Sister Death Review: Horor Religi Artistik dengan Estetika Biara Kuno

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

“Sister Death” merupakan movie seram terbaru Netflix oleh Paco Plaza. Sutradara asal Spanyol ini terkenal melalui movie footage horror “Rec” (2007) dan “Veronica” (2017).

“Sister Death” sendiri merupakan prekuel dari “Veronica”, sempat dinobatkan sebagai salah satu movie Netflix Original terbaik dalam genrenya. Dipromosikan sebagai semesta horor, sepertinya Plaza mau membikin semesta seram seperti “The Conjuring” nan sukses. Popularitas Valak sebagai roh biarawati sadis sebetulnya membikin movie ini sekilas terlihat seperti jenis rip off-nya. Namun, ini bisa jadi movie seram nan lebih baik dari “The Nun II” nan rilis September 2023.

Berlatar setelah Perang Dunia II, suster Narcisa (Aria Bedmar) tiba di suatu biara untuk menjadi tenaga pengajar. Sejak kecil, dia terkenal sebagai ‘Gadis Suci dari Peroblasco’, disebut-sebut mempunyai hidayah memandang sesuatu nan tidak bisa dilihat oleh orang awam. Daripada hidayah nan berkarakter suci dan ilahi, rupanya suster Narcisa tetap tak percaya apa nan kekuatannya adalah pertanda dari Tuhan alias justru dari roh jahat. Kemampuannya pun diuji dengan kejadian supranatural di biara dengan sejarah kelam dan tragis.

Horor Religi Sajikan Visual Artistik Anti Bosan

Jika dibandingkan dengan film-film Plaza sebelumnya, “Sister Death” sejauh ini mempunyai presentasi sinematografi terbaik. Didominasi dengan warna putih dari latar gedung biara nan minimalis dan kuno, serta seragam suster nan putih melambangkan kesucian.

Secara visual, movie ini bukan berupaya untuk terlihat menyeramkan dan suram, justru hendak menampilkan letak nan semestinya tampak suci dan memberikan rasanya nyaman layaknya tempat suci. Desain seragam suster dan pernak-pernik ala Katolik kunonya sangat otentik.

Namun tone ceritanya nan suram membikin letak suci ini tampak menyeramkan dengan rahasia nan berdomisili di sudut-sudut kosongnya. Baik pada segmen siang hari maupun malam hari, horornya tetap terasa pada adegan-adegan nan dimaksud sebagai segmen krusial. “Sister Death” menampilkan eksekusi seni dari Paco Plaza nan hendak mengakselerasi sinematografi filmnya. Ini betul-betul peningkatan dari koleksi seram sang sutradara sebelumnya.

Sister Death Review

Kualitas Akting Aria Bedmar Membuat Penonton Merinding

Salah satu syarat nan kudu dipenuhi dalam movie seram untuk meninggalkan kesan pada penonton adalah penampilkan kuat dari bintang utamanya. Aria Bedmar bakal membikin kita terpikat sejak awal hingga akhir “Sister Death”. Memikul reputasi sebagai ‘Gadis Suci’, dia bisa tampil sebagai suster Narcisa nan tampak lugu dan lembut, namun rupanya juga bisa tegas sebagai pembimbing sekaligus tampil menyakinkan dalam adegan-adegan nan mengandung kekerasan. Setiap kali tampil ketakutan, terluka, maupun merasakan kesedihan mendalam, teriakannya bakal membikin kita merinding.

Tak hanya Bedmar, aktor-aktor pendukung dalam movie seram ini juga sukses menyandingi penampilan bintang utama. Baik aktor-aktor senior dan banyak juga tokoh muda juga nan melengkapi presentasi movie ini secara keseluruhan.

Karakter suster Narcisa sebetulnya mempunyai penokohan nan menarik. Ia sempat diperlihatkan ragu dengan sedang menjadi suster muda nan sedang bersiap mengambil kaul. Konflik pribadinya adalah apa pengelihatannya merupakan hidayah suci alias kutukan nan berkarakter supranatural. Sayangnya ini tidak lagi dieksplorasi dalam kelanjutan plot.

Plot Slow Burn Disertai Foreshadowing nan Melengkapi Skenario

“Sister Death” merupakan movie seram dengan eksekusi plot slow burn. Namun tidak membosankan lantaran penampilan aktrisnya nan memikat serta sinematografinya nan artistik. Film ini ditandai dengan plot nan dibagi dalam tiga babak; pertama pengenalan pada suster Narcisa, sosok gadis hantu nan mempunyai kekuatan untuk mengutuk, serta suster Socorro. Suster Socorro ini seumpama Valak-nya “Sister Death”. Babak pertama dan kedua diisi dengan foreshadowing nan kelak bakal serasi dengan babak terakhir sebagai jawaban.

Babak awal diisi dengan teror-teror minor. Mulai dari ilusi nan berkarakter mempermainkan psikologi, kejutan dari peralatan nan bergerak tiba-tiba, kemudian diiringi dengan bunyi dan musik nan mengagetkan. Baru babak terakhir kita bakal memandang segmen kematian sadis sekaligus. Sebetulnya ada kesan terburu-buru pada babak ketiga. Namun secara keseluruhan tetap bisa dipahami tanpa plot hole nan serius.

“Sister Death” lebih mengandalkan suasana dan kejanggalan di biara itu sendiri sebagai sumber horornya. Melihat gimana para suster menyembunyikan rahasia nan tidak mau terungkap, membikin mereka lebih mengerikan dibandingkan dengan suster Socorro nan menjadi sumber ancaman supranatural mematikan dalam kisah ini.

Secara keseluruhan, “Sister Death” merupakan movie seram slow burn nan artistik. Penampilan akting Aria Bedmar terutama nan sukses membikin penonton merinding, lantaran ancaman hantunya sebetulnya tidak terlalu mengerikan jika dalam segi wujudnya.

Film ini bisa ditonton meski belum menonton “Veronica”, karakter nan bakal muncul pada epilog. Jadi, jika menikmati “Sister Death” bisa banget langsung lanjut nonton “Veronica” di Netflix.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura