Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan khalifah pertama umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Ia adalah pemimpin dari golongan Ash-Shiddiqun dan dianggap sebagai salah satu orang saleh terbaik setelah para nabi dan rasul.
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi, seperti nan tercatat dalam kitab "Abu Bakar Ash-Shiddiq: Syakhshiyatu Wa'Ashruhu."
Abu Bakar juga sosok sahabat Rasulullah nan paling utama, paling alim, dan paling mulia. Rasulullah berfirman tentang dirinya, "Seandainya saya mau mengambil seorang khalil, niscaya Abu Bakar lah orangnya, bakal tetapi dia adalah saudaraku dan sahabatku."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberadaan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam sejarah Islam memancarkan sinar kelebihan nan mengilhami setiap lembarannya. Tidak ditemukan dalam sejarah umat lainnya, kecemerlangan, keagungan, kesungguhan, jihad, dan dakwah nan didedikasikan untuk mempertahankan prinsip-prinsip serta nilai-nilai mulia.
Kisah Abu Bakar mendapatkan julukan Ash-Shiddiq dan Al-’Atiq
Menilik kitab Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi nan Dijamin Masuk Surga asal julukan "ash-Shiddiq" untuk Abu Bakar bercerita ketika Rasulullah SAW mengabarkan suatu hal, Abu Bakar selalu menjadi orang pertama nan membenarkan dan mempercayainya.
Keyakinannya sangat kuat bahwa Rasulullah tidak berbincang berasas hawa nafsunya. Karena kesetiaan dan kepercayaannya nan tak tergoyahkan, Abu Bakar dikenal dengan julukan "ash-Shiddiq" nan berfaedah "orang nan selalu membenarkan." Julukan itu semakin melekat pada dirinya setelah peristiwa Isra' dan Mi'raj.
Kala itu, sekelompok orang musyrik mendatangi Abu Bakar dan menanyakan pendapatnya tentang cerita perjalanan Rasulullah SAW ke Baitul Maqdis pada malam sebelumnya. Dengan tegas, Abu Bakar menanyakan apakah Rasulullah betul-betul mengatakan perihal itu.
Ketika mereka mengiyakan, Abu Bakar dengan percaya mengatakan bahwa jika Rasulullah menyatakan itu, maka itu pasti benar. Sejak saat itu Abu Bakar dianugerahi gelar "ash-Shiddiq (orang nan selalu membenarkan)."
Suatu hari, di sebuah jalan Kota Makkah dan di sekitar Ka'bah, Abu Bakar berkenalan dengan seseorang nan mempunyai reputasi sebagai "al-Amin (orang nan dapat dipercaya)." Tanpa dia ketahui, sosok itu adalah Nabi Muhammad SAW, sebelum Allah mengangkatnya sebagai Nabi dan Rasul.
Namun, hati mereka berdua telah disatukan oleh rasa cinta kepada Allah, kesetiaan pada-Nya, menjaga amanah, melakukan baik, dan berbincang dengan jujur. Mereka terkenal dengan integritas dan kejujuran mereka sebelum Islam datang.
Abu Bakar mau tahu lebih banyak tentang sosok "al-Amin" nan membuatnya terkesan, dia memutuskan untuk berasosiasi dengannya dalam perjalanan perdagangan ke Negeri Syam. Di sana, dia mendengar Rahib Buhaira mengungkapkan tanda-tanda kenabian pada temannya tersebut. Semakin hari, kekaguman Abu Bakar terhadap Nabi Muhammad SAW semakin bertambah.
Setelah mendengar bahwa sahabatnya, Muhammad, telah diutus sebagai Nabi, Abu Bakar segera mendatanginya dengan pertanyaan, "Wahai Abu Qasim, benarkah engkau telah diutus oleh Allah SWT untuk membujuk manusia kembali kepada-Nya, sebagai utusan-Nya?"
Rasulullah SAW dengan tegas membenarkan panggilan kenabian tersebut, sembari membujuk Abu Bakar untuk berjanji untuk menyembah Allah semata. Kemudian, beliau membacakan beberapa ayat Al-Qur'an kepada Abu Bakar.
Tanpa pikir panjang, Abu Bakar segera menerima rayuan Nabi untuk masuk Islam dan menolak untuk menyembah berhala. Dengan penuh keyakinan, dia bersumpah, "Demi Allah, saya tidak pernah menemukan ketidakejujuran sedikit pun dari dirimu. Engkau adalah orang nan dapat dipercaya, selalu menjalin tali kekerabatan, dan senantiasa melakukan baik."
Kembali ke rumahnya sebagai seorang Muslim, Abu Bakar telah membenarkan kenabian Nabi Muhammad. Beliau menjadi orang pertama nan memeluk Islam. Rasulullah pun mengakui bahwa setiap orang nan diajaknya masuk Islam selalu dirundung keraguan dan pertanyaan.
Namun, Abu Bakar tak tergoyahkan dalam keyakinannya. Dengan tekad nan kokoh, dia menjawab panggilan-Nya tanpa keraguan sedikit pun. Sejak saat itu, Abu Bakar dianugerahi gelar "al-'Atiq" (orang nan telah dibebaskan oleh Allah dari siksa api neraka).
Peristiwa Tsaqidah Bani Sa'idah
Menyorot kitab Jejak Sejarah di Dunia Tanah Haram; Napak Tilas 85 Tempat bercerita tentang Safiqah Bani Sa'idah namalain dikenal sebagai as-Saqifah adalah sebuah taman nan terletak di samping Masjid Nabawi. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, sebagian sahabat berkumpul di tempat ini untuk memilih Abu Bakar as-Shiddiq sebagai Khalifah penerus Rasulullah SAW.
Peristiwa Saqifah Bani Sa'idah merupakan peristiwa pertama nan terjadi setelah wafatnya Rasulullah pada tahun ke-11 H/632 M, di mana Abu Bakar ash-Shiddiq bin Abi Quhafah dipilih sebagai Khalifah bagi kaum Muslimin.
Ketika Rasulullah SAW wafat, Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat lainnya sedang mempersiapkan aktivitas pemakaman beliau. Pada saat nan sama, beberapa orang dari kaum Anshar dengan ketua Sa'ad bin Ubadah berkumpul di sebuah tempat berjulukan Saqifah Bani Sa'idah untuk mengambil keputusan dalam memilih seorang pemimpin untuk Kota Madinah.
Menurut pandangan sebagian mahir sejarah, perkumpulan nan dilakukan oleh orang-orang Anshar hanya untuk menentukan Hakim dan penguasa bagi kota Madinah. Tetapi dengan kehadiran beberapa orang dari Muhajirin ke dalam pertemuan tersebut, perbincangan beranjak pada pembahasan mengenai penentuan penerus Rasulullah SAW untuk kepemimpinan umat Islam. Pada akhirnya, Abu Bakar nan dibaiat menjadi seorang Khalifah kaum Muslimin.
Keistimewaan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Melansir buku Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa keistimewaan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah figur nan sangat shalih, setia, dan dapat dipercaya, apalagi menjadi tangan kanan Rasulullah sejak awal perjalanan dakwah hingga akhir hayatnya. Beliau meresapi hikmah, iman, keyakinan, ketakwaan, dan keikhlasan secara mendalam dari sumber-sumber mata air kenabian.
Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq nan dihabiskan berdampingan Rasulullah akhirnya menghasilkan kesalehan, sensitivitas, cinta, keteguhan, keikhlasan, dan pemahaman nan luar biasa. Rekam jejaknya nan mengesankan terlihat dari beragam sikap dan langkahnya setelah wafatnya Rasulullah, seperti peristiwa pembaiatan sebagai Khalifah di Safiqah Bani Sa'idah dan pengiriman pasukan Usamah serta perang melawan aktivitas kemurtadan.
Abu Bakar dapat memperbaiki apa nan rusak, membangun kembali nan dihancurkan, menyatukan kembali nan tercerai berai, dan meluruskan nan menyimpang. Dedikasinya terhadap Islam dan umatnya tidak pernah luntur, apalagi setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Semoga cerita mengenai ketaatan dan kealiman Abu Bakar Ash-Shiddiq berjihad di dalam Islam bisa menjadi teladan bagi anak-anak ya, Bunda.
Bagi Bunda nan mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·