3 Amalan Penghapus Dosa dalam Islam

Sedang Trending 10 jam yang lalu
3 Amalan Penghapus Dosa dalam Islam3 Amalan Penghapus Dosa dalam Islam

BincangSyariah.com– Berikut 3 ibadah penghapus dosa dalam Islam. Ada satu realita nan sering membikin manusia resah sekaligus berharap: dosa. Ia melekat dalam setiap gerak, dalam setiap keputusan nan kadang tergesa, dalam setiap niat nan tak selalu bersih dari debu kepentingan.

Tetapi Islam tidak pernah menutup pintu itu rapat-rapat. Bahkan dia membuka pintu nan lebih besar daripada rasa takut manusia itu sendiri: pintu rahmat.

Namun, di kembali pintu rahmat itu ada peringatan nan keras, nan tidak boleh dipelintir menjadi pembenaran untuk bermalas-malas dalam moralitas.

Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا ۝١١٦

Artinya; Sesungguhnya Allah tidak bakal mengampuni (dosa) lantaran mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) nan selain (syirik) itu bagi siapa nan Dia kehendaki. Siapa pun nan mempersekutukan Allah sungguh telah tersesat jauh.

Amalan Penghapus Dosa

Dan di sinilah Islam menawarkan ibadah penghapus dosa. Bukan jalan tunggal, tetapi rangkaian pintu nan sengaja dibuka agar manusia tidak terjebak dalam keputusasaan.

Pertama: Taubat.

Pintu nan Tidak Pernah Ditutup. Di tengah runtuhnya moral manusia, taubat adalah deklarasi paling revolusioner: bahwa manusia tetap mau kembali menjadi manusia.

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ۝٥٣

Artinya; Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku nan melampaui pemisah (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah nan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kedua, istighfar (meminta ampun).

Jika taubat adalah keputusan untuk kembali, maka istighfar adalah napas nan terus mengingatkan arah pulang itu. Nabi bersabda;

عنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضِي اللَّه عنْهُما قَال: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم:”منْ لَزِم الاسْتِغْفَار، جَعَلَ اللَّه لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مخْرجاً، ومنْ كُلِّ هَمٍّ فَرجاً، وَرَزَقَهُ مِنْ حيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Artinya:“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa membiasakan beristighfar maka Allah bakal memberikan solusi setiap kesulitan nan dia hadapi, serta memberikan kemudahan dari kesusahan dia rasa dan memberikan rizki nan dia tak sangka-sangka. (HR. Abu Dawud)

Dan Al-Qur’an dalam surat Ali Imran ayat 135, Allah berfirman;

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ۝١٣٥

Artinya; Demikian (juga) orang-orang nan andaikan mengerjakan perbuatan biadab alias menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lampau memohon pembebasan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) nan dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa nan mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya)

Ketiga, Melakukan kebaikan.  

Jika taubat adalah pintu besar, dan istighfar adalah napas nan menjaga kesadaran, maka kebaikan kebaikan adalah langkah Allah menghapus jejak luka itu perlahan-lahan. Allah berfirman;

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ ۝١١٤

Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang nan selalu mengingat (Allah).

Imam Ibnu Hajar al_asqallani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan Jilid VIII, laman 205  mengurai perdebatan panjang tentang makna ayat ini.

Sebagian memahami secara absolut bahwa kebaikan menghapus semua dosa. Namun jumhur ustadz menegaskan pembatasan: bahwa penghapusan itu berangkaian dengan dosa kecil, alias bertindak dalam kondisi dijauhinya dosa besar.

Di sini fiqh menunjukkan satu perihal penting: kebaikan bukan perangkat otomatis penghapus dosa tanpa kesadaran moral. Ia tidak bekerja seperti kalkulator spiritual. Ia bekerja dalam sistem etika nan menuntut keterlibatan manusia: taubat, kesadaran, dan penjauhan dari dosa besar.

Bahkan sebagian ustadz seperti Ibnu Abd al-Barr menegaskan, jika semua dosa otomatis terhapus oleh amal, maka perintah taubat bakal kehilangan makna. Dan fiqh tidak pernah mengizinkan moralitas menjadi dangkal.

[ ص: 208 ] قوله : ( قال لمن عمل بها من أمتي ) تقدم في الصلاة من هذا الوجه بلفظ قال لجميع أمتي كلهم وتمسك بظاهر قوله تعالى إن الحسنات يذهبن السيئات المرجئة وقالوا : إن الحسنات تكفر كل سيئة كبيرة كانت أو صغيرة ، وحمل الجمهور هذا المطلق على المقيد في الحديث الصحيح إن الصلاة إلى الصلاة كفارة لما بينهما ما اجتنبت الكبائر فقال طائفة : إن اجتنبت الكبائر كانت الحسنات كفارة لما عدا الكبائر من الذنوب ، وإن لم تجتنب الكبائر لم تحط الحسنات شيئا .

 وقال آخرون : إن لم تجتنب الكبائر لم تحط الحسنات شيئا منها وتحط الصغائر . وقيل : المراد أن الحسنات تكون سببا في ترك السيئات كقوله تعالى إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر لا أنها تكفر شيئا حقيقة ، وهذا قول بعض المعتزلة . وقال ابن عبد البر : ذهب بعض أهل العصر إلى أن الحسنات تكفر الذنوب ، واستدل بهذه الآية وغيرها من الآيات والأحاديث الظاهرة في ذلك . قال : ويرد الحث على التوبة في أي كبيرة ، فلو كانت الحسنات تكفر جميع السيئات لما احتاج إلى التوبة . واستدل بهذا الحديث على عدم وجوب الحد في القبلة واللمس ونحوهما ، وعلى سقوط التعزير عمن أتى شيئا منها وجاء تائبا نادما . واستنبط منه ابن المنذر أنه لا حد على من وجد مع امرأة أجنبية في ثوب واحد

Artinya; [Hal. 208] Ucapannya: “(Nabi bersabda: bagi orang nan mengamalkannya dari umatku)”. Dalam bab shalat telah disebutkan dari jalur ini dengan lafaz: “beliau bersabda: untuk seluruh umatku, semuanya.”

Kaum Murji’ah berpegang pada firman Allah: “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan” (QS. Hud: 114), dan mereka berbicara bahwa kebaikan-kebaikan menghapus setiap dosa, baik besar maupun kecil.

 Mayoritas ustadz (jumhur) membawa pengertian nan berkarakter absolut dalam sabda sahih: “Shalat ke shalat adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dijauhi dosa-dosa besar.”

Maka sebagian ustadz berkata: andaikan dosa-dosa besar dijauhi, maka amal-amal kebaikan menjadi penghapus dosa-dosa selain dosa besar. Adapun jika dosa-dosa besar tidak dijauhi, maka kebaikan tidak menghapus sedikit pun dosa.

Sebagian ustadz lain berkata: jika dosa-dosa besar tidak dijauhi, maka kebaikan tidak menghapus apa pun dari dosa-dosa tersebut, namun tetap menghapus dosa-dosa kecil.

Ada pula pendapat nan mengatakan bahwa nan dimaksud adalah bahwa kebaikan kebaikan menjadi karena untuk meninggalkan dosa, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan biadab dan mungkar”, bukan bahwa kebaikan tersebut betul-betul menghapus dosa secara hakiki. Ini adalah pendapat sebagian kaum Mu’tazilah.

Ibnu ‘Abd al-Barr berkata: sebagian ustadz pada masa ini beranggapan bahwa kebaikan menghapus dosa-dosa, dan mereka beralasan dengan ayat ini serta ayat-ayat lain dan hadis-hadis nan secara lahir menunjukkan perihal tersebut. Ia berkata: namun perihal itu dibantah oleh adanya perintah untuk bertobat dari setiap dosa besar; seandainya kebaikan dapat menghapus seluruh dosa, maka tidak diperlukan lagi tobat.

Hadis ini juga dijadikan dalil bahwa tidak wajib hudud pada kasus ciuman, sentuhan, dan semisalnya, serta gugurnya ta’zir bagi orang nan melakukan hal-hal tersebut kemudian datang dalam keadaan bertobat dan menyesal.

Ibnu al-Mundzir menyimpulkan darinya bahwa tidak ada balasan hudud bagi orang nan didapati berbareng seorang wanita non-mahram dalam satu pakaian.

Dengan demikian, 3 ibadah penghapus dosa, ialah taubat membuka pintu. Istighfar menjaga arah. Kebaikan membersihkan jejak. Semoga bermanfaat.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah