“Venus” menjadi album keempat penyanyi Swedia, Zara Larsson nan kembali pada root-nya. Menunjukan kemampuannya dalam menggabungkan hits terkenal dengan lagu-lagu cinta nan personal. Layaknya “Poster Girl” sebagai album debut suksesnya pada 2021, dimana sang penyanyi percaya diri dalam kreatifitas dan mempunyai visi nan jelas untuk musiknya.
Tujuh tahun setelah kerjasama hits ‘This One’s For You’ pada 2016, Larsson kembali kerja sama dengan David Guetta dalam proyek terbarunya. Mereka juga membujuk sederet produser dan penulis lagu top untuk meningkatkan pengarahan musik. Dalam “Venus”, vokal Larsson terdengar lebih hidup diiringi musik dengan aransemen nan baik. Seperti sewajarnya album pop nan bersiap untuk memberikan warna dan musik baru untuk didengarkan.
The Gist:
“Venus” menjadi album nan menyakinkan bahwa Larsson memang paling terdengar nyaman ketika kembali ke root-nya, Scandipop. Namun kali ini tetap menggunakan statusnya sebagai pop princess dalam skenanya sendiri, sembari menari dalam sisi lain dalam kepribadian dreamy dan ethereal-nya. Mengambil inspirasi dari nama dewi Romawi, “Venus” memandang cinta dalam konsentrasi nan berbeda.
“Venus” merupakan fase baru dari Zara Larsson. Kini terdengar gimana sang musisi sudah lebih luwes dan menikmati karirnya, terpancar melalui musik-musik terbarunya ini.
Setiap musisi selalu menemukan fase ini dalam karir mereka, ketika komersial dan ekspektasi tinggi tampaknya tidak terlalu membebaninya, giliran Larsson nan menikmati fase ini. Namun album ini tetap menjadi awal. Ketika dia menyadari bahwa mencoba perihal baru dan menerobos pemisah tidak mengurangi koneksinya pada pendengarnya, dia bakal semakin tidak terhentikan.
Sounds Vibe:
Zara Larsson mendeskripsikan “Venus” sebagai album dengan 12 track nan ‘super fun’, ‘dancey’, dan koleksi dari lagu-lagu nan membikin pendengarnya merasa lebih baik.
Jika penjelasan terdengar generik, ekspektasi ini menjadi keputusan nan cukup cerdas dari Larsson untuk memisahkan albumnya dari tren pop dengan konsep nan extravaganza dan sederet lagu dengan makna dan teka-teki kompleks. Bagi Larsson, pop adalah musik nan menyenangkan dan itu sudah lebih dari cukup dalam beberapa kesempatan.
Seperti “You Love Who You Love” nan campy, dikomposisi dengan irama nan membikin pendengarnya menari, dengan chorus penuh semangat, melantunkan syair tentang menyadarkan kawan nan sedang dibutakan cinta. Sementara ‘Can’t Tame Her’ mengingatkan kita pada ‘Blinding Lights’. Kemudian ‘None of These Guys’ dengan nuansa dance house, Larsson membikin daftar tentang sungguh lelakinya adalah nan terbaik jika dibandingkan dengan laki-laki lain nan berupaya menggodanya.
Best Tracks:
Secara tidak langsung mengambil pesona ‘Blinding Lights’ dari The Weeknd nan sukses, ‘Can’t Tame Her’ otomatis disambut baik dengan pendengar pop lantaran familiar dengan vibes-nya sudah terkenal asik dan catchy. Dimana terasa semakin kuat pada bagian chorus, dengan sentuhan teriakan punky pada penyanyi latar.
‘None of These Guys’ menjadi salah satu track terbaik dalam tracklist, sayang sekali durasinya apalagi tak sampai 3 menit. Sepanjang lagu ada mood melankolis nan juga dicampur dengan musik pop energetik. Vokal Zara Larsson kemudian menonjol pada chorus, kemudian produksi track secara keseluruhan mengemas semuanya jadi satu paket track pop minimalis nan memikat.
Secara keseluruhan, “Venus” menjadi semacam arena penelitian bagi Zara Larsson, meski bukan secara musikal. Ini menjadi album come back, ini tetap awal dari fase baru sang penyanyi nan semakin nyaman dengan musiknya sendiri tanpa tekanan bakal ekspetasi pasar sesuai tren.
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·