Tanya Ustadz: Hukum Membaca Talqin untuk Jenazah, Bolehkah?Tanya Ustadz
Assalamualaikum warahamatullah wabarakatuh. Saya mau memahami norma hukum mengenai talqin alias memberikan pelajaran terakhir kepada mayit setelah dikuburkan. Apakah perihal ini diperbolehkan dalam Islam? Bagaimana pandangan ustadz tentang praktik ini? (Ahmad Ulil/40 tahun)
Jawaban Ustadz
Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh. Terima kasih sudah bertanya kepada redaksi Tanya Ustadz. Menurut Syekh Ali Jum’ah, dari Dar Ifta Mesir, dalam Fatwa Nomor 6459, pada 06 Mei 2006 menjelaskan bahwa hukumnya disunnahkan untuk melakukan talqin kepada mayat setelah dikuburkan.
Hal ini berasas riwayat dari Raasyid bin Saad, Dhamrah bin Habib, dan Hakim bin Umair (tabi’in awal dari masyarakat Homs), mereka berkata:
إذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ فَسَوَّيْتُمُ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: يَا فُلَانُ ابْنَ فُلَانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلَا يُجِيبُ، ثُمَّ يَقُولُ يَا فُلَانُ ابْنَ فُلَانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْتَوِي قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلَانُ ابْنَ فُلَانَةَ، فَإِنَّهُ يَقُولُ: أَرْشِدْ رَحِمَكَ اللهُ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ، فَلْيَقُلِ: اذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا، فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِيَدِ صَاحِبِهِ وَيَقُولُ: انْطَلِقْ مَا نَقْعُدُ عِنْدَ مَنْ قَدْ لُقِّنَ حُجَّتَهُ، فَيَكُونُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ حَجِيجَهُ دُونَهُمَا»، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ؟ قَالَ: «يَنْسُبُهُ إِلَى حَوَّاءَ عَلَيْهَا السَّلَامُ، يَا فُلَانُ ابْنَ حَوَّاءَ
Artinya; “Apabila salah seorang dari saudara-saudara kalian meninggal, dan kalian telah meratakan tanah di atas kuburnya, hendaklah salah seorang dari kalian berdiri di atas kepala kuburnya, lampau berkata: ‘Wahai Fulan, anak Fulanah, sesungguhnya engkau mendengar ini tetapi tidak menjawab.’ Kemudian dia mengucapkan lagi: ‘Wahai Fulan, anak Fulanah,’ maka dia bakal tetap duduk. Lalu diucapkan: ‘Wahai Fulan, anak Fulanah,’ maka dia bakal berkata: ‘Tuhan memberkatimu, tetapi kalian tidak menyadarinya.’
Setelah itu, hendaklah dikatakan: ‘Ingatlah apa nan engkau tinggalkan di dunia, syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa engkau ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur’an sebagai pemimpin.’
Kemudian Munkar dan Nakir masing-masing memegang tangan temannya dan berkata: ‘Pergilah, kami duduk di hadapan orang nan telah diberikan pelajaran terakhir (talqin), Allah Azza wa Jalla menjadi saksi bagi mereka.’
Seorang laki-laki bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jika dia tidak mengenal ibunya?’ Ia menjawab: ‘Hubungkan dia dengan Hawa ‘alaiha as-salam: Wahai Fulan, anak Hawa,”.
Lebih jauh, Ibnu Majah dalam kitab Sunan Ibnu Majah meriwayatkan;
لقننوا موتاكم لا إله إلا الله
Artinya; “Ajarilah orang nan meninggal di antara kalian (dengan) kalimat la ilaha illallahu” (HR. Ibnu Majah).
Adapun Ibnu Taimiyah membolehkan penyelenggaraan talqīn di dalam kuburan. Ia berdasar bahwa pembacaan talqin ini senantiasa dilakukan oleh sekelompok sahabat Nabi SAW sebagai bagian dari sunnah dalam mengurus jenazah.
Selain itu, Ibnu Taimiyah menilai bahwa pembacaan talqīn memberikan faedah bagi mayat, lantaran meskipun mayit tidak dapat menjawab, dia tetap mendengar panggilan orang nan melakukan talqin.
Simak penjelasan Ibnu Taimiyah berikut:
فَأَجَابَ:هَذَا التَّلْقِينُ الْمَذْكُورِ قَدْ نُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ: أَنَّهُمْ أَمَرُوا بِهِ كَأَبِي أمامة الْبَاهِلِيِّ وَغَيْرِهِ.. فَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَد وَغَيْرُهُ مِنْ الْعُلَمَاءِ: إنَّ هَذَا التَّلْقِينَ لَا بَأْسَ بِهِ فَرَخَّصُوا فِيهِ وَلَمْ يَأْمُرُوا بِهِ، وَاسْتَحَبَّهُ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَد وَكَرِهَهُ طَائِفَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَغَيْرِهِمْ.
Artinya: Ibnu Taimiyah menjawab; Talqīn ini nan disebutkan itu sesungguhnya dipraktikkan sekelompok sahabat Nabi— mereka menyuruh melaksanakan talqīn—, seperti Abi Umamah Al Bahili dan selainnya. Maka lantaran ini berbicara Imam Ahmad dan selainnya dari ulama; bahwa talqīn, tidak apa-apa dilaksanakan , maka mengizinkan mereka pelaksanaannya, tetapi hukumnya tidak mewajibkan mereka.
Pun ada juga sekelompok ustadz dari kalangan Syafi’i dan Ahmad nan mengatakan hukumnya sunah. Di samping itu, ada juga nan mengatakan makruh hukumnya melaksanakan talqīn— ini kebanyakan disebutkan oleh ustadz dari kalangan ajaran Maliki dan selainnya (Majmū’ al Fātawā, Jilid XXIV, halaman 296).
Saudara penanya, dengan demikian, talqin mayit, ialah mengajarkan kalimat syahadat alias memberi nasihat singkat kepada jenazah setelah dikuburkan, diperbolehkan dalam Islam sebagai corak angan dan pengingat bagi jenazah.
Ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Syekh Ali Jum’ah menyatakan bahwa talqin boleh dilakukan, dan dianjurkan setelah jenazah dikuburkan. Praktik ini dianjurkan dengan niat kebaikan sehingga menjadi ibadah sunnah nan berfaedah bagi jenazah dan orang nan melakukannya.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·