Di Antara Peluru dan Sunyi: Wajah Hukum dalam Tujuh Film

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Di layar lebar, norma tidak selalu tampil sebagai kitab nan rapi. Ia lebih sering datang sebagai tubuh nan terluka—kadang berdarah, kadang lumpuh, kadang apalagi menghilang tanpa jejak. Tujuh film—tiga dari Korea Selatan dan empat dari Indonesia—menyuguhkan potret nan berbeda, tetapi saling menyambung: tentang gimana keadilan bekerja, gagal, alias apalagi tak pernah sempat hadir.

Dari Korea Selatan, kita mengenal Memories of Murder (IMDb ±8,1/10), The Chaser (IMDb ±7,8/10), dan The Beast (IMDb ±6,1/10). Dari Indonesia, ada 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Killers, serta dua movie tindakan nan sering dipandang sekadar hiburan, The Raid dan The Raid 2. Jika dirangkai, ketujuhnya membentuk spektrum nan jarang kita sadari: dari norma nan tetap berjuang, hingga norma nan tak lagi bermakna.

Ketika Sistem Kehilangan Arah

Dalam Memories of Murder, norma tampak seperti mesin nan kehabisan bahan bakar. Polisi mengejar bayangan, memukul tersangka, dan pada akhirnya pulang dengan tangan kosong. Tidak ada pelaku nan tertangkap, tidak ada kepastian nan didapat. nan tersisa hanyalah wajah capek seorang detektif nan menatap kamera—seolah bertanya kepada penonton: apakah kebenaran memang ada?

Beberapa tahun setelahnya, The Chaser menghadirkan kegagalan dalam corak lain. Di sini, sistem sebenarnya bekerja—laporan masuk, tersangka ditemukan, prosedur berjalan. Namun waktu menjadi musuh. Birokrasi nan lambat dan keputusan nan ragu-ragu membikin kesempatan menyelamatkan korban lenyap begitu saja. Keadilan tidak kandas lantaran tidak ada, tetapi lantaran datang terlambat.

Lalu datang The Beast, nan lebih sinis. Di movie ini, norma tidak lagi tersesat alias terlambat. Ia justru busuk dari dalam. Aparat saling menjatuhkan, manipulasi menjadi alat, dan ambisi pribadi menggerus pemisah moral. Kebenaran mungkin ditemukan, tetapi dengan langkah nan membuatnya kehilangan makna.

Tiga movie ini seperti tiga tahap degradasi: dari ketidakmampuan, menuju keterlambatan, hingga kerusakan internal.

Sunyi nan Lebih Berbahaya

Namun potret dari Indonesia memperlihatkan sesuatu nan lebih sunyi—dan mungkin lebih mengganggu. Dalam 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, norma tidak gagal. Ia apalagi tidak pernah datang. Kekerasan terhadap perempuan, tekanan sosial, dan ketidakadilan relasi berjalan di ruang domestik tanpa intervensi apa pun. Klinik seorang master menjadi tempat pengaduan, bukan instansi polisi.

Di sini, persoalannya bukan abdi negara nan lambat alias korup, melainkan realitas nan tidak pernah dianggap sebagai urusan hukum. Budaya, stigma, dan relasi kuasa membikin banyak corak kekerasan tidak pernah masuk ke dalam kategori “kasus”.

Jika movie Korea bertanya kenapa norma gagal, movie ini mengusulkan pertanyaan nan lebih mendasar: kenapa norma tidak pernah hadir?

Dunia Tanpa Hukum

Jika 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita menggambarkan absennya norma secara diam-diam, maka Killers meneriakkannya dengan keras. Film ini menghadirkan bumi di mana pembunuhan direkam, disebarkan, dan ditonton—tanpa akibat nan berarti. Aparat norma tidak hanya absen, tetapi terasa tidak relevan.

Di titik ini, kekerasan tidak lagi menjadi penyimpangan. Ia menjadi bahasa. Karakter seperti Nomura dan Bayu tidak sekadar melakukan kejahatan; mereka hidup di dalamnya. Dunia mereka tidak mengenal pemisah antara betul dan salah, lantaran tidak ada sistem nan cukup kuat untuk menegaskannya.

Jika film-film Korea tetap memberi kesan bahwa sistem ada—meski rusak—Killers menunjukkan kemungkinan paling gelap: gimana jika sistem itu tidak pernah betul-betul datang dalam kehidupan individu?

Harapan nan Bersandar pada Individu

Di tengah kegelapan itu, The Raid dan The Raid 2 menghadirkan nada nan berbeda. Hukum tetap ada, tetapi rapuh. Aparat tetap bergerak, tetapi dikelilingi kepentingan. Dalam dua movie ini, angan tidak datang dari sistem, melainkan dari individu—seorang polisi nan tetap berpegang pada prinsip di tengah kekacauan.

Namun angan ini juga problematis. Ketika keadilan berjuntai pada satu orang, dia menjadi rapuh. Sistem tidak diperbaiki; dia hanya ditambal oleh keberanian individu. Dan ketika perseorangan itu hilang, kekacauan siap kembali.

Spektrum nan Tak Nyaman

Jika ketujuh movie ini disusun dalam satu garis, kita memandang spektrum nan mengganggu. Di satu ujung, norma tetap berjuang—meski kudu berdarah, seperti dalam The Raid. Di tengah, norma mulai retak—terlambat, tidak mampu, alias rusak, seperti dalam tiga movie Korea. Di ujung lain, norma menghilang—baik secara sunyi dalam 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita maupun secara sadis dalam Killers.

Spektrum ini bukan sekadar bangunan sinematik. Ia adalah refleksi dari realitas nan sering kita temui di negara berkembang, termasuk Indonesia. Hukum ada dalam teks, tetapi tidak selalu datang dalam praktik. Ia bisa kuat di satu ruang, tetapi lenyap di ruang lain.

Menonton sebagai Refleksi

Film sering dianggap sebagai pelarian. Namun dalam tujuh movie ini, dia justru menjadi cermin. Kita tidak hanya menonton kejahatan, tetapi juga menyaksikan gimana sistem merespons—atau kandas merespons—kejahatan tersebut.

Dan mungkin, pertanyaan nan paling krusial bukan lagi apakah norma itu ada. Pertanyaannya adalah: di mana dia hadir, dan di mana dia memilih diam?

Karena pada akhirnya, keadilan bukan hanya soal menangkap pelaku. Ia adalah soal memastikan bahwa tidak ada ruang—baik di jalanan, di kantor, maupun di dalam rumah—yang dibiarkan tanpa perlindungan.

Jika tidak, maka seperti nan ditunjukkan film-film ini, kekosongan itu tidak bakal pernah betul-betul kosong. Ia bakal selalu diisi—oleh kekuasaan, oleh kekerasan, alias oleh keheningan nan lebih berbahaya.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura