Dunia mode bukan lagi sekadar tentang siapa nan mengenakan Chanel musim lalu, melainkan tentang siapa nan menguasai algoritma TikTok hari ini. “The Devil Wears Prada 2” datang membawa beban berat untuk menjawab pertanyaan besar: apakah sang legenda, Miranda Priestly, tetap mempunyai tempat di bumi nan sudah tidak lagi membaca majalah fisik?
Disutradarai dengan kejelian nan tajam, movie ini bukan sekadar upaya mengeruk untung dari nostalgia, melainkan studi karakter nan mendalam tentang kekuasaan, adaptasi, dan nilai nan kudu dibayar untuk tetap berada di puncak.
Dua dasawarsa setelah movie pertamanya menjadi kejadian budaya, “The Devil Wears Prada 2” (2026) kembali mencoba menavigasi lanskap industri fashion dan media nan telah berubah drastis. Disutradarai oleh David Frankel dan kembali menghadirkan Meryl Streep, Anne Hathaway, serta Emily Blunt, movie ini tidak sekadar menjadi nostalgia, tetapi juga upaya membaca ulang relevansi kekuasaan media fashion di era digital dan influencer culture.
Pujian patut diberikan kepada sutradara David Frankel dan penulis skenario Aline Brosh McKenna, nan telah menolak permintaan terus-menerus untuk sekuel selama 20 tahun, bersikeras bahwa mereka hanya bakal menggarap kembali ‘Runway’ ketika cerita nan tepat muncul. Alih-alih kembali pada tema nan sama dengan movie pertama sepenuhnya, mereka memajukan cerita ke lanskap jurnalisme nan bergolak saat ini.

Naskah nan ditulis untuk “The Devil Wears Prada 2” mengambil lompatan waktu nan berani. Kita tidak lagi memandang Andy Sachs sebagai asisten nan tertindas, melainkan sebagai seorang wartawan mapan nan sekarang berhadapan dengan dilema etik di tengah matinya media cetak. Namun, pusat gravitasi movie ini tetaplah Miranda Priestly. Miranda tidak terlihat lebih tua di sekuel ini, begitu pula Nigel, nan diperankan oleh Stanley Tucci, tetap menjabat sebagai wakilnya nan setia, berpengalaman, dan diam-diam melankolis.
Plot utama berkisar pada perjuangan Miranda menyelamatkan imperium Elias-Clark dari kebangkrutan, sementara dia kudu berhadapan dengan mantan asistennya, Emily Charlton, nan sekarang menjadi pelaksana handal di Dior nan memegang kendali atas nasib Runway. Konflik utama tidak lagi sekadar soal memperkuat di lingkungan kerja nan toxic, tetapi tentang tumbukan nilai antara legacy media dan ekosistem digital nan lebih demokratis—namun juga lebih chaos.
Dari sisi script dan screenplay, movie ini terasa lebih ambisius dibanding pendahulunya. Penulis mencoba memperluas spektrum isu: dari kapitalisme dalam industri fashion, pemanfaatan tenaga kerja, hingga pergeseran otoritas editorial ke algoritma. Namun, pendekatan ini tidak selalu mulus. Beberapa subplot terasa terlalu padat dan tidak sepenuhnya terintegrasi secara organik.
Dialog tetap pedas dan tajam—terutama ketika melibatkan Miranda. Kali ini terasa penuh sarkasme mengenai kejadian influencer dan budaya instan. Sayangnya kehilangan sebagian dari efisiensi ikonik movie pertama. Ada kecenderungan over-explaining, seolah movie ini mau memastikan relevansinya dipahami secara eksplisit.

Akting menjadi kekuatan paling konsisten dalam movie ini. Meryl Streep kembali membuktikan kontrol performatifnya sebagai Miranda Priestly—dingin, presisi, dan penuh otoritas, namun sekarang dengan lapisan kerentanan nan lebih subtil.
Meryl Streep juga kembali membuktikan bahwa Miranda Priestly adalah salah satu karakter wanita paling ikonik dalam sejarah sinema. Ia memberikan nuansa baru; ada kerapuhan nan disembunyikan di kembali tatapan dinginnya saat dia menyadari bahwa bumi nan dia bangun sedang runtuh. Emily Blunt, sebagai Emily Charlton, tampil luar biasa sebagai tandingan nan sepadan. Transformasinya dari asisten ambisius menjadi pemimpin nan dingin memberikan dinamika kekuasaan nan sangat menarik untuk disimak.
Anne Hathaway memberikan penampilan nan lebih tenang namun penuh empati sebagai Andy. Kehadirannya berfaedah sebagai kompas moral bagi penonton di tengah angin besar ego para karakter lainnya. Chemistry antara ketiga tokoh utama ini tetap sangat kuat, menciptakan momen-momen lucu, penuh ketegangan dan juga sesekali menyentuh hati.

Secara visual, “The Devil Wears Prada 2” adalah sebuah surat cinta untuk New York dan Paris di tahun 2026. Sinematografinya menggunakan palet warna nan lebih kontras dan modern dibandingkan movie pertamanya. Kamera tidak hanya menangkap keelokan pakaian-pakaian couture, tetapi juga kedinginan gedung-gedung pencakar langit nan merepresentasikan isolasi kekuasaan. Transisi antar segmen terasa mulus, mencerminkan ritme industri fashion nan sigap dan tanpa ampun. Fashion dalam movie ini sendiri adalah karakter tambahan; kita memandang pergeseran dari kemewahan nan berlebihan menuju estetika berkepanjangan nan tetap terlihat mahal.
Jika movie pertama identik dengan kegemerlapan dan aspirasi, sekuel ini menghadirkan visual nan lebih dingin dan terkadang steril—merefleksikan bumi nan semakin terdigitalisasi. Penggunaan framing simetris dan ruang kosong menekankan isolasi karakter dalam sistem nan luas namun impersonal. Adegan runway dan editorial shoot tetap menjadi highlight visual, meski tidak lagi terasa se-revolusioner dulu.

Sebagai sekuel, “The Devil Wears Prada 2” sukses mempertahankan relevansi melalui pembacaan ulang konteks zaman, meski tidak sepenuhnya bisa melampaui akibat kultural movie pertamanya. Ini adalah movie nan lebih dewasa, tetapi juga lebih berhati-hati.
Kelemahan utama “The Devil Wears Prada 2” terletak pada identitasnya nan ambigu. Di satu sisi, dia mau menjadi kritik tajam terhadap industri nan berubah; di sisi lain, dia tetap terikat pada formula drama karakter nan familiar. Hasilnya adalah movie nan solid tetapi tidak sepenuhnya tajam—lebih reflektif daripada revolusioner.
Subplot romantis asal-asalan nan menghubungkan Andy dengan seorang developer properti nan membosankan (Patrick Brammall) semestinya dihilangkan dan akhir ceritanya mungkin sedikit terlalu sentimental. Namun, ini tetap merupakan sekuel nan pandai dan memuaskan. “The Devil Wears Prada 2” terasa seperti pembaruan nan apik dari sebuah movie klasik, bukan tiruan murahan nan hancur berantakan.
Pesan moral nan diangkat cukup jelas: penyesuaian adalah keniscayaan, tetapi integritas tetap menjadi kompas utama. Dalam bumi nan terus berubah, mempertahankan nilai tanpa menjadi usang adalah tantangan terbesar.
Dari sisi dampak budaya, movie ini merefleksikan kegelisahan industri kreatif, media, fashion di era digital—khususnya tentang siapa nan sekarang memegang kuasa: lembaga lama alias perseorangan dengan platform. “The Devil Wears Prada 2” tidak memberikan jawaban pasti, tetapi menegaskan bahwa otoritas sekarang berkarakter cair, dan legitimasi kudu terus dinegosiasikan.
Film ini mengingatkan kita bahwa penyesuaian adalah kunci keberlangsungan, namun integritas diri adalah sesuatu nan tidak boleh dikorbankan demi tren. Kekuasaan nan dibangun tanpa empati pada akhirnya bakal membawa pada kesenyapan di puncak. “The Devil Wears Prada 2” mengajarkan bahwa terkadang, untuk melangkah maju, kita kudu berani melepaskan kejayaan masa lalu.
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·