Bayi Lahir Malam Takbiran, Wajibkah Bayar Zakat Fitrah? – Seorang ibu tidak bisa diprediksi dengan tepat kapan waktu melahirkannya, nan ada hanyalah perkiraan secara global saja. Lalu andaikata ada bayi nan lahir di malam takbiran, wajibkah dia bayar amal fitrah?
Jawabannya adalah tidak. Pasalnya, dia belum memenuhi syarat. Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa orang nan menunaikan amal fitrah ini kudu memenuhi 2 syarat, ialah sebagai berikut;
وَيشْتَرط فِي الْمُؤَدى عَنهُ أَمْرَانِ الأول الْإِسْلَام فَلَا تخرج الْفطْرَة عَن كَافِر وَفِي الْمُرْتَد مَا مر. الثَّانِي أَن يدْرك وَقت وُجُوبهَا الَّذِي هُوَ آخر جُزْء من رَمَضَان وَأول جُزْء من شَوَّال فَتخرج عَمَّن مَاتَ بعد الْغُرُوب وَعَمن ولد قبله وَلَو بلحظة دون من مَاتَ قبله وَدون من ولد بعده
Syarat orang nan boleh dizakati fitrah :
- Islam, karenanya amal fitrah tidak dikeluarkan atas orang kafir, sedang orang murtad bahasannya telah lewat.
- Bila orang nan hendak dizakati mendapati “waktu wajibnya amal fitrah” ialah bagian akhir dari bulan ramadhan dan permulaan dari bulan syawal. (Nihayat al-Zain, Halaman 174)
Dari keterangan beliau ini bisa ditarik konklusi bahwa misalkan maghrib di akhir ramadhan pukul 17.35 WIB, sedangkan bayi tersebut lahir setelahnya, maka dia tidak wajib dizakati.
Sebab dia tidak mendapati hari akhir bulan Ramadhan, lain halnya ketika tetap mendapati. Bahkan oleh para ustadz dijelaskan bahwasanya ketika ada bayi nan proses keluarnya menyantap 2 waktu, ialah akhir Ramadhan dan awal syawal (hari raya), dia tidak wajib dizakati.
Syekh Sulaiman al-Bujairimi menyatakan;
قَوْلُهُ: (دُونَ مَنْ وُلِدَ بَعْدَهُ) وَكَذَا مَنْ شَكَّ فِي أَنَّهُ وُلِدَ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ، وَيُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِهِ أَنَّهُ لَوْ خَرَجَ بَعْضُ الْجَنِينِ قَبْلَ الْغُرُوبِ وَبَاقِيهِ بَعْدَهُ فَلَا وُجُوبَ؛ لِأَنَّهُ جَنِينٌ، مَا لَمْ يَتِمَّ انْفِصَالُهُ م ر وسم أج.
“Bayi tidak wajib dizakati ketika dia lahir setelah bulan Ramadhan, demikian pula bagi bayi nan diragukan kapan lahirnya (sebelum syawal alias sesudahny). Bahkan jika sebagian janin keluar sebelum terbenamnya mentari (di akhir ramadhan) dan sisanya lagi keluar setelah terbenamnya matahari, maka juga tidak wajib dizakati.
Karena dia tetap berbentuk janin dan belum sempurna kelahirannya”. (Hasyiyah Al-Bujairimi ala al-Khatib, Juz 2 Halaman 351)
Dengan demikian bisa diketahui bahwasanya bayi nan lahir pada malam takbiran ini tidak wajib dizakati, lantaran dalam bab ini disyaratkan kudu mendapati akhir bulan Ramadhan dan awal syawal. Wallahu A’lam bi al-shawab, semoga bermanfaat.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·