Penampilan Colin Farrell dalam “The Batman” (2022) telah menjadi pondasi dari antisipasi bakal miniseries HBO, “The Penguin”. Namun tanpa menonton movie superhero nan disutradarai oleh Matt Reeves tersebut, dijamin tetap bisa menikmati serial ini selama, kurang lebih, memahami Gotham City, fans semesta DC, dan serial bertema mafia.
“The Penguin” konsentrasi pada sepak terjang Oswald “Oz” Cobb (alias The Penguin) di pasca meninggalnya Carmine Falcone, kepala dari Falcone, salah satu family mafia nan berkuasa di Gotham City. Satu “keteledoran” Oz telah membuatnya masuk dalam lingkaran perseteruan antara family mafia Falcone dan Maroni.

Ketika Tak Ada Batman nan Menghalangi Aksi Para Mafia Gotham
“The Penguin” diciptakan oleh Lauren LeFranc, namun Matt Reeves tetap ada dijajaran produser. Membuat serial ini tetap mempunyai tone nan serupa dengan movie “The Batman”.
Serial ini adalah kisah bumi mafia kelas kakap di Gotham City tanpa ada intervensi Batman. Kalau menyukai semesta mafia seperti “Peaky Blinders”, “The Godfather”, terutama “The Sopranos”, dijamin bakal sangat menikmati “The Penguin”.
Kita bakal dibuat mendukung, bersimpati, hingga akhirnya membenci Oz nan sejatinya adalah villain dalam semesta DC. Berpindah-pindah “kesetiaan” demi kepentingannya sendiri di tengah bentrok Falcone dan Maroni. Terutama dalam agenda menguasai jenis obat terlarang baru, Bliss. Oz percaya, siapapun nan ngendalikan Bliss bakal menggenggam Gotham di tangan mereka.
“The Penguin” didominasi drama pidana dengan percakapan-percekapan nan menegangkan dan berbobot. Mulai dari upaya mencapai kesepakatan dalam bumi mafia, hingga percakapan manipulatif nan mengintimidasi. Ada pula plot drama family penuh tragedi nan mendukung emosi dalam cerita, terutama untuk latar belakang masing-masing karakter. Juga ada segmen tindakan kejar-kejaran dan pertarungan gang dengan baku tembak dan ledakan.

Colin Farrell dan Sederet Aktor Lainnya Tampil Berkesan
Colin Farrell telah menuai pujian sebagai The Penguin dalam “The Batman”. Serial ini lebih dari sekadar mengeksploitasi momentum tersebut, namun menjadi penguat dari kesuksesan portrait DC villain terbaru di era modern ini (setelah Joker). Tak hanya didukung oleh tata rias nan juara, karakter Oz tidak bakal meninggalkan kesan tanpa pendekatan Farrell dalam aktingnya.
Selain Colin Farrell, deretan cast utama “The Penguin” juga meninggalkan kesan nan tak kalah kuat. Cristin Milioti sebagai Sofia juga tampil mempesona sebagai antagonis utama. Latar belakang dan perkembangan karakternya nan kompleks sukses dipresentasikan dengan padat dan semakin menguatkan serial “The Penguin”, mengeksplorasi sisi gelap dari Gotham.
Rhenzy Feliz sebagai Victor juga menjadi favorit penggemar. Karakternya menjadi representasi dilema moral nan dialami oleh pemuda dengan hati baik di Gotham. Tak lupa chemistry-nya dengan Oz nan bisa menyentuh sekaligus mematahkan hati penonton.
Deirdre O’Connell juga tampil total sebagai Francis, ibu Oz nan kompleks. Baik secara mental, maupun kondisi fisiknya nan semakin memburuk lantaran penyakit nan diidap. Interaksi Oz dengan setiap karakter mempunyai kompleksitas emosi nan berkesan dan susah untuk dilupakan dalam waktu singkat.

Alasan Formula Supervillain The Penguin Berhasil Memikat Penontonnya
Trend superhero dan supervillain di media telah mengalami perubahan dari masa ke masa. Beberapa tahun belakangan, villain kerap ditampilkan dengan skenario nan menimbulkan simpati pada penontonnya. Contoh nan paling terkenal seperti serial “Loki” hingga movie “Joker” oleh Todd Phillips.
Ketika formula nan sama terus diulang-ulang, timbul kejenuhan dan gairah bakal trend baru. “The Penguin” tampil sebagai kisah supervillain tanpa rasa maaf nan segar tahun ini. Bahwa tidak semua orang villain adalah orang baik nan menjadi korban. Beberapa villain memang terlahir jahat dan tidak memerlukan simpati sekalipun kita telah mengetahui latar belakang dan masa lampau mereka.
Namun perihal tersebut tak lantas membatasi kita untuk terpikat dengan kisahnya. “The Penguin” sukses mengembalikan villain pada tempatnya; penjahat, pengkhianat, licik, egois, dan psikotik. Penokohan tersebut ditampilkan dengan konsisten dari awal hingga bagian terakhir.
Secara keseluruhan, “The Penguin” telah menjadi serial terbaru HBO nan memberikan penawar tidak terduga. Mengingat beberapa serial antisipatif tahun ini seperti “The Boys” Season 4 dan “House of the Dragon” Season 2 nan underwhelming. Semoga karakter villain dari DC dalam semesta ini kedepannya juga mendapatkan kualitas naskah nan sama memikatnya.
1 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·