Red Velvet tak diragukan sebagai salah satu girlband top tier di skena musik K-pop. Namun industri intermezo ini mempunyai arus berubahan dan regenerasi nan cukup sigap dari masa ke masa.
Kini kita sedang berada di era generasi ke-5, menjadi prestasi bagi Red Velvet dari generasi ke-3 menjadi salah satu nan tetap giat merilis kampanye terbaru untuk musik-musik mereka. Sayangnya, apa rilisan terakhir dari girlband ini nan meninggalkan kesan di media utama? Masa depan Irene, Joy, Yeri, Wendy, dan Seulgi juga dipertanyakan di SM Entertainment dengan waktu perpanjangan kontrak. “Chill Kill” menjadi rilisan nan diantisipasi lebih dari sekadar musiknya, namun menjadi jawaban dari kegelisahan para ReVeluv (nama fans Red Velvet).
“Chill Kill” menjadi studio album ketiga Red Velvet dengan single berjudul serupa. Mulai dari cover art, video klip, dan art concept ini menjadi rilisan ‘Velvet’ dari unit ini. Selama 9 tahun berkarya, Red Velvet dikenal dengan keahlian mereka juggling antara konsep nan ganjen dan ceria dengan gelap dan klasik.
Konsep awal nan tak lekang oleh waktu keunikannya untuk menjaga kontinuitas gambaran para membernya. “Chill Kill” sekilas terlihat seperti rilisan dengan tema nan gelap dan dewasa, namun kita tetap bakal mendengar semburat teatrikal ala negeri dongeng nan kerap disematkan dalam diskrogafi Red Velvet.
‘Chill Kill’ sebagai single utama sayangnya bukan pilihan terbaik sebagai starter untuk album ini. Ini pendekatan klasik dari Red Velvet nan berupaya mengaplikasikan beragam layer dan shifting dalam lagu seperti ‘Ice Cream Cake’ alias ‘Zimzalabim’, namun lebih classy, elegant, dan toned-down. Ini menjadi lagu nan mempresentasikan ‘tragedi dan harapan’.
Itu kenapa track diawali dengan melodi dari synth dan hantaman bass nan gelap, namun mengalami transisi nan ceria menuju chorus dengan pengarahan vokal nan tiba-tiba lebih riang. Kita bisa menangkap apa nan dimaksud dengan ‘tragedi dan harapan’ dengan shifting nan kontras ini, namun pada akhirnya ini tetap menjadi track terlemah dalam album.
Padahal ada lebih banyak single nan terdengar lebih memikat, catchy, dan mengaplikasikan komposisi shifting nan lebih mulus. ‘Nightmare’ bisa jadi track dengan pengarahan komposisi nan serupa dengan ‘Chill Kill’, namun eksekusinya lebih berhasil. Secara keseluruhan juga menjadi salah satu track terbaik dalam “Chill Kill”. Track ini dibuka dengan instrumen string orkestral, berpadu dengan komponen R&B dengan mid-tempo. Showcase vokal dalam track ini juga terasa lebih memukau, semestinya bisa menjadi single nan bakal lebih memikat pada masa promosi album ini.
Masih banyak lagi track terbaik dalam album ini seperti ‘Knock Knock (Who’s There?’, ‘One Kiss’, ‘Bulldozer’, tiga track nan paling mendekati standar K-Pop hits dengan konsep badass dan edgy populer. Ini bakal menjadi lagu nan sangat menarik untuk kita lihat para member Red Velvet tampilkan dengan koreografi tarian.
‘Knock Knock (Who’s There?)’ terangkai dari melodi lonceng nan misterius, bass line nan dalam dan mantap, dan selipan instrumen string nan membikin track terdengar lebih megah, terutama pada bagian chorus-nya nan catchy. Bicara tentang track ter-catchy, ‘Bulldozer’ bisa jadi nan paling catchy dalam “Chill Kill” dengan hook-nya ‘I’m your poet, I’m your pain’ nan terdengar seperti mantra.
Jika bisa memilih satu lagi track terbaik dalam “Chill Kill”, ‘Will I Ever See You Again?’ patut dinobatkan menjadi nan terbaik dari nan terbaik. Ini bakal menjadi tipikal lagu K-Pop underrated nan sayang sekali tidak lebih diangkat ke panggung mainstream. “Will I Ever See You Again?’ menjadi track dengan pesona melodi vintage pop nan memikat, dengan sentuhan funky melalui piano, drum beat minimalis dan gitar elektrik-nya. Hal terbaik dari komposisi ini adalah chorus-nya nan diakselerasi dengan synth piano nan membikin track ini “bercahaya”.
“Chill Kil” mempunyai pengaturan tracklist nan membikin album terdengar kohesif. Mulai dari pembuka nan mid-tempo, babak pertengahan nan catchy, kemudian membawa kita pada babak penutup nan lebih tenang dengan track-track R&B jazz seperti ‘Iced Coffee’, ‘Wings’, dan ‘Scenery’. Membuat “Chill Kill” mempunyai vibes nan solid dengan misteri dan tema classy dark-nya, ada banyak aplikasi aliran nan diperdengarkan dalam setiap track, namun tetap berkesinambungan.
Sembari mendengarkan “Chill Kill”, kita seperti diajak menari dalam mimpi jelek nan gelap dan dramatis berbareng Red Velvet, dengan angan terbangun untuk menyambut hari baru sebagai pribadi nan lebih kuat, tetap mempunyai optimisme dalam menlanjutkan hidup.
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·