Nabi Khidir dan Inspirasi Green Islam: Menjaga Laut, Melestarikan Sidat Berkhasiat Obat

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
 Menjaga Laut, Melestarikan Sidat Berkhasiat ObatNabi Khidir dan Inspirasi Green Islam: Menjaga Laut, Melestarikan Sidat Berkhasiat Obat

– Dalam Agama Islam, Nabi Khidir dikenal sebagai sosok bijak nan mempunyai pengetahuan luas, terutama mengenai dengan alam dan kehidupan laut. Kisahnya sering dikaitkan dengan perjalanan spiritual dan kebijaksanaan nan mendalam, tetapi juga mempunyai relevansi kuat dalam konteks keberlanjutan lingkungan, khususnya dalam bagian kelautan dan perikanan.

Di era modern, tantangan dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut semakin nyata, mulai dari pemanfaatan berlebihan hingga kerusakan kediaman nan menakut-nakuti keberlanjutan sumber daya hayati. Prinsip-prinsip nan dapat diambil dari kisah Nabi Khidir, seperti kesabaran, ketelitian, dan penghormatan terhadap alam, menawarkan inspirasi bagi praktik pengelolaan laut dan perikanan nan lebih berkelanjutan.

Pertanyaannya, gimana kisah Nabi Khidir dapat memberikan perspektif baru dalam strategi keberlanjutan kelautan dan perikanan? Dan sejauh mana nilai-nilai tersebut relevan dengan kearifan lokal dalam upaya pelestarian ikan nan mempunyai faedah obat?

Nabi Khidir sebagai Penjaga Laut dalam Khazanah Islam

Nabi Khidir merupakan Nabi nan ditemui oleh Nabi Musa di sekitar wilayah lautan. Dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 60, Nabi Musa diberi petunjuk oleh Allah untuk menemui Nabi Khidir di wilayah nan merupakan pertemuan dua lautan.

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ لَآ اَبْرَحُ حَتّٰٓى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا

Artinya: (Ingatlah) ketika Musa berbicara kepada pembantunya, “Aku tidak bakal berakhir (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut alias saya bakal melangkah (terus sampai) bertahun-tahun.”

Syekh Muhammad Mahfudz At-Tarmasi dalam kitabnya nan berjudul Bughyatul Adzkiya juga menjelaskan bahwa Nabi Khidir adalah penjaga lautan.

ويروى عن الحسن البصري قال: وكل إلياس بالفيافي ووكل الخضر بالبحور وقد أعطيا الخلد في الدنيا إلى الصيحة الأولى وأنهما يجتمعان في موسم كل عام

Artinya: Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, dia berkata, Ilyas ditugaskan menjaga padang pasir dan Al-Khidir ditugaskan menjaga lautan. Keduanya diberi keabadian hingga pada peniupan sangkakala nan pertama, dan keduanya berkumpul di setiap musim haji (At-Tarmasi, 2017, Nabi Khidir & Keramat Para Wali, Sahifa Publishing: laman 247).

Terlepas dari perdebatan tentang Nabi Khidir nan tetap hidup alias tidak, ada perihal menarik nan sangat inspiratif dari kehidupan Nabi Khidir ialah aspek kelautan dan kembalinya ikan ke laut.

Makhluk nan menunjukkan letak keberadaan Nabi Khidir adalah seekor ikan nan dibawa oleh Nabi Musa sebagaimana sabda Rasul ketika menceritakan pertanyaan Nabi Musa tentang langkah menemukan Nabi Khidir itu :

يَارَ بِّي وَكَيْفَ لِيْ بِهِ؟ قَالَ: تَأْخُذُ مَعَكَ حُوْتًا فَتَجْعَلُهُ بِمِكْتَلٍ فَحَيْثُمَا فَقَدْتَ الْحُوْتَ فَهُوَ ثَمَّ. رواه البخاري عن أبيّ بن كعب

Artinya: Ya Tuhanku, gimana saya dapat menemukannya? Allah berfirman, “Bawalah seekor ikan dan masukkan pada sebuah kampil, manakala ikan itu hilang, di situlah tempatnya.” (Riwayat al-Bukhārī dari Ubay bin Ka’ab)

Hilangnya ikan nan dimaksud adalah lantaran ikan itu hidup kembali dan mengambil jalan nan asing menuju ke laut. Kisah di atas seolah memberikan inspirasi bahwa penjagaan Nabi Khidir terhadap laut rupanya sangat krusial lantaran ekosistem ini merupakan tempat hidup ikan. Pengembalian ikan ke laut rupanya saat ini dikenal sebagai bagian dari upaya nan dapat ditempuh untuk melestarikan ikan.

Bila diaktualisasikan dengan kondisi kekinian, penangkapan ikan terlarangan nan susah diberantas memerlukan upaya lain nan dapat mendukung kelestarian ikan di Indonesia. Saat ini, penangkapan ikan terlarangan di Indonesia sampai pada tahap nan sangat mengkhawatirkan.

Usaha nan dilakukan pemerintah sangat variatif mulai dari mengeluarkan beragam peraturan hingga memerangi pencurian ikan, tetapi hasilnya tetap jauh dari harapan.

Banyak ikan nan ditangkap secara besar-besaran untuk memenuhi pasar ekspor di luar negeri.  Di sisi lain, budidaya alias reproduksi ikan nan terbatas dapat menyebabkan ikan-ikan tertentu berpotensi mengalami kepunahan. Dalam kondisi seperti inilah konsep Green Islam dalam pelestarian satwa laut sangat relevan untuk diterapkan.

Sidat Berkhasiat Obat dan Perlindungan Berbasis Nilai Islam

Salah satu contoh ikan komoditas pangan ekspor nan berguna obat adalah ikan sidat, ialah ikan mirip belut nan dapat hidup di laut. Ikan ini dapat hidup di air tawar, air laut, maupun air payau. Ikan sidat di Indonesia dilindungi terbatas berasas Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) Nomor 80 Tahun 2020 tentang Perlindungan Terbatas Ikan Sidat.

Uniknya, dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa salah satu langkah pelestarian sidat ditempuh dengan larangan menangkap ikan ini pada tanggal tertentu di Bulan Qomariah. Benih semua jenis ikan sidat (Anguilla spp.) pada stadium glass eel dilarang ditangkap setiap bulan gelap tanggal 27-28 Hijriah.  Bulan Qomariah dan kalkulasi almanak Hijriah adalah kalkulasi waktu umat Islam sehingga sangat relevan dengan khazanah muslim berwawasan lingkungan, khususnya di Indonesia.

Negara Jepang merupakan negara tujuan utama ekspor sidat dari Indonesia. Masyarakat Jepang menyukai sidat lantaran jenis ikan ini mempunyai nilai gizi nan tinggi pada dagingnya. Bahkan, ikan ini mengandung minyak ikan nan mengandung omega 3 dan sangat berfaedah untuk kesehatan jantung maupun pembuluh darah manusia sehingga berguna sebagai obat.

Salah satu langkah inovatif melestarikan sidat nan ditempuh oleh pembudidaya ikan di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap adalah dengan mengembalikan indukan ke laut. Mereka berkomitmen untuk mengembalikan indukan ke habitatnya agar siklus kehidupan sidat dapat terus berjalan melalui kearifan lokal.

Komitmen tersebut diwujudkan dengan mengalokasikan 2,5% indukan ikan sidat untuk dilepasliarkan. Misalnya, jika ada 1.000 ekor indukan nan dipanen, maka 25 ekor nan dirilis ke alam. Uniknya, nomor 2,5% diinspirasi dari proporsi kalkulasi amal kekayaan perniagaan dalam Islam. Lokasi tempat melepasliarkan indukan ini adalah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibereum, ialah salah satu sungai nan bermuara ke Segara Anakan, Wilayah Samudera Hindia.

Kawasan Segara Anakan sendiri merupakan laguna, ialah bagian laut tenang nan terisolasi dari laut terbuka. Tempat pertemuan 3 sungai ini mempunyai celah nan terhubung ke laut sehingga menjadi kediaman ideal bagi ikan sidat. Pertemuan perairan tawar dan laut ini mengingatkan pada kisah letak tempat Nabi Khidir berada saat berjumpa dengan Nabi Musa nan merupakan pertemuah dua area perairan.

Proses pelepasan ikan nan dilakukan oleh pembudidaya sidat di Cilacap juga mengingatkan pada kembalinya ikan Nabi Musa ke laut dalam rangkaian kisah pertemuannya dengan Nabi Khidir. Pada kisah Nabi Musa, kembalinya ikan nan telah meninggal ke laut merupakan mu’jizat nan tidak mungkin terulang kembali. Namun, pada masa sekarang nilai kisah tersebut dapat diaktualisasikan dengan melepas kembali indukan ikan sidat ke habitatnya agar dapat berkembang biak secara alami.

Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai kisah Nabi Khidir tersebut, diharapkan dapat tercipta hubungan nan selaras antara manusia dan laut. Dengan upaya tersebut, dapat diharapkan generasi mendatang tetap dapat menikmati kekayaan sumber daya laut nan ada, termasuk ikan sidat nan berguna obat. Wallahu a’lam bis shawab.

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah