Bijak Bermedia Sosial: Etika Muslim di Era Digital– Ruang publik saat ini tidak hanya terdiri dari mimbar podium dan rapat-rapat, tetapi juga terdiri dari media sosial, tempat setiap perseorangan mempunyai kebebasan berbincang dan apalagi menilai orang lain. Dalam beberapa detik, satu kalimat dapat tersebar luas, komentar dapat menguatkan, tetapi juga bisa melukai. Apa nan kita unggah dapat menjadi ladang pahala alias justru menjadi sumber dosa dan penyesalan.
Islam mengajarkan etika, komunikasi, dan berbicara. Ini adalah apa nan Rasulullah SAW contohkan dalam sabdanya,
“Dari Abu Hurairah Ra. berkata, Rasulullah SAW. bersabda, “Kalian tidak bakal masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak disebut beragama sampai kalian saling mencintai. Maukah saya tunjukkan kepada kalian sesuatu nan andaikan kalian melakukannya, kalian pasti saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).
Salam adalah ketentraman, kedamaian, dan kesejukan. Jika dulu salam hanya bisa diucapkan secara lisan, sekarang salam, damai, dan ketenangan dapat dikomunikasikan melalui sosial media. Ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., “Barang siapa nan beragama kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara baik alias diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).
Sikap Muslim di Media Sosial
Jika Anda menggunakan platform media sosial, maka dengan konsep “falyakul khairan” berfaedah Anda kudu menyebarkan ide-ide terbaik, berbobot tinggi, menentramkan, dan mendamaikan, sementara konsep “yasmut” berfaedah Anda kudu mengambil sikap untuk tidak melakukan sesuatu dan memperkeruh suasana.
Dalam Al-Qur’an, surah Al-Hujurat, ayat 6, disebutkan bahwa:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ٦
Artinya:“Wahai orang-orang nan beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa buletin penting, maka telitilah kebenarannya agar Anda tidak mencelakakan suatu kaum lantaran ketidaktahuan(-mu) nan berakibat Anda menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Ayat ini meminta kaum muslim untuk berhati-hati saat mendengar berita, terutama jika itu datang dari orang nan fasik. Tujuannya adalah untuk menghindari menyesal kemudian lantaran mendengar buletin nan belum diteliti benar.
Dengan kata lain, tabayyun kudu dilakukan oleh mereka nan tidak jujur, peka, dan jujur. Adalah metode verifikasi nan digunakan untuk memverifikasi kebenaran info nan disampaikan dari situs web resmi.
Misalnya, kita dapat mengetahui kapan publikasi dilakukan. Apakah isi dan titel sesuai alias tidak? Bergantung pada info alias tidak? Ini juga bertindak untuk foto, ilustrasi, dan media lainnya.
Jika perihal itu tidak terpenuhi, jangan ikut-ikutan berbagi; itu adalah tindakan nan tidak bertanggung jawab. Al-Qur’an sudah menyatakan bahwa jika Anda tidak teliti, tidak beretika, dan bertindak sembrono, maka Anda bakal menyesal dan rugi.
Kenapa demikian? Karena rekam jejak digital tidak bisa ditarik. Satu detik saja melangkah, maka itu sudah menjadi milik publik. Kita tidak merasa jika itu kebohongan. Kita tidak merasa jika itu sudah melukai dan menyakiti orang lain.
Semakin banyak orang share, maka dosanya semakin bertambah juga. Itulah nan oleh Al-Qur’an disebut dengan “Bijahalatin fa tushbihu ala ma fa altum nadimin”. Kamu bakal menyesal lantaran itu merugikan, kebohongan, dan menyesatkan.
Hoax Sebagai Propaganda
Harus diakui bahwa apapun bentuknya, info adalah “teks” nan mengandung kompleksitas unsur nilai (kepentingan). Sebagai teks, info mempunyai kegunaan representatif mewakili hal-hal nan tersurat dan tersirat.
Nilai ideologis sangat inheren dengan keberadaan sebuah informasi, meski dalam praktiknya konsumen info condong tidak menyadarinya. Dalam ketidaksadaran inilah sebenarnya “kuasa” ideologi melalui info bekerja.
Setiap info nan datang pada ruang publik sebenarnya mempunyai nilai-nilai ideologis nan senafas dengan kepentingan subjeknya. Dari sini kita bakal mengerti, meminjam istilah Norman Fairclough, bahwa merebaknya pandemi info hoax sebenarnya ada propaganda tertentu nan dilakukan oleh aktor-aktor nan ada di kembali lahirnya teks info tersebut.
Melalui struktur bahasa nan rapi, mereka bakal mudah mempropagandakan kepercayaan dan pemahaman pada publik. Karena bahasa dalam makulat linguistik adalah medan pertarungan beragam golongan dan kelas sosial nan berupaya menanamkan kepercayaan dan pemahaman pada publik.
Bahasa dan ideologi berjumpa pada pemakaian bahasa dan materialisasi bahasa dan ideologi. Keduanya, kata nan digunakan dan makna dari kata-kata menunjukkan posisi seseorang dalam kelas tertentu. Pengetahuan-pengetahuan nan disampaikan melalui bingkai media massa menegasikan bahwa pengetahuan adalah kekuatan (knowledge is power).
Media sebagai perangkat komunikasi paling efektif dalam menanamkan kepercayaan pada publik. Ketika kepercayaan ini tertanam rapi pada pembaca, maka selanjutnya adalah mewujudkan kepentingan ideologis alias politisnya.
Kalau ditinjau dari aspek sosiologis, info adalah bagian dari praktik sosial. Sebagai praktik sosial, info mempunyai hubungan dialektis praktis dengan praktik-praktik politik dan ideologi. Artinya, kehadiran info hoax ini sebenarnya mempunyai relasi dalam situasi, institusi, dan kelas sosial tertentu.
Di sinilah pentingnya kepintaran dalam membaca informasi. Kita perlu melakukan pembongkaran secara kritis terhadap kandungan-kandungan ideologi dan politis nan menjadi kekuatan dominan dalam kehadiran info hoax. Jika ini dilakukan, maka kita bakal bisa memilah dan memilih berita-berita alias info mana nan kudu dibaca.
Sebab, setiap media info bekerja sesuai dengan relasi ideologi politik medianya masing-masing. Karena itu, menyikapi pandemi info hoax tidak cukup hanya melalui pendekatan yuridis umum alias norma dan perundang-undangan, tapi kudu di topang dengan penguatan budaya literasi.
Jika pandemi hoax ini dibiarkan bukan tidak mungkin sikap-sikap intoleran bakal terus berkembang di Indonesia lantaran terprovokasi dengan berita-berita bohong. Wallahu a’lam bisshawab.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·