BANDUNG BARAT, BANGBARA.COM – Lima bulan telah berlalu sejak musibah pergerakan tanah menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Namun hingga kini, puluhan family korban tetap menjalani kehidupan dalam ketidakpastian.
Mereka terpaksa hidup berpindah-pindah di rumah kontrakan maupun menumpang di rumah kerabat lantaran relokasi nan dijanjikan pemerintah belum juga terealisasi.
Bagi para penyintas, musibah tersebut bukan hanya meruntuhkan rumah nan selama bertahun-tahun menjadi tempat berlindung,
tetapi juga menghancurkan sumber mata pencaharian nan menjadi penopang kehidupan keluarga.
Lahan pertanian nan selama ini menjadi jagoan sebagian besar penduduk ikut terdampak akibat pergerakan tanah.
Akibatnya, banyak family kehilangan penghasilan dan kudu memulai kehidupan baru dengan kondisi ekonomi nan jauh lebih sulit.
Salah seorang korban, Adar, mengaku angan terbesar penduduk saat ini bukan lagi sekadar support sembako ataupun biaya kontrakan, melainkan kepastian relokasi nan sejak awal dijanjikan pemerintah.
"Yang kami harapkan hanya relokasi secepatnya. Dulu dijanjikan rumah relokasi berikut lahannya, tetapi sampai sekarang belum ada kepastian," ujar Adar.
Ia mengaku termasuk korban nan tetap mempunyai sedikit keberuntungan. Meski rumahnya mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah, sebagian gedung tetap dapat diselamatkan sehingga memungkinkan untuk kembali ditempati.
Sebelumnya, Adar sempat tinggal berpindah-pindah di rumah family selama beberapa bulan. Setelah mendapatkan support perbaikan dari seorang murah hati nan tidak mau disebutkan namanya, dia akhirnya dapat kembali menempati rumah tersebut.
Namun kondisi itu tidak dialami sebagian besar korban lainnya. Banyak penduduk kehilangan tempat tinggal sepenuhnya sehingga hingga sekarang tetap menyewa rumah dengan biaya sendiri alias menumpang di rumah sanak kerabat sembari menunggu kejelasan relokasi.
Menurut Adar, hidup di pengungsian berdikari bukan perkara mudah. Selain kudu beradaptasi dengan lingkungan baru, para korban juga menghadapi tekanan ekonomi lantaran kehilangan lahan pertanian nan selama ini menjadi sumber penghasilan utama.
"Banyak nan sebelumnya mengandalkan kebun untuk menanam sayuran maupun tanaman tahunan. Sekarang ada nan tidak bisa lagi bertani lantaran lahannya terdampak. Penghasilan otomatis berkurang," katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sebagian penduduk sekarang bekerja serabutan. Ada pula nan tetap mencoba mengolah lahan nan tersisa, meski hasilnya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·