Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Mengobati Sifat Pelit

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Mengobati Sifat PelitGus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Mengobati Sifat Pelit

– Sudah mafhum bahwa peduli dan berbagi adalah salah satu aliran Islam nan diperintahkan Allah SWT. kepada umat-Nya. Tentu saja, aliran ini tidak hanya merupakan sebuah kebaikan, bakal tetapi juga merupakan salah satu rukun Islam nan wajib diikuti.

Karena itu, untuk berbagi dan peduli, tidak cukup hanya landasan teologi nan menjadi dasarnya, melainkan juga landasan norma nan jelas dan tegas nan kudu diterapkan. Itu sebabnya, sedekah, infak, zakat, hibah, wakaf, dan wasiat adalah contoh tindakan nan menunjukkan sifat penyayang dan berbagi.

Bukankah ciri-ciri murah hati adalah mempunyai kepedulian dan cinta kepada sesama manusia, serta kemauan untuk membantu orang nan membutuhkan, baik secara materi maupun non-materi.

Atas dasar tanggungjawab agama, kesadaran bakal cinta dan kasih sayang terhadap sesama menjadi dasar untuk melakukan itu semua. Jadi, sekali lagi, dalam melakukannya, tidak ada rasa pamrih alias membeda-bedakan agama, ras, alias golongan.

Mengobati Sifat-Sifat Kepelitan

Sebagian adatnya para pembimbing orang-orang tasawuf dalam mengobati penyakit pelit adalah dengan langkah mencegah para muridnya untuk tidak mendapatkan tempat-tempat (kamar) nan khusus. Dengan kata lain, semua tempat disamakan dengan nan lain. Sebab, jika siswa sudah terikat dengan bilik nan unik (istimewa), maka disitulah letak awal sumber kepelitan.

Demikian juga jika si siswa mempunyai baju baru, dengan sengaja pembimbing bakal menyuruhnya untuk memberikan kepada orang lain alias temannya nan tidak mempunyai baju. Inilah nan terjadi kepada Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), kata Gus Ulil.

Tak jarang, sekiranya ada orang berjamu di dhalem Gus Mus, kemudian tamunya memandang pada pakaiannya Gus Mus nan begitu bagus, tak segan-segan Gus Mus bakal langsung memberikannya kepada tamu.

Secara tidak langsung, Gus Mus memberikan contoh kepada kita tentang makna kedermawanan, walaupun baju nan diberikan oleh Gus Mus kepada tamu tidak mahal. Bahwa di antara bentuk nyata dari rasa kepedulian terhadap orang lain adalah senang berbagi atas kewenangan kepemilikannya sendiri kepada orang lain.

Iya. Dermawan adalah bagian dari adab mulia nan dapat dimiliki oleh seseorang melalui dua hal. Pertama, dapat dimiliki lantaran tabiat alami nan telah dikodratkan dan menjadi fitrah bagi setiap orang.

Kedua, dapat dimiliki melalui latihan, pembiasaan, dan pengalaman. Karena itu, jika memandang orang nan sedang kesusahan alias memerlukan bantuan, maka orang nan mempunyai sifat murah hati bakal merasa senang jika bisa membantunya.

Hal nan sama juga terjadi pada Kiai Abdullah Salam Kajen, Pati. Adalah salah satu ustad kharismatik di masanya nan ketika Gus Dur sudah dilantik menjadi Presiden, maka orang nan pertama kali diziarahi Gus Dur adalah Kiai Abdullah Salam.

Kiai Abdullah bakal memberikan apapun kepada tamunya jika tamunya memuji atas kewenangan miliknya. Suatu sikap memberikan kekayaan kepada orang lain tanpa diminta haknya dan itu adalah salah satu sifat terpuji. Ini kedermawanan.

Itu sebabnya, kata Gus Ulil, ketika berjamu ke dhalem kiai, jangan mencoba untuk memujinya. Misalnya dengan berkata, “Kiai sarung BHS jengan kok bagus banget, di mana belinya itu?” di sini kita kudu tau diri. Sebab, jika menyanjung dan memuji-muji kiai, maka ustad itu bakal langsung memberikannya. Dan bagi para kiai-kiai, perihal seperti ini sudah menjadi bagian dari tazkiyah al-nafs (penyucian diri).

Gus Ulil mengatakan, saat kita mendapatkan nikmat (kegembiraan), maka sadarilah bahwa di kembali kenikmatan itu ada unsur potensi musibah. Kenapa demikian? Karena suatu saat nikmat itu bakal lenyap kepada pemiliknya nan sejati.

Apakah kita tidak boleh bergembira? Jawabannya boleh. Akan tetapi, nikmatilah kegembiraan itu sepantasnya, jangan sampai berlebihan. Jika berlebihan dalam menikmatinya, kemudian pada suatu waktu nikmatnya hilang, maka Anda sendiri nan bersedih.

Al-Ghazali mengatakan, bukankah pada dasarnya bumi adalah musuh bagi musuh-musuhnya Allah SWT dan kekasih-Nya? Dikatakan sebagai musuh lantaran bumi bakal memotong jalannya Allah SWT. terhadap hamba-Nya.

Tak hanya itu, Al-Ghazali juga mengatakan bahwa kekayaan nan melampaui sumber kebutuhan pokok ibaratkan air sungai nan banyak dan kemudian meluap-luap. Otomatis orang bakal mengambil air di sungai itu hanya secukupnya saja, sehingga tidak merasa jika airnya bakal habis.

Nah, harusnya, kata Gus Ulil, sikap kepada kekayaan itu seperti ini. Dengan memberikan support kepada orang nan membutuhkan, yakinlah bahwa kekayaan itu tidak bakal habis. Pasti ada gantinya. Untuk apa menyimpan banyak kekayaan jika kebutuhan hidup sudah terpenuhi? Kenapa tidak membantu mereka nan sangat membutuhkannya?

Orang nan suka menyedekahkan hartanya di jalan Allah SWT. tidak bakal mengalami kerugian sedikit pun. Sebaliknya, orang nan pelit bakal dekat dengan neraka, jauh dari manusia, jauh dari Allah, dan jauh dari surga. Mereka hanya bakal mengalami kerugian di bumi dan di akhirat.

Lima Tujuan Pokok Harta

Gus Ulil mengatakan bahwa duit itu mempunyai sisi baik dan buruk. Karena itu, sikapilah kekayaan dengan baik-baik. Beberapa perihal nan kudu diperhatikan ketika Anda mempunyai harta. Pertama, kita kudu tahu bakal maksudnya harta. Misalnya, kenapa kekayaan diciptakan? Kenapa kita memerlukan kekayaan dan seterusnya. Kemungkinan besar, jika sudah memahaminya, maka kita bakal memberi dan menahannya secara berlebihan.

Kedua, kita mendapatkan kekayaan itu dari mana? Apakah dari jalan nan legal alias haram? Setidaknya, jika merenungi perihal ini kata Gus Ulil, kita tidak bakal mencari kekayaan lewat jalan nan haram seperti hartanya para raja-raja.

Kenapa hartanya para raja-raja dikatakan haram? Karena pada umumnya para raja alias penguasa memperoleh kekayaan bisa dengan langkah mengambil kekayaan rakyatnya dengan semaunya. Sebab, dia mempunyai kekuasaan nan mutlak.

Tak mengherankan jika para ustadz pada era Al-Ghazali menghindari pemberian dari para raja dan penguasa, karena semua kekayaan nan dimilikinya berpotensi dari hasil menjarah rakyatnya sendiri.

Tidak hanya mengambil uang, raja dan penguasa pada era dulu juga bisa mengambil istri rakyatnya nan dia sukai. Sangat beruntung era sekarang ada KPK sekalipun tetap ada nan korupsi, bakal tetapi setidaknya para penguasa tetap bisa berpikir dan merasa takut untuk mengambil kekayaan rakyat.

Ketiga, kudu tahu bakal kadarnya kekayaan nan kita miliki. Dengan kata lain, ambil secukupnya sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, untuk membeli rumah, pakaian, dan sandal. Sekali lagi, jangan berlebihan.

Keempat, kudu mempertimbangkan terhadap pengeluarannya dan berhemat dalam berbelanja. Dengan kata lain, seseorang kudu menggunakan apa nan telah diperolehnya secara sah untuk apa nan memang sudah menjadi haknya, dan nan bukan haknya.

Kelima, kudu memperbaiki niatnya pada saat mau mengambil, meninggalkan, memberikan, dan menahannya. Misalnya, mengambil dari sebagian kekayaan itu untuk kepentingan dalam beribadah. Dan meninggalkan kekayaan (mendiamkan harta) lantaran sudah merasa cukup, “Aku tidak mau membeli itu lantaran saya sudah punya, lebih baik duit ini saya berikan kepada nan membutuhkannya.”

Jika Anda melakukan tindakan-tindakan seperti ini pada saat Anda mempunyai kekayaan nan banyak, maka kekayaan alias kekayaan itu tidak bakal pernah menjadikan Anda berada dalam kebahayaan, justeru bakal memberikan keuntungan. Wallahu a’lam bisshawab.

———-

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah