Relevansi Puasa dengan Kecerdasan Bj Habibie dan Salahuddin Al-Ayyubi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Relevansi Puasa Dengan Kecerdasan Bj Habibie dan Salahuddin Al-AyyubiRelevansi Puasa Dengan Kecerdasan Bj Habibie dan Salahuddin Al-Ayyubi

– Allah tidak menyuruh umat Islam berpuasa agar menjadi pintar, tetapi agar menjadi insan nan bertaqwa. Namun, kebenaran menunjukkan bahwa tokoh-tokoh muslim nan doyan berpuasa bisa mengoptimalkan kecerdasannya nan di atas rata-rata serta tekun dalam menjalani perjuangan belajar nan luar biasa.

Nama besar dua tokoh muslim seperti mantan Presiden RI BJ Habibie dan Salahuddin Al-Ayyubi merupakan orang-orang nan sangat doyan berpuasa. Prestasi mereka nan mendunia seakan menjadi bingkisan dan keberkahan dari jerih payahnya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui ritual islami berjulukan puasa.

Bagaimana pengaruh puasa terhadap kepintaran manusia berasas penelitian ilmiah di bagian kesehatan? Apakah perubahan nan terjadi dalam tubuh seseorang nan berpuasa berangkaian erat dengan kecerdasannya? Bagaimana pula kepintaran ini relevan dengan kebiasaan puasa pada dua sosok pandai ialah BJ Habibie dan Salahuddin Al-Ayyubi?

Puasa Membantu Mengendalikan Emosi

BJ Habibie merupakan sosok presiden nan memimpin ketika Bangsa Indonesia berada pada masa-masa sulit. Apabila diminta memilih, pasti tidak ada orang nan mau menangani Indonesia ketika masa itu. Namun, Beliau mencoba memimpin dengan kejernihan pikiran melalui puasa sebagai wasilahnya.

Dalam suatu momen peringatan maulid nabi di istana negara, BJ Habibie pernah menganjurkan agar kaum muslimin Indonesia membiasakan berpuasa sunnah. Beliau sendiri mengamalkan puasa Senin dan Kamis dalam rutinitas hidupnya sejak sebelum menjadi Presiden RI.

Setelah menjadi presiden, puasa tersebut tetap dijalankan dan membuahkan pengambilan keputusan-keputusan krusial nan menentukan sejarah Indonesia. Dalam kondisi genting, kepemimpinan BJ Habibie telah memperlihatkan adanya stimulasi intelektual dan pengendalian emosional sehingga pikiran nan bening membawanya pada pertimbangan matang beragam keputusan.

Contoh model kepemimpinan BJ Habibie menunjukkan bahwa antara puasa dengan menahan emosi dan kepintaran terdapat hubungan nan kuat. Penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadhan membikin baiknya kepintaran emosional (Nikfarjam dkk, 2015, The Effect of Fasting on Emotional Intelligence, National Journal of Laboratory Medicine, Vol.4 no 4: laman 67-71).

Walhasil, penelitian tersebut menunjukkan bahwa jika manusia bisa mengelola emosi, maka bakal memberikan kontribusi untuk mencegah kecemasan. Hubungan antara kontrol emosi melalui otak ketika berpuasa bakal membikin hormon-hormon kekhawatiran berkurang.

Kecerdasan emosional inilah nan juga menjadi kunci sukses dari Shalahuddin Al-Ayyubi. Kerendahan hati Salahuddin terhadap para pengikutnya selaras dengan kepemimpinan nan inspiratif, menghubungkan emosi dan emosi pemimpin dengan emosi dan emosi para pengikutnya. Hasil kepemimpinannya mengarah pada peningkatan komunikasi dan harmoni (Sahin, 2024, Inspirational Leadership: Salah Addin Al Ayyubi, the Victorious Leader, Pakistan Journal of Life and Social Sciences, 22[2]).

Puasa Meningkatkan Kemampuan Memori dan Kecepatan Belajar

Bagaimana dengan pengaruh puasa terhadap kepintaran intelektual nan berupa kecepatan berpikir? Kemampuan mengingat dan berpikir sigap sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin nan menjadi pemimpin maupun bergulat dengan bumi pengetahuan pengetahuan. Penelitian lain menunjukkan bahwa puasa Ramadan rupanya berefek baik terhadap peningkatan keahlian belajar seseorang.

Puasa juga dapat melancarkan proses berpikir lantaran pengaruh sehatnya usus. Usus nan sehat merupakan bukti bahwa mikrobiota di usus besar sehat sehingga dapat menghasilkan neurotransmitter dengan optimal. Neurotransmitter inilah nan dapat memudahkan penghantaran info di di system syaraf sehingga seseorang dapat berpikir dengan cepat.

Komunikasi dua arah antara usus dan otak telah menjadi perhatian peneliti pengaruh diet puasa terhadap suasana hati. Telah ditunjukkan bahwa komunikasi silang antara usus dan otak dapat memengaruhi kegunaan otak, menghubungkan pusat emosi dan kognitif otak dengan kontrol perifer serta kegunaan usus (Hosseini dkk, 2024, Fasting diets: what are the impacts on eating behaviors, sleep, mood, and well-being?, Frontiers in Nutrition, 9;10:1256101).

Contoh nan sangat relevan dengan kebiasaan puasa dan kepintaran kognitif alias berpikir dalam proses belajar dan memimpin adalah Salahuddin Al-Ayyubi. Ia dikenal lantaran ketaatannya dalam berpuasa dan penghormatannya terhadap ritual-ritual Islam (Sahin, 2024, Inspirational Leadership: Salah Addin Al Ayyubi, the Victorious Leader, Pakistan Journal of Life and Social Sciences, 22[2]).

Salahuddin menghabiskan masa kanak-kanaknya di Ba’albak, ketika beranjak dewasa dia pindah ke Damaskus dan Baghdad. Ia selalu mendatangi tempat-tempat belajar untuk belajar membaca, menulis, dan menghafal Al-Qur’an, Fiqh dan Syair (Sastra), ditambah lagi belajar norma bahasa dan dasar-dasar nahwu dari para Ulama.

Salahuddin mempunyai keterampilan, kecerdasan, keahlian penyesuaian nan tinggi, serta bisa belajar dan berlatih perang (Nurcholisho, 2010, Shalahuddin Al Ayyubi Pahlawan Hittin dan Pembebas Baitul Maqdis. Cetakan I. Jakarta.Inti Medina: laman 9). Ia juga banyak menimba pengetahuan keagamaan dari beragam ulama-ulama mahir dalam bidangnya.

Baghdad merupakan wilayah pemerintahan pusat dari Dinasti Abbasiyah. Sirkulasi pengetahuan pengetahuan berasal di Baghdad pada saat itu dan menjadi pusat pendidikan.

Ketika berjihad alias sakit selama bulan Ramadhan, Salahuddin pernah tidak berpuasa. Namun, kemudian Ia menggantinya di hari lain sebagai bukti ketaatan. Catatan sejarah mengungkapkan bahwa Salahuddin pernah menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh selama lebih dari sebulan, lantaran dia melewatkan beberapa bulan Ramadan nan disebabkan oleh sakit dan juga beratnya perjuangan jihad nan menghalanginya untuk berpuasa (Ibn Shaddad, 2002, The Rare and Excellent History of Saladin terjemah an-Nawadir as-Sulthaniyyah wal Mahasin Al-Yusufiyyah, Ashgate Publishing Company: laman 19).

Berdasarkan keteladanan dari kedua tokoh tersebut, selayaknya umat Islam memberikan perhatian terhadap keistimewaan ibadah puasa. Selain berbobot pahala, relevansi puasa dengan semangat intelektualitas menjadi khazanah kepemimpinan dan kepintaran kaum muslimin nan perlu dipertahankan. Wallahu a’lam bis shawab.

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah