Lima Tingkatan Kasyaf Menurut Ibnu Arabi

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Lima Tingkatan Kasyaf Menurut Ibnu ArabiLima Tingkatan Kasyaf Menurut Ibnu Arabi

– kata Ibnu Arabi ada 5 tingkatan dalam kasyaf. Sejatinya, ada pengetahuan nan diperoleh melalui belajar. Ada pula pengetahuan nan lahir dari pengalaman.

Namun, para sufi berbincang tentang satu jenis pengetahuan nan sama sekali berbeda: pengetahuan nan datang bukan semata-mata lantaran membaca, berdiskusi, alias berpikir, melainkan lantaran Allah sendiri berkenan menyingkap tabir nan selama ini menutupi hati seorang hamba. Dalam tradisi tasawuf, pengalaman itu dikenal dengan istilah mukasyafah alias kasyaf.

Karena itu, kasyaf bukanlah keahlian gaib nan dapat dipelajari sesuka hati. Ia juga bukan pagelaran spiritual nan dapat dipamerkan kepada orang lain. Kasyaf adalah anugerah.

Ia datang ketika seorang hamba, melalui perjalanan panjang mujahadah dan riyadhah, sukses membersihkan dirinya dari kekuasaan hawa nafsu. Semakin cerah hati seseorang, semakin terbuka pula kemungkinan baginya untuk menerima sinar pengetahuan dari Allah.

Ibnu Arabi menjelaskan prinsip tersebut dalam Tuhfah As-Syafarah (Juz I, hlm. 85):

والكشف عموما هو إزالة الموانع التى تحجب السالك عن الحضرة الإلهية

Artinya: “Kasyaf secara umum adalah tersingkapnya beragam penghalang nan menutupi seorang salik dari hadirat Ilahi.”

Definisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah Allah nan jauh dari manusia, melainkan hijab nan menutupi hati manusia. Selama hijab itu tetap ada, seseorang hanya memandang bumi dengan mata lahiriah. Namun ketika hijab mulai tersingkap, dia menyaksikan beragam prinsip nan sebelumnya tersembunyi.

Bagi Ibnu Arabi, kasyaf bukan hanya mempunyai satu bentuk. Setiap tingkatan menunjukkan keluasan hidayah Allah kepada hamba-Nya.

Pertama, kasyaf ‘aqli.

Pada tingkatan ini, Allah menganugerahkan kejernihan logika nan luar biasa. Seorang salik bisa memahami beragam persoalan nan susah dipahami kebanyakan orang.

Bukan semata lantaran kepintaran intelektual, tetapi lantaran akalnya telah diterangi oleh hati nan bersih. Dalam pandangan para sufi, logika nan disinari sinar hati bakal bisa menangkap hikmah nan tidak mudah dijangkau oleh logika biasa.

Kedua, kasyaf qalbi.

Apabila hijab hati mulai tersingkap, seorang salik dianugerahi beragam pengetahuan jiwa nan tidak dapat diperoleh melalui pengalaman indrawi. Pengetahuan itu berangkaian dengan hakikat-hakikat nan hanya dapat disaksikan oleh hati nan hidup. Karena itulah Ibnu Arabi menyebutnya sebagai kasyfān syuhūdiyyan—kasyaf nan lahir dari persaksian batin.

Ketiga, kasyaf sirri.

Pada tahap ini, Allah membuka beragam rahasia ciptaan-Nya. Seorang salik tidak hanya memandang sesuatu dari permukaannya, tetapi juga memahami hikmah nan tersembunyi di kembali keberadaan makhluk. Oleh Ibnu Arabi, tingkatan ini dinamai kasyfān ilhāmiyyan, ialah kasyaf nan disertai limpahan ilham dari Allah. Pengetahuan tersebut bukan hasil spekulasi, melainkan karunia nan diberikan kepada hati nan telah dipersiapkan untuk menerimanya.

Keempat, kasyaf ruhi.

Kasyaf ini berangkaian dengan pengalaman ruhani nan lebih tinggi. Ibnu Arabi menjelaskan bahwa seorang salik nan mencapai maqam ini dapat diperlihatkan beragam realitas alam akhirat, seperti keadaan surga dan neraka, lantaran ruhnya dimi’rajkan oleh Allah. Bahkan, menurut beliau, Allah dapat menyingkap hijab waktu sehingga seorang hamba diberi pengetahuan tentang sebagian peristiwa masa lampau ataupun masa nan bakal datang, sejauh nan Allah kehendaki.

Kelima, kasyaf khafi.

Inilah tingkatan nan paling halus. Pada maqam ini, seorang salik tenggelam dalam tajalli sifat jalal dan jamal Allah. Seluruh keahlian nan dimilikinya—penglihatan, pendengaran, ucapan, maupun ilmunya—tidak lagi dipandang sebagai hasil kekuatan dirinya sendiri, tetapi sepenuhnya sebagai hidayah Allah.

Yang dimaksud bukanlah manusia berubah menjadi Tuhan, melainkan sifat-sifat kemanusiaannya sepenuhnya tunduk kepada kehendak Allah sehingga seluruh hidupnya diarahkan oleh-Nya. Karena kebeningan jiwa itulah, Allah menganugerahinya pengetahuan laduni. Ibnu Arabi menyebut tingkatan ini sebagai kasyfān shafā’iyyan, ialah kasyaf nan dianugerahkan kepada jiwa nan telah bersih.

Dari uraian tersebut tampak bahwa semakin tinggi tingkatan kasyaf, semakin mini pula ruang bagi kesombongan. Seorang salik tidak merasa dirinya semakin hebat, tetapi justru semakin menyadari bahwa seluruh pengetahuan hanyalah titipan Allah.

Sebab, prinsip kasyaf bukanlah keahlian mengetahui hal-hal nan tersembunyi, melainkan tersingkapnya hijab antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Ketika hijab itu terbuka, nan pertama kali dilihat bukanlah keajaiban-keajaiban dunia, melainkan kebesaran Allah nan selama ini tertutup oleh ego dan hawa nafsu manusia. Wallāhu A’lam bi al-Ṣawāb.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah