Robbie Williams Membayar Hutang Masa Lalu Lewat ‘Britpop’

Sedang Trending 7 bulan yang lalu

Sejarah musik Inggris baru saja mencatat tinta emas baru. Dengan rilisnya album studio ke-13 berjudul ‘Britpop’ pada Januari 2026, Robbie Williams resmi melampaui rekor The Beatles sebagai artis dengan album nomor satu terbanyak di Inggris (16 album). Namun, di luar nomor statistik nan mentereng, pertanyaan krusialnya adalah: Apakah album ini sebuah pencapaian artistik nan tulus, alias sekadar proyek nostalgia nan dipoles demi ambisi tangga lagu?

Narasi 1995 nan Terlambat Tiga Dekade

Robbie memasarkan Britpop sebagai “album nan mau dia buat setelah keluar dari Take That pada 1995.” Secara konsep, ini adalah langkah visioner sekaligus berisiko. Ia mencoba merebut kembali narasi era Cool Britannia nan dulu dia saksikan dari pinggiran, saat dia lebih dikenal sebagai lad nan doyan pesta daripada musisi kredibel.

Hasilnya adalah kolase musik nan energetik, berisik, dan penuh percaya diri. Dibuka dengan Rocket”, Robbie memberikan kejutan besar dengan menggandeng legenda Black Sabbath, Tony Iommi. Riff gitar nan berat dan kotor di lagu ini seolah mau menghapus gambaran “penyanyi swing” nan melekat padanya selama dua dasawarsa terakhir. Ini adalah Robbie nan liar, nan kita rindukan sejak era Life Thru a Lens.

Kolaborasi Tak Terduga dan Sentuhan Glam

Salah satu poin paling menarik adalah “Morrissey”, trek synth-pop nan ironisnya ditulis berbareng rival lamanya, Gary Barlow. Mendengarkan duo ini bekerja-sama dalam lagu nan merujuk pada ikon melankolis Inggris adalah sebuah momen “meta” nan cerdas. Begitu pula dengan “It’s OK Until The Drugs Stop Working”, sebuah epik nan dibalut orkestrasi megah ala Suede alias The Divine Comedy, nan berfaedah sebagai pengingat bakal sisi gelap hedonisme 90-an nan pernah nyaris menghancurkan Robbie.

Namun, sebagai pengulas nan skeptis, saya kudu menyoroti departemen lirik. Robbie tetaplah Robbie; dia tetap doyan menyelipkan rima-rima nan membikin dahi berkerut (cringe). Di lagu “Bite Your Tongue”, dia menyanyi dengan style punkish nan terasa agak dipaksakan untuk laki-laki berumur 51 tahun. Meski karismanya bisa menyelamatkan momen-momen kikuk tersebut, susah untuk tidak merasa bahwa beberapa lagu hanyalah pastiche (peniruan) belaka dari kejayaan masa lalu.

Masalah Teknis: Perang Volume nan Melelahkan

Dari sisi produksi, Karl Brazil dan Sam Miller sukses menangkap daya live band nan mumpuni. Sayangnya, album ini jatuh ke dalam lubang hitam Loudness War. Versi stereo digitalnya terasa sangat terkompresi (dengan dynamic range nan rendah), membikin telinga sigap capek jika mendengarkannya dalam lama lama. Jika kita mau menikmati kedalaman aransemen ‘Britpop’ secara maksimal, format Dolby Atmos adalah satu-satunya langkah untuk menyelamatkan perincian transien nan tenggelam di jenis standarnya.

Britpop bukan sekadar surat cinta untuk masa lalu; ini adalah pernyataan kekuasaan. Robbie Williams sukses membuktikan bahwa dia bukan sekadar artefak pop, melainkan penghibur ulung nan tahu langkah mengemas ulang sejarah. Meski secara musikalitas dia tidak menawarkan terobosan baru, kejujurannya dalam merayakan “kegagalan” masa mudanya membikin album ini terasa lebih berbudi pekerti daripada beberapa rilisan terakhirnya.

Ini adalah seremoni kemenangan bagi Robbie, meski secara teknis produksi, kita tetap menunggu hari di mana dinamika bunyi tidak dikorbankan demi volume nan memekakkan telinga.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura