Khutbah Jumat: Menggapai Dunia, Jangan Lupa Akhirat– Seringkali kita terlalu sibuk mengejar kesenangan dunia, harta, jabatan, dan popularitas, hingga melupakan bekal nan bakal menolong kita di akhirat. Padahal bumi ini hanyalah ladang, dan kebaikan salehlah nan menjadi bibit untuk menuai kebahagiaan kekal kelak di sisi Allah SWT. Nah berikut ini Khutbah Jumat tentang menggapai dunia, jangan melupakan akhirat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحِكَمِ وَالْبَرَكَاتِ, وَجَعَلَ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرَ الصَّلَاةِ وَالْإِعْتِيَادِ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Jamaah Jumat nan dimuliakan Allah,
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, nan telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk berkumpul di hari nan mulia ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai khatib sudah menjadi tanggungjawab untuk membujuk jamaah sekalian untuk meningkatkan ketaatan dan takwa kita kepada Allah. Pasalnya, ketaatan dan takwa adalah modal kelak kita di alambaka agar mendapatkan tempat nan terbaik di sisi Allah.
Jamaah khutbah Jumat nan dimuliakan Allah,
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering kali dihadapkan pada satu ilusi besar: bahwa kenikmatan dunia adalah tujuan akhir dari segala perjuangan. Harta nan melimpah, kedudukan nan tinggi, serta ketenaran nan luas kerap dipersepsikan sebagai ukuran keberhasilan hidup.
Padahal, jika direnungi lebih dalam, semua itu hanyalah serpihan mini dari kenikmatan nan semu; sementara, rapuh, dan sewaktu-waktu bisa sirna.
Al-Qur’an dengan sangat tegas mengingatkan kita tentang prinsip bumi nan fana ini. Allah SWT berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya; “Dan kehidupan bumi ini tidak lain hanyalah kesenangan nan memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Jamaah khutbah Jumat nan dimuliakan Allah,
Ayat ini seperti cermin nan memantulkan realitas nan sering kita abaikan. Dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar persinggahan. Ia seumpama bayang-bayang nan tampak nyata, tetapi tak bisa digenggam. Maka, sungguh merugi orang nan menjadikan bumi sebagai orientasi utama, sementara akhirat, nan justru kekal dilupakan.
Lebih jauh, Allah SWT juga menjelaskan bahwa duniawi adalah perhiasan, kelak bakal menyediakan alambaka nan sifatnya kekal kepada orang nan bertakwa. Allah berfirman;
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتُهَاۚ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَࣖ ٦٠
Artinya; Apa pun nan dianugerahkan (Allah) kepadamu, itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya, sedangkan apa nan di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah Anda tidak mengerti?
Jamaah khutbah Jumat nan dimuliakan Allah,
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara bumi dan akhirat: bumi berkarakter sementara, sedangkan alambaka adalah abadi. Dunia penuh dengan keterbatasan, sementara alambaka menawarkan keabadian nan tak terhingga. Namun ironisnya, banyak manusia justru lebih sibuk mengejar nan sementara, daripada mempersiapkan diri untuk nan kekal.
Padahal, jika manusia mau merenung sejenak, dia bakal menyadari bahwa dirinya tidak diciptakan tanpa tujuan. Ada amanah besar nan dibebankan oleh Allah SWT, ialah beragama kepada-Nya dan membangun hubungan sosial (muamalah) dengan sesama manusia dalam bingkai adab nan mulia. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan hantu dan manusia melainkan untuk beragama kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Jamaah khutbah Jumat nan dimuliakan Allah,
Ayat ini menegaskan bahwa orientasi utama kehidupan adalah ibadah. Namun, ibadah dalam Islam tidak semata ritual umum seperti shalat dan puasa, melainkan juga mencakup seluruh aktivitas nan dilandasi niat lantaran Allah dan dilakukan dengan langkah nan benar, termasuk bekerja, bermuamalah, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Dengan kesadaran ini, seorang Muslim sejatinya dituntut untuk bisa menyeimbangkan antara kebutuhan bumi dan akhirat. Dunia tidak boleh diabaikan, lantaran dia adalah sarana. Namun, alambaka tidak boleh dilupakan, lantaran dia adalah tujuan. Keseimbangan inilah nan menjadi kunci keselamatan.
Rasulullah SAW memberikan tuntunan dalam sebuah atsar nan masyhur, Nabi bersabda:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا
Artinya; “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau bakal meninggal besok hari.”
Hadis ini mengajarkan proporsi nan tepat: bumi dikelola dengan kesungguhan, tetapi alambaka dipersiapkan dengan kesadaran bakal kefanaan hidup. Sebab, tidak ada satu pun manusia nan tahu kapan ajal bakal menjemput.
Jamaah khutbah Jumat nan dimuliakan Allah,
Oleh lantaran itu, menjadi sangat krusial bagi kita untuk memperbanyak kebaikan saleh sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Amal saleh inilah nan kelak bakal menjadi “mata uang” nan bertindak di hadapan Allah SWT. Tanpa itu, segala pencapaian duniawi tidak bakal mempunyai nilai apa pun.
Menariknya, dalam Islam terdapat konsep kebaikan nan pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Inilah nan dikenal sebagai kebaikan jariyah. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara: infak jariyah, pengetahuan nan bermanfaat, dan anak saleh nan mendoakannya.” (HR. Muslim)
Jamaah khutbah Jumat nan dimuliakan Allah,
Dalam riwayat lain nan lebih rinci, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah SAW menjelaskan beragam corak kebaikan nan pahalanya terus mengalir:
إنَّ مِمَّا يلحقُ المؤمنَ من عملِهِ وحسناتِه بعدَ موتِه عِلمًا علَّمَه ونشرَه وولدًا صالحًا ترَكَه ومُصحفًا ورَّثَه أو مسجِدًا بناهُ أو بيتًا لابنِ السَّبيلِ بناهُ أو نَهرًا أجراهُ أو صدَقةً أخرجَها من مالِه في صِحَّتِه وحياتِه يَلحَقُهُ من بعدِ موتِهِ
Artinya; “Sesungguhnya di antara kebaikan dan kebaikan seorang mukmin nan tetap mengikutinya setelah dia meninggal adalah: pengetahuan nan dia ajarkan dan sebarkan, anak saleh nan dia tinggalkan, mushaf Al-Qur’an nan dia wariskan, masjid nan dia bangun, rumah untuk musafir (ibnu sabil) nan dia dirikan, sungai nan dia alirkan, serta infak nan dia keluarkan dari hartanya saat dia tetap sehat dan hidup. Semua itu bakal terus mengalir pahalanya setelah dia meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini membuka alam berpikir kita bahwa kebaikan tidak selalu berkarakter perseorangan dan sesaat. Ada kebaikan nan berakibat panjang, apalagi lintas generasi. Mengajarkan ilmu, misalnya, adalah investasi jangka panjang nan tak ternilai. Setiap orang nan mengamalkan pengetahuan tersebut, pahalanya bakal terus mengalir kepada nan mengajarkannya.
Jamaah khutbah Jumat nan dimuliakan Allah,
Begitu pula dengan mendidik anak menjadi pribadi nan saleh. Dalam konteks ini, orang tua sejatinya sedang menanam “pohon amal” nan buahnya bakal terus dipetik, apalagi setelah dia tiada. Demikian juga dengan membangun masjid, membantu musafir, alias mengalirkan air bagi Masyarakat, semuanya adalah corak kebaikan nan manfaatnya terus dirasakan.
Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa amal-amal tersebut mempunyai keistimewaan lantaran manfaatnya tidak terputus. Ia melampaui pemisah usia manusia, apalagi melampaui pemisah kehidupan bumi itu sendiri.
Di sinilah letak kepintaran spiritual seorang Muslim: dia tidak hanya berpikir tentang hari ini, tetapi juga tentang “hari setelah kematian.” Ia tidak hanya mengejar apa nan terlihat, tetapi juga mempersiapkan apa nan tak terlihat. Ia tidak hanya menumpuk harta, tetapi juga menanam amal.
Maka, menjadi sebuah ironi ketika seseorang begitu sibuk mengumpulkan kekayaan, tetapi lalai dalam mengumpulkan pahala. Begitu giat membangun karier, tetapi abai membangun kebaikan jariyah. Padahal, ketika kematian datang, semua nan berkarakter duniawi bakal ditinggalkan, selain amal.
Allah SWT mengingatkan dengan sangat jelas:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ .إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya; “Pada hari ketika kekayaan dan anak-anak tidak lagi berguna, selain orang nan datang kepada Allah dengan hati nan bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Jamaah khutbah Jumat nan dimuliakan Allah,
Ayat ini menjadi penutup nan sangat jelas bahwa pada akhirnya, nan bakal menyelamatkan kita bukanlah apa nan kita miliki, tetapi apa nan kita lakukan dengan apa nan kita miliki. Bukan seberapa banyak kekayaan nan kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak nan kita infakkan. Bukan seberapa tinggi kedudukan nan kita raih, tetapi seberapa besar faedah nan kita berikan.
Sebagai penutup, mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang menuju akhirat? Sudahkah kita menanam kebaikan nan bakal terus berbuah, apalagi setelah kita tiada?
Dunia ini hanyalah ladang. Dan setiap ladang pasti bakal dipanen. Maka, siapa nan menanam kebaikan, dia bakal menuai kebahagiaan. Dan siapa nan menanam kelalaian, dia bakal menuai penyesalan.
Semoga kita termasuk orang-orang nan pandai dalam memanfaatkan dunia, bukan untuk tenggelam di dalamnya, tetapi untuk meraih kebahagiaan nan kekal di akhirat. Aamiin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·