Bolehkah Shalat Ghaib bagi Jenazah nan Tidak Ditemukan? – Dalam beberapa peristiwa musibah, seperti tenggelam di laut alias Sungai alias kecelakaan pesawat, tidak jarang jasad korban tidak sukses ditemukan. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah boleh melaksanakan shalat ghaib bagi jenazah nan tidak ditemukan?
Sejatinya, ustadz fikih telah memberikan penjelasan nan cukup rinci mengenai persoalan ini. Asy-Syarwani dalam Hawasyi Asy-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj menjelaskan bahwa dalam persoalan shalat jenazah, khususnya bagi orang nan meninggal lantaran tenggelam, seyogianya mengikuti pendapat pendapat nan dipilih (qaul mukhtar) oleh Imam ar-Rafi‘i, jenazah tersebut tetap dishalati.
Asy-Syarwani menegaskan:
وَيَنْبَغِي تَقْلِيدُ ذَلِكَ الْجَمْعِ لَا سِيَّمَا فِي الْغَرِيقِ عَلَى مُخْتَارِ الرَّافِعِيِّ فِيهِ تَحَرُّزًا عَنْ إزْرَاءِ الْمَيِّتِ وَجَبْرًا لِخَاطِرِ أَهْلِهِ
Artinya: “Seyogianya mengikuti pendapat para ustadz tersebut, terlebih dalam konteks jenazah nan meninggal lantaran tenggelam, berasas pendapat pilihan Imam ar-Rafi‘i, agar jenazah tersebut tetap dishalati. Hal itu dilakukan sebagai corak menjaga kehormatan mayit serta untuk menghibur dan menguatkan hati keluarganya nan ditinggalkan.” (Asy-Syarwani, Hawasyi Asy-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hlm. 189)
Lebih jauh lagi, Dalam kitab at-Tabṣirah, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Lakhmi menjelaskan bahwa para ustadz berbeda pendapat tentang shalat jenazah bagi orang nan tenggelam alias orang nan meninggal dalam keadaan ghaib (tidak ditemukan jasadnya).
Menurut Imam Malik, orang nan meninggal dalam keadaan seperti itu tidak dishalati. Namun Abdul Aziz bin Abi Salamah beranggapan bahwa shalat jenazah tetap dilakukan, baik terhadap orang nan tenggelam maupun nan dimakan hewan buas. Pendapat ini beralasan pada perbuatan Nabi nan menshalati Raja Najasyi, meskipun beliau wafat di negeri nan jauh.
Sementara itu, Ibnu Habib menyebut bahwa sebagian ustadz lain beranggapan bahwa shalat Nabi Muhammad atas Najasyi adalah kekhususan Nabi, dan tidak bertindak bagi umatnya. Mereka beralasan bahwa Nabi SAW sendiri tidak dishalati oleh siapa pun setelah beliau wafat. Ada pula pendapat lain nan mengatakan bahwa jenazah Najasyi diangkat dan diperlihatkan kepada Nabi, sehingga beliau menshalatinya secara langsung.
Namun, pendapat nan membolehkan shalat jenazah bagi orang nan ghaib dinilai lebih kuat. Alasannya, Nabi betul-betul melakukan shalat atas Najasyi. Jika perihal itu terlarang, tentu Nabi tidak bakal melakukannya. Dan jika perbuatan tersebut hanya unik bagi Nabi, pasti bakal menjelaskannya kepada umatnya.
Sebab, Nabi mengetahui bahwa umatnya bakal meneladani dan Nabi tidak bakal membiarkan umatnya melakukan sesuatu nan tidak diperbolehkan. Simak penjelasan berikut;
قال الشيخ -رضي الله عنه-: القول بجواز الصلاة على الغائب أحسن؛ للحديث في النجاشي، ولو كان ممنوعا لم يفعله النبي -صلى الله عليه وسلم- ولو كان جائزا له خاصة لأبانه لأمته; لأنه عالم أن أمته تقتدي بأفعاله، ولم يكن ليتركهم على فعل ما لا يجوز، فتركه إياهم مع ظاهر فعله دليل على أنه أجاز فعل ذلك لهم.
Artinya; Pendapat nan membolehkan shalat jenazah atas orang nan ghaib adalah pendapat nan lebih baik, berasas sabda tentang (shalat Nabi SAW atas) Raja Najasyi. Seandainya perihal itu terlarang, tentu Nabi tidak bakal melakukannya. Dan seandainya perihal itu hanya diperbolehkan unik bagi beliau, niscaya beliau bakal menjelaskannya kepada umatnya.
Karena beliau mengetahui bahwa umatnya bakal meneladani perbuatan-perbuatannya, dan beliau tidak mungkin membiarkan mereka melakukan sesuatu nan tidak dibolehkan. Maka pembiaran beliau terhadap mereka, disertai dengan perbuatan beliau nan nyata, menjadi dalil bahwa beliau membolehkan perbuatan tersebut bagi umatnya. (Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Lakhmi, at-Tabṣirah, jilid II, laman 674).
Lebih jauh lagi, jika telah terbit keputusan resmi bahwa seseorang betul-betul telah meninggal bumi lantaran tenggelam, sementara jasadnya tidak ditemukan, maka kebanyakan ustadz membolehkan penyelenggaraan shalat ghaib atasnya. Imam an-Nawawi menjelaskan ketentuan teknis shalat ghaib, termasuk syarat dan cakupannya. Ia menyatakan:
تجوز الصلاة على الغائب بالنية وإن كان في غير جهة القبلة والمصلي يستقبل القبلة، وسواء كان بينهما مسافة القصر أم لا، بشرط أن يكون خارج البلد
Artinya: “Diperbolehkan melaksanakan shalat ghaib dengan niat, meskipun jenazah berada tidak di arah kiblat dan orang nan shalat tetap menghadap kiblat, baik jaraknya sejauh safar maupun tidak, dengan syarat jenazah berada di luar wilayah (kota).” (Imam an-Nawawi, Raudhah ath-Thalibin, jilid 2, hlm. 130)
Berdasarkan penjelasan para ulama, dapat disimpulkan beberapa poin krusial berikut:
Jika jasad orang nan tenggelam ditemukan, maka dia diperlakukan seperti jenazah lainnya: dimandikan (jika memungkinkan), dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan.
Jika jasad tidak ditemukan dan belum ada kepastian kematian, maka shalat jenazah belum boleh dilaksanakan.
Jika telah ada keputusan resmi nan menetapkan kematiannya, maka diperbolehkan melaksanakan shalat ghaib atasnya sebagai corak pemuliaan terhadap mayit dan penghiburan bagi keluarganya. Wallahu a‘lam bish-shawab.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·