Netflix sekarang semakin banyak mempunyai koleksi animasi orisinal nan berkualitas. Setelah sebelumnya lebih banyak menambah koleksi serial anime di katalognya, serta animasi sitcom barat populer, sekarang pilihan tontonan animasi kita semakin banyak nan terasa segar di platform streaming ini. Mulai dari serial penyesuaian video game, penyesuaian komik, hingga buahpikiran nan betul-betul baru.
Animasi Netflix Original mempunyai keragamman style dan tema, lantaran menjadi hasil dari studio dan pembuat nan berbeda-berbeda. Jika bisa diidentifikasi karakter unik animasi-animasinya, animasi Netflix nan sukses kerap mempunyai presentasi visual nan penuh gaya, karakter-karakter unik nan berkesan, hingga intipati nan terlihat baru dalam skenanya. Mulai dari berlatar di bumi fantasi, futuristic cyberpunk, hingga nan bermuatan sejarah, berikut sederet serial animasi terbaik di Netflix saat ini.
Pluto
“Pluto” menjadi anime Netflix Original terbaru nan diadaptasi dari manga legendaris. Ini menjadi reboot dari “Astro Boy” nan mungkin lebih familiar di kalangan mainstream. Namun ini jenis terbaru dengan latar dan visi cerita sci-fi nan lebih kompleks. Berlatar di masa depan, ketika manusia dan robot telah hidup selaras setelah pecahnya peperangan brutal. “Pluto” mengangkat tema trauma pasca dan pesan anti-perang.
Kita bakal mengikuti protagonis Gesicht, detektif robot dari Jerman sekaligus veteran perang. Ia keliling bumi untuk menginvestigasi kasus pembunuhan nan melibatkan manusia dan robot. “Pluto” mempertahankan style visualnya unik Naoki Urasawa nan ikonik, diakselerasi dengan animasi dan diagram nan lebih menggugah, didukung dengan musiknya nan epik.
Scott Pilgrim: Takes Off
Jauh dari ekspektasi penonton nan familiar dengan movie live-action “Scott Pilgrim vs. the World”, “Scott Pilgrim: Takes Off” adalah serial animasi terbaru Netflix nan bakal melampaui ekspektasi kita. Initisari plotnya tetap sama, dimana Scott Pilgrim jatuh dengan Ramona Flowers. Namun ini tidak bakal menjadi proses pendekatan nan mudah, lantaran Scott kudu melawan ketujuh mantan jahat Ramona. Namun sejak akhir bagian pertma, kita bakal mendapati gimana serial ini bakal mempunyai plot nan jauh berbeda.
Dengan diadaptasi dalam medium animasin, “Scott Pilgrim: Takes Off” mempunyai visual nan tidak dibatasi lagi dengan realita. Presentasi karakter dan kekuatan masing-masing terlihat lebih imajinatif dan spektakuler. Jika jenis filmnya setiap mantan hanya tampil sebagai antagonis satu dimensi, serial ini membikin setiap karakterter terlihat lebih keren apalagi loveable. Tak ketinggalan pilihan lagu-lagunya juga serasi dengan animasinya.
Blue Eye Samurai
“Blue Eye Samurai” adalah animasi Netflix terbaru dari studio barat namun mengadaptasi cerita dan estetika Jepang era Edo nan menawan. Kisah konsentrasi pada sosok samurai ras campuran bermata biru, Mizu. Demi membalaskan dendamnya, dia belajar membikin dan menguasai pedang. Hingga akhirnya dia menjelajahi Jepang untuk menemukan salah satu dari Iblis dari Barat namalain orang kaukasian nan membikin hidupnya susah sejak lahir ke dunia.
“Blue Eye Samurai” memberikan presentasi tema samurai dengan pertarungan epiknya, kekerasan sadis dan erotisme sebagai nuansa pendukung nan solid. Ini adalah serial bertema samurai untuk penonton dewasa nan artistik. Hanya bakal semakin seru dan menarik seiring kita mengikuti perkembangan episodenya.
Mizu sebagai protagonis mempunyai latar belakang dan penokohan nan sangat memikat. Begitu pula sederet karakter pendukung nan berkesan dengan arc masing-masing, lebih dari sekadar karakter filler.
Ooku: The Inner Chambers
“Ooku: The Inner Chambers” bisa jadi anime Netflix Original underrated. Ooku sendiri adalah area paling dalam istana kekaisaran Jepang. Pada masanya, apa nan terjadi di Ooku, tidak boleh sampai bocor ke luar istana.
Ketika penyakit cacar merah meneror setiap anak laki-laki di Jepang, ada pergantian peran kelamin terjadi di masyarakat. Dimana anak laki-laki dilindungi, hidup terisolasi di rumah, sementara para wanita pekerja di ladang. Hal ini tak luput dari posisi kekaisaran Jepang, ketika garis kepemimpinan diturunkan pada seorang putri.
“Ooku: The Inner Chambers” menjadi anime drama period dengan aliran fiksi sejarah dengan premis nan sangat menarik untuk dieksplorasi. Serial ini juga memberikan pemahaman bakal peran kelamin dari perspektif pandang dan contoh kasus nan tidak biasa. Berusaha mencari kebenaran dari latar belakangan kejahatan dan penyalahgunaan kekuasaan nan lebih dari sekadar kejahatan gender.
Arcane
“Arcane” animasi Netflix Original akhirnya dikonfirmasi bakal merilis season keduanya pada 2024 mendatang. Animasi penyesuaian video game “League of Legends” ini tetap menjadi salah satu primadona di platformnya. Menceritakan drama tragis dari keretakan persaudaraan antara Vi dan Jinx, serta sumber daya daya baru nan bisa membawa era baru untuk Plitover dan Zaun dengan kesenjangan sosialnya.
Lebih dari sekadar fanservice untuk fans “League of Legends”, Riot mempunyai visi nan lebih luas dengan menghadirkan animasi nan bisa dinikamti oleh segmentasi penonton nan lebih luas.
“Arcane” dengan sabar membangun cerita pada season pertamanya, begitu pula eksekusi animasinya nan memenuhi ekspektasi para penonton nan familiar dengan cinematic video nan selama ini telah diluncurkan oleh Riot Games di setiap musim.
Cyberpunk: Edgerunners
Satu lagi serial animasi penyesuaian video game terbaik di Netflix adalah “Cyberpunk: Edgerunners”. Rilis berbarengan dengan pembaruan terbaru dari video game-nya, animasi ini juga bisa memikat penonton di luar fandom “Cyberpunk”.
David Martinez berguru di sekolah terbaik, ibunya berambisi dia bisa naiki tangga sosial dan menjadi bagian dari Corpo. Namun, tragedi nan meninggalkan luka membikin Martinez justru menjadi seorang Edgerunners dengan kehidupan keras di jalanan.
“Cyberpunk: Edgerunners” tetap menjadi animasi Netflix Original terbaik nan dikonfirmasi oleh kreatornya tidak bakal mempunyai season berikutnya. Ini lantaran akhir cerita sudah dianggap sempurna oleh penulisnya, dan semua penonton juga setuju bakal perihal itu.
‘Edgerunners’ mengeksplorasi tema sosial, masyarakat futuristik, dan ancaman modifikasi tubuh dengan teknologi terbaru, serta sentimental cinta dan persahabat. Pacing nan sigap dan konten tindakan bergerak serta sadis dijamin bakal memanjakan penonton fans aliran action.
The Dragon Prince
“The Dragon Prince” adalah animasi Netflix Original bergenre fantasi, mengikuti petualangan Callum dan Ezran, pangeran dari ras manusia berbareng pembunuh dari bangsa peri, Rayla. Keduanya sama-sama mengharapkan perdamaian dan menghindari perang antar ras, dengan mengembalikan telur naga nan dicuri.
Animasi ini diciptakan oleh Aaron Ehasz dan Justin Richmond. Seperti animasi berlatar khayalan lainnya, “The Dragon Prince” mempunyai world building nan kaya dan memikat. Kualitas animasi 3D-nya juga tak kalah memukau dengan presentasi warna nan vibrant. Ini juga menjadi movie animasi dengan segmen tindakan nan dieksekusi dengan dinamis.
Blood of Zeus
Satu lagi serial animasi Netflix nan jauh dari spotlight adalah “Blood of Zeus”. Animasi ini diadaptasi dari mitologi Yunani nan sudah tidak asing lagi bagi beberapa dari kita. Siapa nan tidak kenal dengan Zeus dan reputasinya berselingkuh dengan deretan wanita di Bumi. Heron merupakan anak haram Zeus, hidup dalam kemiskinan dan pengasingan lantaran dianggap pembawa apes oleh penduduk di tempat tinggalnya. Namun jati diri Heron berpotensi membawanya pada takdir sebagai penyalamat Bumi dan Olympus.
Sebagai animai dengan latar Yunani antik dan dewa dewi nan agung, “Bloof of Zeus” diiringi dengan musik serta presentasi animasi nan menggugah. Serial ini juga dipenhi dengan sekuen tindakan dan pertarungan antar dewa dewi nan menggelegar. “Blood of Zeus” juga telah diumumkan bakal mendapatkan Season 2.
Castlevania
Sebelum “Arcane” dan “Cyberpunk: Edgerunners”, “Castlevania” adalah movie animasi diadaptasi video game di Netflix. Serial bergenre khayalan nan dikembangkan oleh Warren Ellis, mengeksplorasi latar bumi khayalan nan gelap dengan vampir, iblis, dan praktek sihir. Fokus pada Trevor Belmont, nan terakhir dari kaum pemburu, dia mempunyai misi untuk melawan vampir penguasa.
“Castlevania” terkenal dengan latar gelapnya nan dewasa, narasi penuh intrik, dan sekuen segmen laga nan menegangkan. Serial ini cukup terkenal dan menuai pujian berkah animasinya nan atmospheric dan karakter-karakter nan kompleks penokohannya. Ini juga menjadi contoh serial penyesuaian video game nan memikat tak hanya untuk fans game-nya, namun juga penonton baru nan menyukai tema dark fantasy.
Love, Death + Robots
“Love, Death & Robots” adalah seri animasi anthology bergenre sci-fi, menjadi wahana eksplorasi animasi nan beragam dari produser David Fincher dan Tim Miller. Setiap bagian menghadirkan cerita nan berbeda-berbeda dan unik. Latarnya seputar peradaban futuristik, khayalan bernuansa gelap, hingga seram sureal. Latar tersebut telah menjangkau beragam cerita seputar kerumitan cinta, kematian nan tidak terhindarkan, dan akibat perkembangan teknologi di peradaban manusia.
Dengan eksekusi animasi nan berani dan berbeda dalam setiap episodenya, “Love, Death & Robots” memikat penonton dengan ketegangan cerita, topik nan menantang pemahaman kita, serta menerobos batas dan tantangan bakal ekspektasi kita. Baik topik nan diangkat dalam naskah, maupun aplikasi style animasi nan hendak dipertontonkan. Ini seperti “Black Mirror” namun lebih semarak dan imajinatif secara visual.
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·