Penyebab Rezeki Terhambat Menurut Ibnu Qayyim

Sedang Trending 6 jam yang lalu
Penyebab Rezeki Terhambat Menurut Ibnu QayyimPenyebab Rezeki Terhambat Menurut Ibnu Qayyim

– Mengapa rezeki terasa seret padahal upaya sudah dilakukan semaksimal mungkin? Sebenarnya apa penyebab rezeki terhambat? Pertanyaan ini kerap muncul ketika seseorang mengalami penurunan penghasilan, upaya nan sunyi pelanggan, alias pekerjaan nan tak kunjung membuahkan hasil sesuai harapan.

Dalam pandangan Islam, selain aspek ekonomi dan ikhtiar nan perlu dievaluasi, ada aspek spiritual nan tidak boleh diabaikan, ialah dosa dan kemaksiatan.

Sejumlah ustadz menjelaskan bahwa perbuatan maksiat dapat menjadi salah satu penyebab hilangnya keberkahan hidup, termasuk penyebab rezeki terhambat. Karena itu, ketika seseorang merasakan kesempitan ekonomi alias halangan dalam mencari nafkah, muhasabah diri menjadi langkah krusial nan dianjurkan syariat.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Al-Jawab al-Kafi liman Sa’ala ‘anid Dawa’isy Syafi,Jilid I , laman 165 menjelaskan bahwa kemaksiatan mempunyai akibat nan luas terhadap kehidupan seorang hamba. Beliau menulis:

المعاصي تمحق البركة، ومن عقوباتها: أنها تمحق بركة العمر، وبركة الرزق، وبركة العلم، وبركة العمل، وبركة الطاعة

Artinya: “Kemaksiatan menghapus keberkahan. Di antara hasilnya adalah hilangnya keberkahan umur, keberkahan rezeki, keberkahan ilmu, keberkahan amal, dan keberkahan dalam ketaatan.”

Keterangan ini menunjukkan bahwa akibat dosa tidak selalu terlihat dalam corak berkurangnya jumlah harta. Seseorang mungkin tetap mempunyai penghasilan nan besar, tetapi kehilangan keberkahan di dalamnya. Harta menjadi sigap habis, tidak mendatangkan ketenangan, alias tidak memberikan faedah sebagaimana nan diharapkan.

Pandangan tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ nan menyebutkan:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

Artinya: “Sesungguhnya seseorang dapat terhalang dari rezeki lantaran dosa nan dilakukannya.”

Hadis ini menjadi peringatan bahwa dosa tidak hanya berpengaruh terhadap kehidupan akhirat, tetapi juga dapat berakibat pada beragam urusan duniawi, termasuk kelancaran rezeki.

Meski demikian, Islam tidak mengajarkan seseorang untuk serta-merta menyimpulkan bahwa setiap kesulitan ekonomi pasti merupakan balasan dari Allah. Sebab, kesempitan hidup juga bisa menjadi corak ujian nan diberikan kepada hamba-Nya untuk meningkatkan kesabaran dan derajatnya di sisi Allah.

Karena itu, ketika menghadapi halangan rezeki, seorang muslim dianjurkan untuk melakukan dua perihal sekaligus: memperbaiki ikhtiar lahiriah dan memperbaiki kondisi batiniah. Evaluasi usaha, peningkatan kemampuan, serta kerja keras tetap diperlukan.

Namun, di saat nan sama, seorang hamba juga perlu memperbanyak istighfar, bertaubat, menjaga ibadah, dan menjauhi beragam corak kemaksiatan.

Hal ini ditegaskan pula oleh Syekh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim dalam kitab Ar-Rizq Abwabuhu wa Mafatihuhu. Ia menyatakan:

ومن أعظم الأسباب الجالبة للرزق: ترك الذنوب والمعاصي، فإنها تحرم خيري الدنيا والآخرة

Artinya: “Di antara karena terbesar nan mendatangkan rezeki adalah meninggalkan dosa dan maksiat. Sebab, keduanya dapat menghalangi seseorang dari kebaikan bumi dan akhirat.”

Penjelasan tersebut diperkuat oleh firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syura ayat 30:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya: “Musibah apa pun nan menimpa Anda adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah mengampuni banyak dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini mengajarkan pentingnya introspeksi ketika menghadapi beragam persoalan hidup. Seorang muslim tidak hanya dituntut untuk mencari solusi secara lahiriah, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan Allah melalui taubat dan ketaatan.

Dengan demikian, kelancaran rezeki dalam Islam tidak semata-mata ditentukan oleh kerja keras dan kecakapan mengelola usaha. Ada dimensi spiritual nan turut memengaruhi, ialah kualitas hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Karena itu, ketika rezeki terasa terhambat, muhasabah, istighfar, dan meninggalkan maksiat menjadi ikhtiar krusial nan patut didahulukan, di samping terus berupaya dan bermohon kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah