Menghadapi anak nan demam adalah pengalaman nan sering dialami orang tua, namun ketika demam tersebut disertai dengan seringnya buang air kecil, kekhawatiran tentu bakal meningkat. Kondisi ini bisa menandakan adanya masalah kesehatan nan perlu diatasi segera, Bunda.
Dehidrasi bisa menjadi penyebab seringnya buang air mini pada anak nan demam. Ketika demam, tubuh kehilangan cairan lebih cepat, dan sebagai kompensasi, anak bakal minum lebih banyak dan hasilnya buang air mini lebih sering.
Memastikan anak tetap terhidrasi dengan baik sangat diperlukan untuk membantu pemulihan dan menjaga keseimbangan cairan tubuh mereka. Langkah awal nan bisa dilakukan Bunda di rumah adalah memastikan anak mendapatkan cukup cairan dan beristirahat dengan cukup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menggunakan kompres hangat untuk menurunkan demam dan memberikan makanan bergizi juga bisa membantu mempercepat proses pemulihan. Namun, jika indikasi tidak membaik namalain anak menunjukkan tanda-tanda lain nan mengkhawatirkan, sebaiknya Bunda segera membujuk anak ke dokter.
Dengan memahami beragam penyebab dan langkah penanganan awal, Bunda lebih siap menghadapi situasi di mana anak mengalami demam disertai sering buang air kecil. Penanganan nan sigap dan tepat, tidak hanya membantu anak merasa lebih nyaman, tetapi juga mencegah komplikasi nan lebih serius di kemudian hari.
Penyebab anak demam disertai buang air kecil
Bunda perlu memahami penyebab anak demam disertai buang air mini nan dikutip dari WebMD. Simak selengkapnya.
1. Infeksi saluran kemih
Sering buang air mini dapat menunjukkan beragam masalah kesehatan, mulai dari penyakit ginjal hingga konsumsi cairan nan berlebihan. Jika sering buang air mini disertai dengan demam, dorongan kuat untuk buang air kecil, dan nyeri namalain ketidaknyamanan di perut. Hal ini memungkinkan anak mengalami jangkitan saluran kemih, Bunda.
2. Kencing manis
Gejala kencing manis namalain glukosuria jenis 1 dan jenis 2 dapat ditandai dengan seringnya buang air mini dengan jumlah urine nan tidak normal, lantaran tubuh berupaya mengeluarkan kelebihan glukosa melalui urine.
3. Sistitis interstisial
Gejalanya ditandai dengan dorongan mendesak dan sering untuk buang air kecil. Kondisi nan tidak diketahui penyebabnya ini juga terasa nyeri pada kandung kemih dan wilayah panggul.
4. Penggunaan diuretik
Ketika terjadi penumpukan cairan nan bekerja di ginjal lantaran obat-obatan untuk tekanan hipertensi menyebabkan pengeluaran cairan berlebih dari tubuh, sehingga mengakibatkan sering buang air kecil.
5. Hiperkalsemia
Ketika kadar kalsium dalam darah anak berada di atas normal kemungkinan terjadi hiperkalsemia. Penyebabnya meliputi kelenjar paratiroid nan terlalu aktif (hipertiroidisme namalain hiperparatiroidisme), penyakit lain (seperti TBC dan sarkoidosis).
Gejala jangkitan saluran kandung kemih pada anak
Sebagian besar ISK terjadi di bagian bawah saluran kemih, adalah uretra dan kandung kemih, disebut sistitis. Jika anak mengalami sistitis mungkin mengalami indikasi nan dikutip dari Kids Health. Simak selengkapnya, Bunda.
- Nyeri, terbakar, namalain sensasi perih saat buang air kecil
- Adanya peningkatan pada dorongan namalain kemauan untuk buang air mini lebih sering (meskipun hanya sedikit urine nan keluar)
- Demam pada anak
- Sering terbangun di malam hari untuk ke bilik mandi
- Masalah mengompol, walaupun anak sudah dilatih menggunakan toilet
- Sakit perut di area kandung kemih (umumnya di bawah pusar)
- Urine berbau busuk nan mungkin terlihat keruh namalain mengandung darah
Pengobatan ISK pada anak
Mengutip Kids Health, ISK dapat diobati dengan langkah-langkah berikut ini. Simak selengkapnya, Bunda.
- ISK diobati dengan antibiotik. Setelah beberapa hari mengonsumsi antibiotik, master bakal mengulangi tes urine untuk memastikan jangkitan sudah hilang. Hal ini perlu Bunda perhatikan lantaran ISK nan tidak diobati secara tuntas dapat kambuh namalain menyebar.
- Ketika anak mengalami nyeri luar biasa saat buang air kecil, master juga bakal meresepkan obat nan mematikan rasa pada lapisan saluran kemih. Obat ini menyebabkan urine menjadi jingga untuk sementara.
- Pastikan memberikan antibiotik nan diresepkan sesuai agenda selama beberapa hari sesuai pengarahan dokter. Bunda dapat memantau gelombang anak ke bilik mandi dan tanyakan tentang indikasi seperti nyeri namalain rasa terbakar saat buang air kecil. Gejala-gejala ini biasanya membaik dalam dua hingga tiga hari setelah mulai mengonsumsi antibiotik.
- Dorong anak untuk minum banyak cairan, namun hindari minuman berkafein (yang dapat mengiritasi kandung kemih), seperti soda dan es teh.
- Kebanyakan ISK sembuh dalam waktu seminggu dengan pengobatan nan tepat.
Pencegahan ISK pada anak
Menilik Kids Health, ISK dapat dicegah dengan langkah-langkah berikut ini. Simak selengkapnya, Bunda.
- Sering-seringlah mengganti popok untuk membantu mencegah penyebaran kuman penyebab ISK pada bayi dan balita. Sedangkan, anak-anak dilatih menggunakan toilet, krusial untuk mengajari mereka kebersihan nan baik.
- Bunda perlu mengajari anak wanita langkah menyeka dari depan ke belakang, bukan dari belakang ke depan untuk mencegah kuman menyebar dari anus ke uretra. Anak wanita usia sekolah sebaiknya menghindari mandi busa dan sabun kuat nan menyebabkan iritasi. Mereka juga kudu mengenakan busana dalam berbahan katun dibandingkan nilon lantaran bahan katun lebih mini kemungkinannya untuk mendorong pertumbuhan bakteri.
- Semua anak kudu diajari untuk tidak menahan buang air kecil. Urine nan tertinggal di kandung kemih memberi tempat nan baik bagi kuman untuk berkembang biak.
- Anak-anak kudu minum banyak cairan, tetapi hindari nan mengandung kafein.
Demikian ulasan tentang anak demam disertai buang air kecil. Semoga berfaedah untuk antisipasi kesehatan Si Kecil, Bunda.
Bagi Bunda nan mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
1 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·