NajisTanya Ustadz
Setelah melakukan istinjak dan wudhu kemudian ketika sholat seperti terasa mengeluarkan air/sesuatu dari kemaluan. Bagaimana hukumnya keluarnya sesuatu tersebut? Apakah dapat membatalkan wudhu/tidak? (Bela/ 22 tahun)
Jawaban
Dalam keseharian ibadah, tidak sedikit orang nan merasa terganggu oleh satu perihal nan tampak sederhana, tetapi dampaknya besar: rasa ragu setelah berwudhu. Ada nan baru saja bersuci, lampau ketika hendak alias sedang shalat muncul emosi seolah-olah ada sesuatu nan keluar dari kemaluan. Pertanyaan pun muncul: apakah wudhu saya batal?
Fenomena ini bukan perihal baru. Dalam literatur fikih, dia dikenal sebagai bagian dari was-was, bisikan keraguan nan jika dibiarkan dapat mengganggu ketenangan ibadah. Padahal, Islam sejak awal telah meletakkan prinsip nan sangat tegas sekaligus menenangkan dalam urusan ini.
Rasulullah memberikan pedoman nan sangat jelas dalam sebuah sabda dari Abu Hurairah r.a.:
إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا، فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّىٰ يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
“Jika salah seorang di antara kalian merasakan sesuatu di perutnya, lampau dia ragu apakah telah keluar sesuatu alias tidak, maka janganlah dia meninggalkan masjid sampai dia mendengar bunyi alias mencium bau.” (HR. Muslim)
Menurut Mulla ‘Ali al-Qari dalam kitab Mirqāt al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt al-Maṣābīḥ sabda ini mengajarkan satu prinsip penting: jangan membangun norma dari keraguan. Selama kita belum yakin, maka kondisi awal tetap berlaku. Jika sebelumnya kita sudah wudhu, maka kita tetap dianggap suci.
Para ustadz menjelaskan bahwa maksud “mendengar bunyi alias mencium bau” bukan kudu selalu terjadi secara harfiah. Itu hanya contoh tanda nan menunjukkan keyakinan. Intinya, jika sudah betul-betul percaya ada hadas, barulah wudhu batal. Tapi jika tetap ragu-ragu, maka abaikan saja.
Dari sinilah lahir norma fikih yang terkenal:
الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ
Artinya; Keyakinan tidak lenyap lantaran keraguan.
Kaidah ini sangat krusial dan bisa dipakai dalam banyak hal, terutama dalam urusan bersuci. Jadi, jangan mudah menganggap diri kita najis alias berhadas hanya lantaran “perasaan”.
Lebih jauh, sabda ini juga menjadi dasar bahwa keluarnya angin memang membatalkan wudhu. Namun, nan jadi masalah bukan hukumnya, melainkan rasa ragu nan sering muncul tanpa kepastian.
Islam sebenarnya sangat memudahkan. Kita diperintahkan menjaga kebersihan, tapi tidak disuruh sampai berlebihan dan menyusahkan diri sendiri. Kalau setiap keraguan diikuti, hidup justru bakal terasa berat dan ibadah jadi tidak nyaman.
Karena itu, sikap terbaik adalah sederhana: pegang nan yakin, tinggalkan nan ragu. Jangan terlalu dipikirkan hal-hal nan belum jelas. Fokus saja pada apa nan betul-betul nyata.
Simak penjelasan komplit dalam kitab Mirqāt al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt al-Maṣābīḥ;
٣٠٦ – وعن أبي هريرة قال: قال رسول الله ﷺ: إذا وجد أحدكم في بطنه شيئاً) أي كالفرقرة بأن تردد في بطنه ريح (فاشكل) أي النيس (عليه أخرج) بهمزة استفهام منه شيء أم لا فلا يخرجن من المسجد) أي للتوضؤ لأن المتيقن لا يبطله الشك، قيل: يوهم أن حكم غير المسجد بخلاف المسجد، لكن أشير به إلى أن الأصل أن يصلي في المسجد لأنه مكانها، فعلى المؤمن ملازمة الجماعات للمسجد حتى يسمع صوتاً) أي صوت ريح يخرج منه أو يجد ريحاً) أي يجد رائحة خرجت منه، وهذا مجاز عن تيقن الحدث لأنهما سبب العلم بذلك كذا قال بعض علمائنا، وقال ابن حجر أي يحس بخروجه وإن لم يشمه. وقال في شرحالسنة: معناه حتى يتيقن الحدث لا أن سماع الصوت أو وجدان الريح شرط إذ قد يكون أصم فلا يسمع الصوت وقد يكون أخشم فلا يجد الريح وينتقض طهره إذا تيقن الحدث، قال الإمام في الحديث دليل على أن الربح الخارجة من أحد السبيلين توجب الوضوء، وقال أصحاب أبي حنيفة: خروج الريح من القبل لا يوجب الوضوء، وفيه دليل على أن اليقين لا يزول بالشك في شيء من أمر الشرع وهو قول عامة أهل العلم. اهـ. وتوجيه قول الحنفية إنه نادر فلا يشمله النص كذا قيل، والصحيح ما قاله ابن الهمام من أن الريح الخارج من الذكر اختلاج لا ربح فلا ينقض كالريح الخارجة من جراحة في البطن. (رواه مسلم).
Artinya; 306 – Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian merasakan sesuatu di dalam perutnya,” ialah seperti adanya aktivitas alias getaran lantaran angin nan berputar di dalam perut, “lalu menjadi samar baginya,” ialah dia ragu, “apakah telah keluar sesuatu darinya alias tidak, maka janganlah dia keluar dari masjid,” ialah untuk berwudhu, lantaran sesuatu nan sudah diyakini tidak dapat dibatalkan oleh keraguan.
Disebutkan “masjid” bukan berfaedah norma di luar masjid berbeda, tetapi sebagai isyarat bahwa asalnya seseorang melaksanakan shalat di masjid lantaran itulah tempatnya. Maka seorang mukmin dianjurkan untuk senantiasa menjaga shalat berjamaah di masjid.
“Sampai dia mendengar suara,” ialah bunyi angin nan keluar darinya, “atau dia mencium bau,” ialah mencium aroma nan keluar darinya. Hal ini merupakan kiasan tentang kepercayaan terjadinya hadas, lantaran keduanya (suara dan bau) menjadi karena untuk mengetahui perihal tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama.
Ibnu Hajar mengatakan: maksudnya adalah dia merasakan keluarnya, meskipun tidak mencium baunya. Dalam Syarh as-Sunnah disebutkan: maknanya adalah sampai dia percaya telah berhadas, bukan berfaedah mendengar bunyi alias mencium aroma itu sebagai syarat mutlak, lantaran bisa saja seseorang tuli sehingga tidak mendengar suara, alias tidak mempunyai penciuman sehingga tidak mencium bau, namun wudhunya batal jika dia telah percaya berhadas.
Imam (ulama) menyatakan bahwa dalam sabda ini terdapat dalil bahwa keluarnya angin dari salah satu dari dua jalan (qubul alias dubur) mewajibkan wudhu. Namun, ustadz ajaran Abu Hanifah beranggapan bahwa keluarnya angin dari qubul tidak membatalkan wudhu.
Hadis ini juga menjadi dalil bahwa kepercayaan tidak dapat lenyap lantaran keraguan dalam beragam perkara syariat, dan ini merupakan pendapat kebanyakan ulama.
Adapun penjelasan atas pendapat Hanafiyah, bahwa perihal tersebut jarang terjadi sehingga tidak termasuk dalam cakupan nash. Namun pendapat nan lebih tepat sebagaimana dikatakan Ibnu al-Humam adalah bahwa angin nan keluar dari kemaluan laki-laki hanyalah getaran (bukan angin nan sebenarnya), sehingga tidak membatalkan wudhu, sebagaimana angin nan keluar dari luka di perut. (HR. Muslim)
Artinya, selama seseorang percaya dirinya tetap suci dan tidak ada bukti kuat bahwa sesuatu betul-betul keluar, maka dia tidak perlu mengulang wudhu. Namun, jika memang terbukti keluar sesuatu dari kemaluan, seperti air kencing, madzi, alias cairan lainnya, maka wudhu menjadi batal dan wajib diulang sebelum melaksanakan shalat kembali.
Sedangkan bagi orang nan mengalami kondisi seperti ini secara terus-menerus tanpa bisa dikontrol, maka dia tergolong orang nan mempunyai uzur syar’i (ma’dzur). Dalam perihal ini, dia cukup berwudhu setiap kali masuk waktu shalat dan boleh melaksanakan shalat selama waktu itu tanpa perlu mengulang wudhu meskipun cairan tersebut keluar lagi.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·