The Ugly Stepsister Review: Dongeng Berdarah tentang Obsesi Menjadi Cantik

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

‘The Ugly Stepsister’ adalah debut panjang sutradara Norwegia Emilie Blichfeldt nan berani dan mengguncang. Film ini memutarbalikkan dongeng klasik Cinderella menjadi kisah body horror nan grotesk, menyakitkan, dan penuh kritik terhadap obsesi masyarakat terhadap kecantikan.

Dengan latar abad ke-18 nan suram, movie ini mengikuti Elvira (Lea Myren), seorang gadis nan dianggap jelek, nan rela melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian Pangeran Julian dan mengalahkan kerabat tirinya nan sempurna, Agnes.

Naskah nan ditulis sendiri oleh Blichfeldt mengambil inspirasi dari jenis gelap cerita Cinderella oleh Brothers Grimm. Namun, alih-alih konsentrasi pada Cinderella, cerita berpusat pada Elvira, nan dipaksa oleh ibunya, Rebekka, untuk menarik perhatian sang pangeran demi menyelamatkan family dari kemiskinan.

Elvira menjalani serangkaian prosedur kecantikan nan menyakitkan dan menjijikkan, termasuk menelan cacing pita untuk menurunkan berat badan dan operasi plastik primitif nan mengerikan. Ketika upayanya gagal, dia apalagi memotong jari kakinya agar muat dengan sepatu kaca nan ditinggalkan Agnes.

the ugly stepsister

Cerita ini tidak hanya menyajikan seram fisik, tetapi juga menggali trauma psikologis dan tekanan sosial nan dialami Elvira. Blichfeldt sukses menyampaikan kritik tajam terhadap standar kecantikan nan tidak realistis dan dampaknya terhadap individu.

Sinematografi oleh Marcel Zyskind menghadirkan visual nan memukau dan mengganggu. Penggunaan pencahayaan alami dan palet warna nan suram menciptakan atmosfer nan menekan dan menakutkan. Efek visual dan tata rias prostetik digunakan secara efektif untuk menampilkan transformasi bentuk Elvira nan mengerikan, membikin penonton merasa tidak nyaman namun terpikat.

the ugly stepsister

Lea Myren memberikan penampilan nan luar biasa sebagai Elvira, menggambarkan transformasi dari gadis polos menjadi sosok nan terobsesi dan hancur secara bentuk dan mental. Thea Sofie Loch Næss sebagai Agnes menampilkan kontras nan tajam dengan kecantikannya nan sempurna namun dingin. Ane Dahl Torp sebagai Rebekka, ibu nan manipulatif, menambahkan lapisan kompleksitas pada dinamika family nan disfungsional.

‘The Ugly Stepsister’ mengeksplorasi tema obsesi terhadap kecantikan, tekanan sosial, dan identitas diri. Film ini mengkritik gimana masyarakat menilai perseorangan berasas penampilan bentuk dan gimana tekanan tersebut dapat menghancurkan seseorang dari dalam, apalagi luar. Dengan pendekatan body horror, Blichfeldt menyampaikan pesan bahwa kecantikan nan dipaksakan dapat berujung pada kehancuran.

‘The Ugly Stepsister’ adalah movie nan berani dan menggugah, menggabungkan komponen seram dengan kritik sosial nan tajam. Meskipun beberapa segmen mungkin terlalu ekstrem bagi sebagian penonton, movie ini sukses menyampaikan pesan krusial tentang ancaman obsesi terhadap kecantikan. Dengan sinematografi nan kuat, akting nan memukau, dan naskah nan provokatif, movie ini layak mendapat perhatian.

Sebuah reinterpretasi dongeng klasik nan mengerikan dan menggugah, ‘The Ugly Stepsister’ menawarkan pengalaman sinematik nan tak terlupakan dan penuh makna.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura