Kenapa Isra Mikraj Terjadi Malam Hari?

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Kenapa Isra Mikraj Terjadi Malam Hari?Kenapa Isra Mikraj Terjadi Malam Hari?

–  Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad nan sarat dengan hikmah dan pelajaran spiritual. Tidak hanya tentang perjalanan luar biasa dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lampau ke Sidratul Muntaha, tetapi juga tentang waktu terjadinya, ialah malam hari, nan dipilih secara unik oleh Allah SWT.  Lantas kenapa Isra Mikraj terjadi pada malam hari?

Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Al-Isrā’ wal Mi‘rāj mengutip penjelasan Ibnu al-Munīr mengenai hikmah Isra Mikraj nan terjadi pada malam hari. Ia menyebut bahwa malam adalah waktu nan secara budaya dipahami sebagai waktu kekhususan dan penyendirian (khalwat):

الخامسة قال ابن المنير إنما كان الاسراء ليلا لأنه وقت الخلوة والاختصاص عرفا ولأنه وقت الصلاة التي كانت مفروضة عليه في قوله تعالى قم الليل وليكون أبلغ للمؤمن في الايمان بالغيب وفتنة للكافر ولأن الليل محل الاجتماع بالأحباب

Artinya: “(Poin) kelima: Ibnu al-Munīr berkata: Sesungguhnya peristiwa Isra’ terjadi pada malam hari lantaran malam adalah waktu untuk menyendiri dan unik (berkhalwat) menurut kebiasaan. Selain itu, malam adalah waktu shalat nan telah diwajibkan kepadanya berasas firman Allah Ta‘ala: ‘Bangunlah (untuk shalat) di malam hari’.

Hal itu juga agar lebih kuat menumbuhkan keagamaan terhadap perkara gaib bagi orang beragama dan menjadi ujian (fitnah) bagi orang kafir. Di samping itu, malam hari adalah waktu berkumpul dengan orang-orang tercinta.” (Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Isrā’ wal Mi‘rāj, hlm. 41)

Dalam tradisi tasawuf dan ibadah Islam, malam memang dikenal sebagai waktu paling tenang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kesibukan bumi mereda, suara-suara hiruk pikuk menghilang, dan hati lebih siap menerima limpahan sinar ilahi.

Malam dan Kedekatan dengan Allah

Rifa‘ah ath-Thahthawi dalam kitab Nihāyatu al-Ījāz fī Sīrati Sākin al-Ḥijāz menjelaskan bahwa malam mempunyai makna simbolik sebagai waktu kedekatan dan keistimewaan. Ia mengibaratkan perbedaan antara duduk berbareng raja di siang hari dan di malam hari, nan terakhir menunjukkan hubungan nan lebih intim dan eksklusif.

Ia menegaskan:

وفي وقوع الإسراء ليلا فوائد. منها: ليزداد الذين آمنوا إيمانا بالغيب، ويفتتن الذين كفروا زيادة على فتنتهم، ومنها أنه وقت الخلوة والاختصاص عرفا؛ فإن بين جليس الملك نهارا وجليسه ليلا فرقا واضحا

Artinya: “Dalam terjadinya Isra’ pada malam hari terdapat beberapa faedah. Di antaranya: agar orang-orang nan beragama semakin bertambah keimanannya terhadap perkara gaib, dan agar orang-orang kafir semakin bertambah ujian (fitnah) di atas ujian mereka nan telah ada.

Di antaranya pula lantaran malam adalah waktu untuk menyendiri dan kekhususan menurut kebiasaan; karena terdapat perbedaan nan jelas antara orang nan duduk berbareng raja pada siang hari dan orang nan duduk bersamanya pada malam hari.” (Rifa‘ah ath-Thahthawi, Nihāyatu al-Ījāz fī Sīrati Sākin al-Ḥijāz, (Kairo: Dār az-Zakhā’ir, tt), Jilid I, hlm. 150)

Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Isra Mikraj adalah corak “kedekatan khusus” antara Nabi Muhammad dan Allah SWT, sehingga sangat layak jika terjadi pada waktu nan paling sakral dan penuh keheningan.

Ujian Iman terhadap Perkara Gaib

Lebih jauh, kata Rifa‘ah ath-Thahthawi, hikmah lain dari Isra Mikraj nan terjadi pada malam hari adalah sebagai ujian keagamaan terhadap perkara gaib. Perjalanan nan menembus ruang dan waktu dalam satu malam jelas melampaui logika manusia biasa.

Bagi orang beriman, peristiwa ini justru menambah kepercayaan dan ketundukan kepada wahyu. Sebaliknya, bagi orang kafir, Isra Mikraj menjadi karena bertambahnya penolakan dan kedustaan.

Dengan demikian, malam tidak sekadar menjadi latar waktu, tetapi menjadi bagian integral dari hikmah Isra Mikraj itu sendiri—sebagai waktu kekhusyukan, kedekatan, ibadah, dan ujian iman.

Dari penjelasan para ustadz tersebut dapat disimpulkan bahwa peristiwa Isra Mikraj nan terjadi pada malam hari mengandung makna spiritual nan sangat mendalam.

Malam merupakan waktu paling tepat untuk menerima hidayah Ilahi, menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad, serta menguatkan keagamaan umat Islam terhadap perkara gaib nan berasal dari Allah SWT. Peristiwa ini mengajarkan bahwa dalam keheningan malam, jalan kedekatan dengan Allah terbuka lebih luas bagi hamba-hamba-Nya nan beriman

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah