Hukum Bersalaman Setelah Shalat, Bid’ah?Tanya Ustadz
Assalamu’alaikum. Saya sering memandang jamaah di masjid bersalaman setelah shalat berjamaah, baik ke kanan maupun ke kiri. Sebenarnya gimana norma bersalaman setelah shalat menurut hukum Islam? Apakah termasuk sunnah alias justru bid’ah? Mohon penjelasannya. (Abdul Hamid; 40 tahun)
Jawaban Ustadz
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Tradisi bersalaman setelah shalat berjamaah merupakan kejadian nan hidup dan berkembang di tengah masyarakat Muslim, khususnya di lingkungan penduduk Indonesia. Praktik ini sering kali menjadi bahan perdebatan: apakah dia bagian dari sunnah, sekadar kebiasaan baik (mubah), alias apalagi dianggap sebagai bid’ah oleh sebagian kalangan.
Oleh lantaran itu, krusial untuk menelaah persoalan ini secara ilmiah melalui pendekatan dalil dan pendapat ustadz fikih. Nah berikut penjelasan norma Salaman Setelah Shalat, bid’ah?
Pada dasarnya, bersalaman, nan dalam bahasa Arab musafahah, merupakan ibadah nan sangat dianjurkan dalam Islam. Hal ini ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad:
عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
Artinya: “Tidaklah dua orang muslim berjumpa lampau bersalaman, selain diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa bersalaman mempunyai keistimewaan besar dalam menghapus dosa dan mempererat hubungan antar sesama Muslim. nan menarik, hadits ini tidak membatasi waktu tertentu untuk bersalaman, sehingga berkarakter umum (mutlak).
Dalam riwayat lain, Nabi juga berfirman bahwa bersalaman merupakan bagian dari tradisi nan telah dikenal sejak masa sahabat. Nabi bersabda:
عن أنس بن مالك قال: لما جاء أهل اليمن، قال النبي صلى الله عليه وسلم: قد أقبل أهل اليمن، وهم أرق قلوبا منكم، فهم أول من جاء بالمصافحة
Artinya: “Ketika orang-orang Yaman datang, Nabi bersabda: ‘Telah datang ahlu Yaman, mereka lebih lembut hatinya daripada kalian. Mereka adalah nan pertama membawa tradisi bersalaman,”
Sejatinya, Riwayat-riwayat ini semakin menegaskan bahwa bersalaman merupakan bagian dari etika Islami nan dianjurkan, sebagai corak penghormatan dan penguat ukhuwah.
Adapun mengenai praktik setelah shalat, terdapat riwayat nan menunjukkan adanya hubungan fisik, berupa salaman antara Nabi dan para sahabat setelah shalat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, nan termaktub dalam kitab Umadatul Qari Syarah Shahih Muslim, Jilid 16, laman 108:
حدثنا الحسن بن منصور أبو علي، حدثنا حجاج بن محمد الأعور بالمصيصة، حدثنا شعبة، عن الحكم قال: سمعت أبا جحيفة قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم بالهاجرة إلى البطحاء، فتوضأ ثم صلى الظهر ركعتين، والعصر ركعتين، وبين يديه عنزة، وزاد فيه عون، عن أبيه، عن أبي جحيفة قال: كان يمر من ورائها المارة، وقام الناس فجعلوا يأخذون يديه فيمسحون بها وجوههم. قال: فأخذت بيده فوضعتها على وجهي، فإذا هي أبرد من الثلج وأطيب رائحة من المسك.
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Manshur Abu ‘Ali, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad al-A‘war di al-Mashishah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Syu‘bah, dari al-Hakam, dia berkata: Aku mendengar Abu Juhayfah berkata:
‘Rasulullah keluar pada waktu panas terik menuju al-Bathha’. Lalu Nabi berwudhu, kemudian melaksanakan shalat Zhuhur dua rakaat dan shalat Ashar dua rakaat. Di hadapan beliau terdapat sebuah tongkat pendek (sebagai sutrah).’
‘Aun menambahkan dalam riwayatnya, dari ayahnya, dari Abu Juhayfah, dia berkata: “Orang-orang lewat di belakang tongkat tersebut. Kemudian orang-orang berdiri, lampau mereka mulai memegang kedua tangan beliau dan mengusapkannya ke wajah mereka.”’
Ia (Abu Juhayfah) berkata:
“Maka saya pun memegang tangan beliau, lampau saya letakkan di wajahku. Ternyata tangan beliau lebih dingin daripada salju dan lebih wangi baunya daripada kasturi,”. (HR. Imam Bukhari).
Peristiwa ini terjadi setelah shalat. Jika bersalaman alias corak sentuhan setelah shalat merupakan perihal nan terlarang, tentu Nabi SAW bakal melarang para sahabat. Namun tidak ditemukan adanya larangan tersebut, sehingga perihal ini menjadi indikasi kebolehan.
Imam An-Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah al-Muhadzab menjelalaskan secara rinci norma bersalaman setelah shalat berjuntai pada konteks pertemuan:
Pertama, jika seseorang bersalaman dengan orang nan sudah bersamanya sebelum shalat, misalnya sudah berjumpa dan mungkin sudah bersalaman sebelumnya, maka norma bersalaman setelah shalat adalah mubah (boleh). Artinya, boleh dilakukan dan tidak mengapa, tetapi tidak mempunyai nilai sunnah khusus.
Kedua, jika seseorang bersalaman dengan orang nan sebelumnya belum berjumpa sebelum shalat, maka hukumnya menjadi mustahab (sunnah/anjuran). Hal ini lantaran bersalaman saat pertemuan adalah ibadah nan dianjurkan secara ijma’ (kesepakatan ulama), berasas hadits-hadits shahih tentang keistimewaan berjabat tangan.
Simak penjelasan Imam An-Nawawi berikut;
( فرع ) وأما هذه المصافحة المعتادة بعد صلاتي الصبح والعصر [ ص: 470 ] فقد ذكر الشيخ الإمام أبو محمد بن عبد السلام رحمه الله أنها من البدع المباحة ولا توصف بكراهة ولا استحباب ، وهذا الذي قاله حسن ، والمختار أن يقال : إن صافح من كان معه قبل الصلاة فمباحة كما ذكرنا ، وإن صافح من لم يكن معه قبلها فمستحبة ; لأن المصافحة عند اللقاء سنة بالإجماع للأحاديث الصحيحة في ذلك ، وسأبسط الكلام في المصافحة والسلام وتشميت العاطس وما يتعلق بها ويشبهها في فصل عقب صلاة الجمعة إن شاء الله تعالى .
Artinya: (Cabang pembahasan) Adapun bersalaman nan telah menjadi kebiasaan setelah shalat Subuh dan Ashar, maka telah disebutkan oleh Syekh Imam Abu Muhammad bin Abdus Salam bahwa perihal tersebut termasuk bid’ah nan mubah (boleh), dan tidak disifati sebagai makruh maupun sunnah. Pendapat nan beliau sampaikan ini adalah baik.
Adapun pendapat nan dipilih adalah: jika seseorang bersalaman dengan orang nan sudah bersamanya sebelum shalat, maka hukumnya mubah (sebagaimana telah kami jelaskan).
Namun jika dia bersalaman dengan orang nan sebelumnya belum bersamanya (belum berjumpa sebelum shalat), maka hukumnya mustahab (dianjurkan), lantaran bersalaman saat pertemuan adalah sunnah berasas ijma’, sesuai dengan hadits-hadits shahih tentang perihal tersebut.
Dan saya bakal menjelaskan lebih luas pembahasan tentang berjabat tangan, salam, menjawab orang bersin, serta hal-hal nan berangkaian dan serupa dengannya dalam pembahasan setelah shalat Jumat, insya Allah Ta‘ala.
Lebih lanjut, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa jika seseorang sudah bersalaman sebelum shalat, lampau mengulanginya setelah shalat, maka hukumnya mubah (boleh), bukan bid’ah.
Senada dengan itu, Imam ath-Thahawi menyatakan:
المصافحة فهي سنة عقب الصلاة كلها وعند كل لقي
Artinya: “Bersalaman itu sunnah dilakukan setelah setiap shalat dan setiap pertemuan.”
Dari seluruh uraian ini, dapat disimpulkan bahwa bersalaman setelah shalat bukanlah amalanyang terlarang. Ia termasuk dalam keumuman sunnah bersalaman nan dianjurkan dalam Islam. Dengan demikian, tradisi bersalaman setelah shalat nan berkembang di masyarakat tidak bisa serta-merta divonis sebagai bid’ah tercela.
Sebagai penutup, seyogianya bersalaman setelah shalat hendaknya juga dipahami sebagai corak ukhuwah dan adab, bukan sebagai tanggungjawab semata. Dengan begitu, kita dapat menjaga harmoni dalam berakidah sekaligus merawat tradisi baik nan telah hidup di tengah masyarakat.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·