Membaca Alam, Menemukan Tuhan: Catatan Ngaji Jawahirul Qur'an Gus Ulil– Sejak teori perkembangan diperbincangkan secara luas, hubungan kepercayaan dan sains kerap diposisikan seperti dua kubu nan saling berseberangan. Di satu sisi, kepercayaan dianggap hanya berbincang tentang wahyu dan keyakinan.
Di sisi lain, sains diyakini hanya mengakui fakta-fakta empiris nan dapat diuji. Akibatnya, tidak sedikit orang nan merasa kudu memilih: memegang teguh ketaatan alias mengikuti perkembangan pengetahuan pengetahuan.
Benarkah demikian?
Al-Qur’an justru menawarkan langkah pandang nan berbeda. Kitab suci ini tidak membujuk manusia menutup mata terhadap alam, tetapi acapkali memerintahkannya untuk memperhatikan langit, bumi, gunung, sungai, hujan, tumbuh-tumbuhan, apalagi dirinya sendiri. Alam bukan tandingan wahyu.
Ia adalah ayat nan lain. Jika wahyu adalah firman Tuhan nan tertulis (ayat qauliyah), maka semesta adalah firman-Nya nan terbentang (ayat kauniyah). Keduanya berasal dari sumber nan sama.
Di titik inilah pengajian kitab Jawahirul Qur’an karya Imam Al-Ghazali nan diasuh oleh Gus Ulil Abshar Abdalla menemukan daya tariknya. Pengajian ini tidak berakhir pada pembacaan harfiah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi berupaya menyelami “mutiara-mutiara” makna nan tersimpan di baliknya.
Sebagaimana nama kitab tersebut, Jawahirul Qur’an tidak hanya membujuk pembaca memahami lafaz, tetapi juga menggali permata hikmah nan dikandung setiap ayat.
Memasuki bagian ke-28, Gus Ulil membujuk jamaah menelusuri Surah Hūd dan Surah Ar-Ra’d. Menariknya, kedua surah ini tidak hanya berbincang tentang kisah para nabi alias janji-ancaman Tuhan.
Lebih jauh dari itu, keduanya menghadirkan pemandangan kosmos nan luas: tentang bumi, langit, kehidupan, norma alam, keragaman makhluk, hingga hubungan antara ketetapan Ilahi dengan dinamika semesta. Dari sinilah perbincangan antara tafsir Al-Ghazali, teologi Islam, dan sains modern menemukan ruang percakapannya.
Bagi Gus Ulil, membaca Al-Qur’an tidak berfaedah memusuhi pengetahuan pengetahuan. Sebaliknya, semakin luas pengetahuan manusia tentang alam, semakin terbuka pula kemungkinan untuk menangkap kebesaran Tuhan nan bekerja melalui hukum-hukum ciptaan-Nya.
Surah Hūd: Ketika Manusia Mengira Dapat Bersembunyi dari Tuhan
Surah Hūd dibuka dengan satu penegasan nan sekaligus mengguncang kesadaran manusia. Sehebat apa pun seseorang berlari, sejauh apa pun dia menyembunyikan dirinya, pada akhirnya semua bakal kembali kepada Tuhan.
Allah SWT berfirman:
اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ ۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: “Kepada Allahlah Anda kembali. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Hūd [11]: 4).
Ayat ini bukan sekadar berbincang tentang kematian. Ia meletakkan fondasi paling mendasar dalam pandangan hidup Islam: seluruh perjalanan manusia bermulai dari Allah dan bakal berhujung kepada-Nya. Tidak ada ruang di luar pengawasan-Nya, tidak ada kehidupan nan betul-betul lepas dari kuasa-Nya.
Namun, menariknya, Gus Ulil tidak berakhir pada makna teologis tersebut. Beliau membujuk membaca kelanjutan ayat-ayat Surah Hūd sebagai potret ilmu jiwa manusia.
Al-Qur’an menggambarkan manusia nan “melipat dada” alias “menyelimuti diri dengan pakaiannya” agar dapat menyembunyikan sesuatu dari Tuhan. Tentu saja, nan dimaksud bukan sekadar tindakan fisik. Ini adalah metafora nan sangat dalam tentang kecenderungan manusia menutupi realita dirinya sendiri.
Bukankah manusia modern juga melakukan perihal nan sama?
Ada nan berlindung di kembali kesibukan tanpa henti. Ada nan berlindung pada kemajuan teknologi. Ada pula nan merasa sains telah cukup menjelaskan seluruh realitas sehingga Tuhan tidak lagi diperlukan. Semua itu, dalam bahasa Al-Qur’an, hanyalah cara-cara manusia menutupi dadanya sendiri.
Padahal, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an, tidak ada satu pun lapisan kehidupan nan luput dari pengetahuan-Nya. nan tampak maupun nan tersembunyi, nan diucapkan maupun nan hanya terlintas di dalam hati, seluruhnya berada dalam cakupan pengetahuan Allah.
Rezeki Bukan Sekadar Soal Makanan
Sesudah menggambarkan keluasan pengetahuan Tuhan, Surah Hūd membawa pembaca kepada satu ayat nan sering dikutip ketika berbincang tentang rezeki.
Allah SWT berfirman:
وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Artinya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab nan nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hūd [11]: 6).
Ayat ini sering dipahami secara sederhana: setiap makhluk telah dijamin rezekinya. Pemahaman itu memang tidak keliru. Namun, Gus Ulil membujuk melihatnya dari alam nan lebih luas.
Rezeki bukan sekadar makanan nan masuk ke perut. Rezeki adalah seluruh sistem kehidupan nan memungkinkan makhluk tetap memperkuat hidup. Naluri untuk mencari makan, keahlian beradaptasi, keseimbangan ekosistem, hingga hukum-hukum alam nan menopang kehidupan, semuanya merupakan bagian dari agunan Tuhan terhadap ciptaan-Nya.
Karena itu, ayat ini tidak mendorong sikap pasrah tanpa ikhtiar. Sebaliknya, dia memperlihatkan bahwa Allah menciptakan kehidupan dengan seperangkat norma (sunnatullah) nan bekerja secara teratur. Burung memperoleh makanan lantaran dia terbang mencarinya. Pohon bertumbuh lantaran norma biologis nan telah ditetapkan-Nya. Bahkan mikroorganisme nan tidak pernah dilihat mata manusia pun hidup di bawah sistem nan sama.
Di sinilah keagamaan berjumpa dengan sains. Semakin dalam manusia memahami keteraturan alam semesta, semakin tampak bahwa kehidupan bukanlah rangkaian peristiwa nan acak. Di kembali seluruh proses biologis, ekologis, dan kosmologis itu, Al-Qur’an membujuk manusia memandang adanya kebijaksanaan nan mengatur semuanya.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·