“The Iron Claw” adalah movie drama biopik nan disutradarai oleh Sean Durkin tentang pegulat Von Erich bersaudara. Kevin Von Erich (Zac Efron), Kerry Von Erich (Jeremy Allen White, “The Bear”), dan David Von Erich (Harris Dickinson, “A Murder at the End of the World”) adalah tiga putra jagoan Fritz Von Erich (Holt McCallany), mantan pegulat nan mewariskan jurus andalannya, ‘iron claw’, pada anak-anaknya.
Film biopik ini konsentrasi pada kisah jatuh bangun Von Erich berkerabat selama diarahkan oleh ayahnya menjadi pegulat dengan ambisi gelar juara bumi sejak 1979 hingga 1990an di Texas.
Dalam narasi dramatisasinya, Kevin Von Erich merasa bahwa family “dikutuk” semenjak ayahnya mengganti nama keluarganya menjadi Von Erich, nan akhirnya menjadi nama panggung mereka.
“The Iron Claw” bukan drama biopik nan inspiratif seperti “King Richard” (2021), dimana movie biopik tersebut juga tentang ayah nan mengarahkan anak-anaknya menjadi atlet sukses.
Film biopik olahraga ini lebih mengeksplorasi obsesi Fritz nan akhirnya membawa tragedi pada anak-anaknya. Namun tetap ada pelajaran nan bisa kita dapatkan dari kisah Von Erich berkah penulisan naskahnya nan menghargai subyeknya.

Biopik Menggugah Tentang Para Pegulat nan Kuat Sekaligus Rapuh
Bicara tentang bumi olahraga dengan perjuangan atlet profesional, apalagi olahraga gulat, ‘kekuatan’ menjadi ekspektasi nan jelas. Namun “The Iron Claw” mempunyai tema nan memikat dengan memadukan kekuatan dan kerapuhan. Bahwa pegulat nan kuat sekalipun juga mempunyai sisi nan sangat rentan dalam diri mereka. Baik secara bentuk maupun mental, setiap putra Von Erich mempunyai perjuangan masing-masing dengan kekuatan dan kerapuhan masing-masing. Ada topik toxic masculinity juga, diperlihatkan melalui pola asuh sang ayah, namun tanpa dramatisir berlebihan.
Lebih banyak emosi depresif dan kegelisahan nan mendominasi “The Iron Claw”. Ini bukan movie nan mudah untuk ditonton buat nan kurang menyukai perkembangan plot dengan kesialan demi kesialan. Namun nan membikin naskah biopik ini menawan secara keseluruhan adalah level dramatisirnya.
Tanpa dipresentasikan dengan brutal, adegan-adegan nan tenang tetap terasa tragis dan menghancurkan hati mengingat bahwa semua ini betul-betul dialami oleh Von Erich berkerabat nan malang.

Adaptasi Tragedi Keluarga Von Erich nan Menghormati Subyeknya
Tidak semua movie biopik menyajikan kisah nan heroik dan inspiratif, tak sedikit nan mengeksplorasi tragedi dan kejatuhan seorang figur publik. “The Iron Claw” berbagi spektrum dengan film-film biopik melankolis lainnya seperti “Spencer” (2021), “Jackie” (2016), hingga “First Man” (2018).
Satu lagi kesamaan “The Iron Claw” dengan film-film tersebut adalah rasa hormat nan dimiliki oleh Sean Durkin sebagai sutradara dan penulis naskah, pada subyek sumbernya ialah family Von Erich. Kita bisa merasakan empati Sean Durkin melalui caranya memvisualisasikan adegan, penyampaian dialog, dan ramuan dramatisir nan minim.
Dramatisasi dalam movie biopik adalah sesuatu nan tidak terhindarkan, namun dramatisasi “The Iron Claw” lebih diarahkan ke emosi nan melankolis, kemudian diakhiri dengan nuansa manis getir dan pengharapan. Ini baru langkah mengenang nan betul dengan movie biopik nan diadaptasi dari tragedi sungguhan. Bukan dieksploitasi seperti beberapa movie biopik tragedi belakangan nan lebih menekankan pada tragedinya daripada tribute-nya.
Sebagai penonton Indonesia, banyak dari kita nan mungkin tidak familiar dengan Von Erich bersaudara. Namun ini bukan movie biopik nan bakal kita tonton demi kecermatan dan arena membanding-bandingkan dengan kenyataannya.
Lepas dari itu, kisah nan disampaikan melalui “The Iron Claw” tetap sukses memikat secara umum tentang perjuangan atlet ahli nan relevan dengan kehidupan dalam beragam situasi. Jika ini adalah media pertama nan memperkenalkan kita pada Von Erich bersaudara, sungguh beruntungnya kita bisa mengenal mereka melalui movie nan berbobot ini.
Penampilan Total Zac Efron, Jeremy Allen White, dan Harris Dickinson
Tidakkah kita mulai jenuh membandingkan kesamaan bentuk dan pembawaan setiap tokoh dengan figur aslinya dalam setiap movie biopik? Apalagi penonton Indonesia tidak familiar dengan Von Erich bersaudara. Namun dalam persiapan fisiknya, kita bisa memandang Zac Efron, Jeremy Allen White, dan Harris Dickinson totalitas dalam mencapai tubuh ideal pegulat. Hal ini berkah diet ketat, fitness, hingga latihan unik gulat profesional, nan membikin aktor-aktor ini bisa melakukan beragam stunt di dalam ring gulat.
Lepas dari penampilan bentuk nan meyakinkan, kualitas akting ketiga tokoh ini nan patut diapresiasi lebih. Bukan lantaran lihai meniru pembawaan tokoh aslinya, namun keahlian mereka dalam mengekspresikan gejolak emosi nan dialami setiap karakter. Mulai dari topeng kuat, kerapuhan di dalam diri mereka, kegelisahan, dan kesedihan. Bermain peran sebagai saudara, ketiga tokoh berserta Stanley Simons nan menjadi anak bungsu, Mike Von Erich, memberikan chemistry nan kuat dibangun dari awal. Membuat setiap tragedi nan mereka alami seiring plot melangkah semakin berdampak.
Zac Efron jadi nan paling bersinar, lantaran porsi perannya nan memberikan kesempatan lebih baginya unjuk gigi. Bisa jadi penampilan terbaik Zac Efron sejauh ini. Narasi juga konsentrasi pada perspektif pandang Zac Efron sebagai Kevin, membikin karakternya mempunyai tugas untuk membikin penonton berempati dengannya, dimana tugas tersebut telah dilakoni oleh Zac Efron dengan baik.
“The Iron Claw” adalah movie tentang perjuangan atlet pegulat, obsesi, toxic masculinity, dan persaudaraan nan sangat kuat lepas dari beragam rintangan nan dialami Von Erich bersaudara. “The Iron Claw” bisa di-streaming di KlikFilm.
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·