The Creator Review: Memikat dengan Visual Efek Juara dan Naskah Sci-fi Orisinal

Sedang Trending 2 tahun yang lalu

“The Creator” merupakan movie sci-fi nan disutradarai oleh Gareth Edwards, sebelumnya menyutradarai “Rouge One: A Star Wars Story”. Kali ini sang sutradara berbareng Chris Weitz memproduksi naskah orisinal.

Dibintangi oleh John Davis Washington, dia adalah seorang mantan militer. Setelah mengalami kehilangan tragis, dia menerima misi untuk menghancurkan AI (Artificial Intelligence) nan berpotensi sebagai senjata mutakhir pemusnah umat manusia.

Gareth sendiri menyebutkan, bahwa dia terinspirasi oleh film retro sci-fi ikonik seperti “Blade Runner” dan “E.T. the Extra-Terrestrial”, memang terlihat dalam beberapa aspek cerita. Namun “The Creator” tetap menyajikan plot dan sentimen baru dalam naskahnya secara keseluruhan. Selain Washington, adapun Gemma Chan, Ken Watanabe, Allison Janney, dan aktor-aktor lainnya nan meramaikan movie ini. “The Creator” sekarang sudah bisa kita streaming di Disney+ Hotstar.

Film Epic Fantasy Orisinal Patut Dapat Apresiasi Lebih

Pada titik ini, film epic fantasy dengan tema kecerdasaan buatan nan menakut-nakuti eksistensi manusia sudah banyak. Namun “The Creator” menjadi nan terbaru dan spesial lantaran buahpikiran cerita nan orisinal dalam skenanya. Menggunakan protagonisnya dengan latar belakang mantan militer nan kehilangan keluarganya lantaran AI dan senjata dalam bentuk anak kecil, adalah premis nan lebih menarik dari kelihatannya setelah kita memberikan kesempatan pada movie ini.

Lebih dari sekadar movie sci-fi penuh aksi, ada komponen heartwearming dalam skenario road trip nan menunjukan hubungan protagonis dengan AI nan dalam pengawasannya.

Salah satu komponen paling krusial dalam latar epic fantasy seperti ini adalah world building. Meskipun tidak dipresentasikan secara mendetail, perihal tersebut tidak terlalu mengganggu cerita dalam jangkauan nan lebih luas. Hal ini terutama lantaran hubungan manusia dengan AI nan disajikan dengan sentimen nan menyentuh hati manusia kita.

Buat nan tetap percaya bahwa “The Creator” adalah film sci-fi nan generik, buktikan sendiri dengan menonton movie ini. Sayangnya, mungkin banyak dari penonton nan kurang tertarik dengan movie khayalan terbaru dengan semesta nan sangat asing. Padahal orisinalitas patut diberi apresiasi tinggi dalam industri nan sekarang didominasi materi adaptasi.

Penampilan Aktor Cilik, Madeleine Yuna Voyles nan Mencuri Hati

“The Creator” menjadi movie debut dari Madeliene Yuna Voyles sebagai Alphie, dan dia bercahaya dengan aktingnya. Sebagai aktris pendukung dengan usia belia (sekitar 7 tahun ketika syuting movie ini), Madeliene justru sajikan tampil nan lebih mencuri hati penonton.

Sementara kualitas akting John Davis Washington sebagai protagonis tidak bisa dibilang nan terbaik dalam movie ini. Namun penampilannya tertutupi oleh penampilan Madeleine, lantaran karakter mereka juga menjadi salah satu argumen movie ini sukses dalam presentasi drama dengan sentuhan sentimentalnya.

Selain Madeliene, aktris Gemma Chan juga memberikan penampilan akting berkesan dalam movie ini. Sebelumnya dia terkenal melalui movie MCU, “Eternals” kemudian “Don’t Worry Darling”. Dalam movie ini, dia berkedudukan sebagai istri protagonis berjulukan Maya. Kemudian banyak karakter pendukung dalam “The Creator” juga tampil berkesan, terutama mereka nan berada di kubu antagonis. Dimana krusial untuk memberikan ketegangan dan urgensi dalam plotnya.

Produksi Efek Visual Juara Didukung Musik Latar Hans Zimmer

“The Creator” kembali disorot oleh media setelah masuk dalam nominasi Best Visual Effects untuk Academy Awards ke-96. Meskipun penggunaan CGI pada movie Hollywood sekarang sudah seperti makanan sehari-hari, nan tetap menjunjung tinggi perincian dan kualiatas dari CGI tidak banyak, “The Creator” menjadi salah satu nan terbaik dalam skena epic fantasy pada 2023 kemarin.

Aplikasi CGI pada karakter, latar, dan beragam komponen lainnya mempunyai tingkat realisme nan tinggi. Presentasi visual memukau “The Creator” juga didukung oleh produksi tata busana dan tata rias nan tak kalah maksimal. Film seperti ini jika rilis pada era 2000an awal bisa menciptakan cult following dalam skena budaya pop. Kualitas visualnya bisa disandingkan dengan “Avatar”-nya James Cameron nan tetap dinobatkan sebagai salah satu movie modern dengan aplikasi CGI terbaik.

Film epic fantasy mempunyai nafas sempurna dengan aplikasi musik nan tepat. Hans Zimmer sebagai komposer musik latar movie memang tak pernah kandas memperdengarkan musik nan menggugah penontonnya. Visual nan sudah memukau diiringi dengan musik nan memikat, selalu dimasukan pada adegan-adegan nan tepat untuk memanipulasi emosi penonton.

Secara keseluruhan, “The Creator” merupakan film sci-fi terbaik dari 2023. Unggul dalam beragam aspek produksi teknikal, naskah orisinalnya pun patut diberi apresiasi dalam skenannya.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura