Pendapat Tabi‘in tentang Keutamaan Malam Nisfu Sya‘ban– Malam Nisfu Sya‘ban selalu menjadi momen krusial bagi umat Islam, khususnya di Indonesia. Banyak masyarakat nan menghidupkannya dengan doa, zikir, membaca Al-Qur’an, dan shalat malam. Tradisi ini rupanya mempunyai akar kuat dalam pandangan para ustadz generasi awal, khususnya kalangan tabi‘in.
Salah satu tokoh tabi‘in terkemuka adalah ‘Atha’ bin Yasar (w. 103 H), seorang ustadz Madinah nan dikenal luas dalam bagian tafsir dan hadis. Ia menegaskan kedudukan malam Nisfu Sya‘ban sebagai malam nan sangat utama, apalagi menempatkannya tepat di bawah Lailatul Qadar.
Ia berkata:
مَا مِنْ لَيْلَةٍ بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْهَا – يَعْنِي لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ – يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ أَوْ قَاطِعِ رَحِمٍ.
Artinya: “Tidak ada satu malam pun setelah Lailatul Qadar nan lebih utama daripadanya — ialah malam pertengahan bulan Sya‘ban turun ke langit bumi lampau mengampuni, selain orang nan musyrik, orang nan saling bermusuhan, alias orang nan memutuskan tali silaturahmi.”
Riwayat ini menunjukkan bahwa menurut Atha’ bin Yasar, Nisfu Sya‘ban mempunyai keistimewaan luar biasa, terutama sebagai malam pembebasan dan rahmat Allah. Namun, pembebasan tersebut tidak mencakup tiga golongan: orang musyrik, orang nan menyimpan permusuhan (musyāhin), dan orang nan memutus tali silaturahmi.
Tabi‘in lainnya nan sangat dikenal dalam bagian zuhud dan keistimewaan kebaikan adalah Khalid bin Ma‘dan al-Kalā‘ī (w. 103 H). Dalam kitab Fadhā’il Syahr Rajab, termaktub riwayat dia menyebut adanya lima malam agung dalam setahun nan andaikan dihidupkan dengan sungguh-sungguh bakal menjadi karena masuk surga.
خَمْسُ لَيَالٍ فِي السَّنَةِ؛ مَنْ وَاظَبَ عَلَيْهِنَّ رَجَاءَ ثَوَابِهِنَّ وَتَصْدِيقًا بِوَعْدِهِنَّ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ: أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ يَقُومُ لَيْلَهَا وَيَصُومُ نَهَارَهَا، وَلَيْلَةُ نِصْفِ شَعْبَانَ يَقُومُ لَيْلَهَا وَيَصُومُ نَهَارَهَا، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ يَقُومُ لَيْلَهَا وَيَصُومُ نَهَارَهَا، وَلَيْلَةُ الْأَضْحَى يَقُومُ لَيْلَهَا وَيَصُومُ نَهَارَهَا، وَلَيْلَةُ عَاشُورَاءَ يَقُومُ لَيْلَهَا وَيَصُومُ نَهَارَهَا.
Artinya: “Ada lima malam dalam setahun; siapa nan tekun menghidupkannya dengan angan pahala dan membenarkan janji Allah, maka Allah bakal memasukkannya ke dalam surga: malam pertama bulan Rajab, dia bangun malamnya dan berpuasa siangnya; malam pertengahan Sya‘ban, dia bangun malamnya dan berpuasa siangnya; malam Idul Fitri, dia bangun malamnya dan berpuasa siangnya; malam Idul Adha, dia bangun malamnya dan berpuasa siangnya; dan malam Asyura, dia bangun malamnya dan berpuasa siangnya.”
Atsar ini menunjukkan bahwa Khalid bin Ma‘dan mendorong umat Islam untuk menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban dengan qiyamullail dan puasa di siang harinya. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa praktik tersebut telah dikenal dan dianjurkan sejak generasi tabi‘in.
Selanjutnya, al-Hafizh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) dalam kitab Tabṣirah menegaskan pentingnya empat malam spesial dalam setahun. Ia menyatakan bahwa pada malam-malam tersebut Allah melimpahkan rahmat-Nya dengan curahan nan sangat besar, ialah malam pertama bulan Rajab, malam pertengahan Sya‘ban, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.
أَنْ عَلَيْكَ بِأَرْبَعِ لَيَالٍ مِنَ السَّنَةِ؛ فَإِنَّ اللهَ يُفْرِغُ فِيهِنَّ الرَّحْمَةَ إِفْرَاغًا: أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ، وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى.
Artinya: “Hendaklah engkau memperhatikan empat malam dalam setahun, lantaran Allah melimpahkan rahmat-Nya pada malam-malam itu dengan curahan nan besar: malam pertama bulan Rajab, malam pertengahan Sya‘ban, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.”
Para ustadz Ahlussunnah wal Jama‘ah menjelaskan bahwa amalan-amalan nan dilakukan pada malam Nisfu Sya‘ban masuk dalam kategori fadhā’il al-a‘māl. Dalam masalah ini, para ustadz sabda membolehkan penggunaan sabda dha‘if selama tidak berangkaian dengan penetapan norma halal-haram dan tidak mengandung unsur kebatilan.
Imam an-Nawawi menyatakan;
قال العلماءُ من المحدّثين والفقهاء وغيرهم: يجوز ويُستحبّ العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن موضوعاً
Artinya: “Para ustadz dari kalangan mahir hadis, mahir fikih, dan selain mereka berkata: boleh dan dianjurkan mengamalkan sabda dha‘if dalam perkara keutamaan-keutamaan amal, dorongan melakukan kebaikan, dan peringatan dari keburukan, selama sabda tersebut tidak tiruan (maudhu‘).” (Imam An-Nawawi, Al-Adzkar lin Nawawi, laman 36).
Dengan demikian, menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban melalui beragam corak ibadah seperti shalat sunnah, zikir, doa, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak istighfar termasuk ibadah nan dianjurkan dalam Islam.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·