Enam Tanda Kerusakan Hati Menurut Hasan Al Bashri

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
tingkatan tauhidtingkatan tauhid

– Hati adalah salah satu organ tubuh manusia nan paling sensitive. Memang tak kasat mata, namun pengaruhnya sangat menentukan gimana organ nan lain bergerak dan melangkah. Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ mengingatkan:

أَلاَ وَإِنَّ فِيْ الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika dia baik maka baik pula seluruh jasad. Jika dia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa dia adalah hati (jantung).” (HR Bukhari dan Muslim)

Hati nan sehat bakal memudahkan setiap insan dalam menjalankan tugasnya, secara jasmani ataupun rohani. Karenanya kita perlu menjaga dan merawat hati sebaik mungkin. Ibnu Hajar memaparkan dalam kitab Munabbihât ‘ala Isti‘dâdi li Yaumil Mî‘âd, bahwa Hasan Al Bashri menjelaskan enam perihal nan dapat merusak hati seseorang.

Pertama, melakukan dosa dengan angan dia bisa bertaubat di kemudian hari. Seseorang nan sadar bakal perbuatan dosanya dan tetap berambisi bakal kembali ke jalan Tuhan pada waktunya adalah sebuah kesombongan. Ia terlalu percaya diri bahwa Allah tetap memberikan waktu untuk bertaubat, padahal kesempatan itu belum tentu dia miliki di lain waktu. Perbuatan dosa nan dilakukan dengan unsur kesengajaan (bukan aspek ketidaktahuan ) berpotensi menjadikan hati semakin gelap.

Kedua, mempunyai pengetahuan namun tidak mengamalkannya. Pepatah kata nan sangat terkenal “ilmu tanpa kebaikan ibaratkan pohon nan tak berbuah” memang betul nyatanya. Karena sejatinya tujuan dari sebuah pengetahuan adalah pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mengamalkan pengetahuan disini bisa saja dengan melakukan perbuatan nan bertentangan dengan pengetahuan nan dimilikinya, alias juga bisa hanya dengan mendiamkan ilmunya sebagai koleksi dalam kepala saja.

Ketiga, tidak tulus dalam beramal. Setelah pengetahuan diamalkan, urusan belum sepenuhnya beres. Sebab manusia tetap dihinggapi hawa nafsu dari mana-mana. Ia mungkin saja melakukan baik banyak sekali, namun sia-sia belaka lantaran tidak ada ketulusan melakukan baik. Ikhlas adalah perihal nan cukup berat karena meniscayakan kerelaan hati meskipun ada nan dikorbankan.

Keempat, tidak berterima kasih dalam menikmati reaeki nan diberikan Allah. Bersyukur adalah pilihan sikap nan wajib. Orang nan tak mau berterima kasih adalah orang nan tidak memahami prinsip rezeki. Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul ‘Ibad  mengartikan syukur dengan ijrâ’ul a‘dlâ’ fî mardlâtillâh ta‘âlâ wa ijrâ’ul amwâl fîhâ (menggunakan personil badan dan kekayaan barang untuk sesuatu nan mendatangkan ridha Allah). Artinya, selain ucapan “alhamdulillah”, kita dianggap  berterima kasih jika tingkah laku kita, termasuk dalam penggunaan kekayaan kita, bukan untuk jalan maksiat kepada Allah ﷻ.

Kelima, tidak ridha dengan ketetapan Allah. tidak hanya tidak mau bersyukur, melainkan selalu mengeluh dan merasa kurang atas ketetapan nan ada. Bisa jadi dia protes kepada Allah tentang kondisinya. Tidak ada hubungan langsung bahwa nan kaya adalah mereka nan paling disayang Allah, sementara nan miskin adalah mereka nan sedang dibenci Allah. Bisa jadi justru apa nan kita sebut “kurang” sebenarnya adalah kondisi nan paling pas agar kita selamat dari tindakan melampaui batas.

Keenam, mengubur orang meninggal namun tidak mengambil pelajaran darinya. Peristiwa kematian adalah nasihat nan lebih gamblang daripada pidato-pidato dalam panggung ceramah. Ketika ada orang meninggal, kita disajikan kebenaran nan jelas bahwa kehidupan bumi ini fana. Liang kuburan adalah momen perpisahan kita dengan seluruh kekayaan, jabatan, status sosial, dan ketenaran nan pernah dimiliki. Selanjutnya, orang meninggal bakal berhadapan dengan semua pertanggungjawaban atas apa nan dia perbuat selama hidup di dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اْلقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَر مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجَ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Sungguh liang kubur merupakan awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)-nya maka perjalanan selanjutnya bakal lebih mudah. Namun jika dia tidak selamat dari (siksaan)-nya maka (siksaan) selanjutnya bakal lebih kejam.” (HR Tirmidzi)

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah