membawanya berjumpa dengan seorang laki-laki nan kehilangan anaknya.

Dari sisi script dan screenplay, Julia Ducournau menunjukkan kontrol penuh terhadap visi nan sangat spesifik. Naskahnya tidak mengikuti struktur tradisional, apalagi condong menolak ekspektasi naratif. Dialog sangat minim, dan banyak info disampaikan melalui gestur, tubuh, dan visual. Screenplay ini bekerja lebih sebagai pengalaman sensorik daripada cerita linear. Ini membikin movie terasa menantang, tetapi juga memberikan ruang interpretasi nan luas.

Plot dalam “Titane” bergerak dalam dua fase nan sangat berbeda. Babak pertama terasa seperti thriller sadis nan dipenuhi kekerasan dan absurditas, sementara babak kedua berubah menjadi drama nan lebih intim tentang identitas dan hubungan manusia. Pergeseran ini bisa terasa disorienting, tetapi justru menjadi kekuatan utama film—menunjukkan bahwa di kembali ekstremitas visual, ada inti emosional nan kuat. Namun, tidak semua penonton bakal menerima transisi ini dengan mudah.

Dalam aspek sinematografi, movie ini sangat stylized. Penggunaan pencahayaan neon, warna kontras, dan framing nan sering kali menempatkan tubuh sebagai objek utama menciptakan estetika nan khas. Kamera tidak hanya merekam, tetapi juga “merasakan”—mengikuti aktivitas tubuh dengan intensitas nan nyaris invasif. Visual dalam “Titane” sering kali bagus sekaligus mengganggu, menciptakan ambiguitas antara daya tarik dan repulsi.

Akting dari Agathe Rousselle sebagai Alexia menjadi pusat movie ini. Ini adalah performa nan sangat fisikal, dengan ekspresi nan sering kali ditahan dan disampaikan melalui bahasa tubuh. Transformasi karakter nan dia jalani terasa ekstrem namun tetap meyakinkan. Vincent Lindon sebagai Vincent memberikan kontras emosional nan penting—rapuh, penuh kehilangan, namun juga penuh kebutuhan bakal koneksi. Interaksi keduanya menjadi inti emosional movie nan tak terduga.

Titane Review

Dari sisi penyutradaraan, Julia Ducournau menunjukkan keberanian nan jarang ditemukan. Ia tidak mencoba membikin movie ini “mudah” alias “nyaman” untuk ditonton. Sebaliknya, dia mendorong batas—baik secara visual maupun tematik. Namun, keberanian ini juga datang dengan risiko: movie ini bisa terasa terlalu absurd alias apalagi pretensius bagi sebagian penonton.

Kelemahan utama “Titane” terletak pada aksesibilitasnya. Struktur nan tidak konvensional dan konten nan ekstrem membuatnya susah dijangkau oleh audiens nan lebih luas. Selain itu, beberapa simbolisme terasa terlalu ambigu, sehingga pesan nan mau disampaikan tidak selalu jelas.

Secara keseluruhan, “Titane” adalah karya nan berani, unik, dan sangat personal. Ia bukan movie nan mudah dinikmati, tetapi sebagai karya seni, dia mempunyai kekuatan nan signifikan dan susah dilupakan.

Film ini tidak menawarkan moral secara langsung, tetapi membuka ruang refleksi tentang identitas, tubuh, dan kebutuhan manusia bakal koneksi. Dalam bumi nan semakin terfragmentasi, “Titane” menunjukkan bahwa apalagi dalam corak nan paling asing sekalipun, manusia tetap mencari cinta dan penerimaan.

Dari sisi dampak budaya, “Titane” memperkuat posisi body horror sebagai medium eksplorasi identitas dan kelamin dalam sinema modern. Film ini juga menunjukkan bahwa karya nan ekstrem dan eksperimental tetap mempunyai tempat di panggung utama perfilman dunia, sekaligus mendorong pemisah tentang apa nan bisa diterima sebagai “narasi” dalam sinema.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura