Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Tadabbur Samudera Al-Fatihah– Pernyataan-Nya dalam Al-Qur’an Surah Al-Fatihah ayat 5 nan berarti: “Hanya Engkau nan kami sembah” mencakup dua pilar utama: pertama adalah ibadah dengan ketulusan dan pengabdian hanya kepada-Nya. Inilah inti dari jalan nan lurus, sebagaimana bakal Anda pelajari dari kitab-kitab tentang kejujuran dan ketulusan serta kecaman terhadap kesombongan dan kemunafikan seperti dalam kitab “Ihya’ Ulumuddin”.
Kedua adalah kepercayaan bahwa tidak ada nan layak disembah selain Dia. Inilah inti dari doktrin monoteisme. Pernyataan-Nya dalam Al-Qur’an Surah Al-Fatihah ayat 5 nan berarti: “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” adalah prinsip mendasar lainnya dalam memahami monoteisme.
Tentu saja, kata Gus Ulil, ini melibatkan penolakan terhadap segala kekuatan alias keahlian diri sendiri dan pengakuan bahwa Allah nan Maha Kuasa adalah satu-satunya dalam segala perbuatan dan bahwa hamba tidak dapat berdikari tanpa pertolongan-Nya.
Tak hanya itu, pernyataan-Nya juga dalam Surah Al-Fatihah ayat 5 nan berarti: “Hanya Engkau nan kami sembah” menunjukkan bahwa jiwa-jiwa dihiasi dengan ibadah dan ketulusan-ketulusan.
Demikian juga pernyataan-Nya dalam Surah Al-Fatihah ayat 5 nan berarti: “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” menunjukkan untuk membersihkan jiwa dari menyekutukan Tuhan dan beralih hanya kepada-Nya untuk pertolongan dan kekuatan. Jiwa terbebas dari menyekutukan Tuhan dan hanya beralih kepada-Nya untuk meminta pertolongan dan kekuatan.
Jalan Menuju Kebaikan
Telah disebutkan bahwa jalan menuju kebaikan terdiri dari dua bagian: pertama adalah penyucian dengan menolak apa nan tidak diinginkan, dan nan kedua adalah memperindah diri dengan memperoleh apa nan diinginkan. Kedua bagian ini terangkum dalam dua kata dari surat pembuka Al-Qur’an, ialah pada Surah Al-Fatihah ayat 5.
Firman-Nya dalam Surah Al-Fatihah ayat 6 nan berarti: “Tunjukilah kami jalan nan lurus” menunjukkan permohonan, doa, dan inti dari ibadah, sebagaimana nan kalian ketahui dari kitab-kitab angan dan permohonan dalam kitab-kitab “Ihya’ Ulumuddin” adalah pengingat bakal kebutuhan manusia untuk memohon dan meminta kepada Allah nan Maha Kuasa.
Inilah, kata Gus Ulil, semangat pengabdian dan pengingat bahwa kebutuhan terpentingnya adalah petunjuk ke jalan nan lurus, lantaran melalui jalan inilah seseorang menuju kepada Allah nan Maha Kuasa.
Adapun firman-Nya pada Surah Al-Fatihah ayat 7 nan berarti: “Jalan orang-orang nan telah Engkau beri nikmat…” hingga akhir surat adalah pengingat bakal nikmat-Nya kepada sekutu-sekutu-Nya dan murka serta amarah-Nya kepada musuh-musuh-Nya, agar kemauan dan rasa takut tampak jelas dari lubuk hati. Bukankah, kata Al-Ghazali, telah kami sebutkan bahwa pengisahan kisah para nabi-nabi, semoga kedamaian menyertai mereka, dan musuh-musuh adalah dua bagian besar dari Al-Qur’an.
Kunci Menuju Delapan Pintu Surga
Surah Al-Fatihah alias surah pembuka Al-Qur’an terdiri dari delapan dari sepuluh bagian: ialah hakikat, sifat-sifat, amalan, dan jalan nan lurus secara keseluruhan; ialah penyucian dan perhiasan, penyebutan tentang Akhirat, penyebutan tentang nikmat orang-orang saleh dan murka musuh.
Hanya dua bagian nan dikecualikan dari ini: membantah orang-orang kafir dan hukum-hukum fikih. Kedua bagian ini adalah dua disiplin pengetahuan nan menjadi dasar teologi dan fikih. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa keduanya menempati tingkatan terendah dalam ilmu-ilmu kepercayaan dan keduanya hanya diangkat lantaran kecintaan bakal kekayaan dan status.
Syahdan. Mengenai kebenaran bahwa Surah Al-Fatihah adalah kunci menuju delapan pintu Surga pada titik ini, kita kudu berakhir sejenak untuk mempertimbangkan perihal berikut: Surah ini adalah pembuka Kitab dan kunci menuju Surga. Ini adalah kunci lantaran ada delapan pintu menuju Surga dan makna Al-Fatihah berangkaian dengan delapan pintu tersebut.
Ketahuilah dengan pasti bahwa setiap bagiannya adalah kunci menuju pintu Surga nan lain, sebagaimana dibuktikan oleh riwayat-riwayat. Jika Anda tidak menemukan ketaatan dan kepercayaan dalam perihal ini di dalam hati Anda dan Anda mencari hubungan dengannya, maka abaikan apa nan Anda pahami dari penampilan luar Surga.
Tidak tersembunyi dari Anda bahwa setiap bagian membuka pintu menuju taman pengetahuan pengetahuan, sebagaimana telah kami tunjukkan dalam ayat-ayat tentang rahmat Allah nan Maha Kuasa, keajaiban ciptaan-Nya, dan hal-hal mengenai lainnya.
Karena itu, kata Gus Ulil, jangan berpikir bahwa kegembiraan dan kenikmatan nan dialami oleh seorang gnostik di taman pengetahuan pengetahuan lebih mini daripada kegembiraan nan dialami oleh seseorang nan memasuki Surga nan Anda ketahui, di mana mereka hanya memuaskan kemauan bentuk mereka.
Apakah mungkin keduanya sama? Memang, tidak dapat disangkal bahwa di antara orang-orang nan tercerahkan terdapat mereka nan keinginannya untuk membuka pintu pengetahuan, untuk menyaksikan kekuasaan langit dan bumi serta keagungan Pencipta dan Pemelihara mereka, lebih besar daripada kemauan mereka bakal pernikahan, makanan, dan pakaian.
Bagaimana mungkin kemauan ini tidak dominan pada orang nan tercerahkan dan berwawasan luas, ketika kemauan itu merupakan bagian berbareng para malaikat di Surga tertinggi? Karena para malaikat tidak mendapat bagian dalam makanan dan pernikahan, dan mungkin kenikmatan hewan dalam makanan dan pernikahan lebih besar daripada manusia.
Jika Delapan Pintu Terbuka
Jika Anda menganggap menikmati kesenangan hewan lebih layak dikejar daripada menikmati sukacita dan kebahagiaan hadirat Ilahi berbareng nan Maha Tinggi, maka sungguh besar kerugian dan kebodohanmu! Betapa rendahnya aspirasimu! Nilai dirimu diukur dari aspirasimu.
Adapun orang nan berilmu, jika delapan pintu pengetahuan dibukakan baginya, dia bakal mengabdikan dirinya pada pintu-pintu tersebut dan sama sekali tidak memperhatikan surga bagi orang-orang nan berakal sederhana.
Kenapa demikian? Karena sebagian besar penunggu surga berakal sederhana, sedangkan tingkatan tertinggi adalah untuk orang-orang nan berakal, sebagaimana telah dikatakan, “Dan Anda pun, wahai Anda nan ambisinya terbatas pada kesenangan ocehan dan goyanganmu seperti binatang.”
“Janganlah Anda mengingkari bahwa tingkatan surga hanya dapat dicapai melalui pengetahuan pengetahuan. Jika taman-taman pengetahuan tidak layak disebut surga dalam dirinya sendiri, maka taman-taman pengetahuan layak disebut surga. Taman-taman pengetahuan adalah kunci-kunci surga. Janganlah Anda mengingkari bahwa di dalam Surah Al-Fatihah terdapat kunci-kunci semua pintu surga.” Wallahu a’lam bisshawab.
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·