BANDUNG BARAT, BANGBARA.COM – Suasana di depan PT Royal Abadi Sejahtera, Kampung Cibacang RT 01 RW 04, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, memanas pada Selasa (30/6/2026).
Puluhan penduduk nan didominasi kaum ibu menggelar tindakan unjuk rasa sebagai corak protes terhadap dugaan pemberhentian sepihak sejumlah pekerja lokal setelah terjadi pergantian yayasan pengelola tenaga kerja.
Sejak pukul 09.00 WIB, massa mulai memadati gerbang perusahaan. Mereka memblokade akses keluar masuk kendaraan kontainer dan mendirikan tenda di depan pintu masuk pabrik sebagai simbol bahwa tindakan bakal terus berjalan hingga tuntutan mereka mendapat kepastian dari pihak perusahaan.
Baca Juga: AI Connect Makassar Gelar Workshop n8n
Pantauan di lokasi, ketegangan sempat terjadi ketika perwakilan personalia PT Royal Abadi Sejahtera, saat menemui massa sekitar pukul 14.30 WIB.

Pihak personalia PT Royal Sejahtera Abadi didampingi Kepala Desa Cipeundeuy sempat menawarkan pertemuan lanjutan pada Rabu (1/7/2026). (Foto: Addien Bangbara )
Warga nan telah menunggu berjam-jam langsung menyuarakan tuntutan agar perusahaan memberikan penjelasan mengenai nasib para pekerja lokal nan tidak lagi dipekerjakan.
Salah seorang pekerja, Aep Suhendar (40), mengaku sedikitnya tujuh hingga delapan pekerja lokal diduga kehilangan pekerjaan setelah perusahaan melakukan pergantian yayasan penyalur tenaga kerja.
Menurutnya, para pekerja tersebut telah mengabdi selama lebih dari enam tahun tanpa pernah menerima hukuman maupun teguran mengenai disiplin kerja.
"Kami sudah bekerja lebih dari enam tahun dan selama itu tidak pernah ada masalah. Tiba-tiba kami diberhentikan setelah diduga terjadi pengalihan dari yayasan lama ke yayasan baru. Kami hanya mau penjelasan nan jelas," ujar Aep.
Baca Juga: Ada nan Bikin Nyaman, Ini Dia Angkringan K-LOUNGE Situ Ciburuy, Tempat Nongkrong dengan Sajian Murah Meriah dan Suasana Danau nan Menenangkan
Ia menjelaskan, sebelum keputusan tersebut muncul, seluruh pekerja lama diminta kembali menyerahkan arsip manajemen seperti piagam dan riwayat pekerjaan, apalagi menjalani pemeriksaan kesehatan ulang.
Namun setelah seluruh tahapan tersebut dipenuhi, sejumlah pekerja justru dinyatakan tidak diterima kembali tanpa memperoleh argumen nan jelas.
"Setelah yayasan berpindah, kami diminta melengkapi info dan tes kesehatan ulang. Setelah itu pekerja nan kebanyakan penduduk lokal tidak diterima lagi. Tidak ada penjelasan, padahal kami tidak pernah bermasalah, baik soal ketidakhadiran maupun kinerja. Kalau memang ada kesalahan, semestinya ada teguran terlebih dahulu, bukan langsung diberhentikan," katanya.
Merasa diperlakukan tidak adil, para pekerja berbareng penduduk memutuskan memperkuat di letak hingga pihak manajemen memberikan kepastian.
11 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·