“Rebel Moon” merupakan movie opera luar angkasa terbaru Zack Snyder nan dirilis sebagai Netflix Original. Dibintangi oleh Sofia Boutella sebagai Kora, salah satu masyarakat dari koloni petani di bulan, Veldt.
Ketika tempat tinggalnya diserang oleh pasukan Balisarius nan kejam, Kora melakukan penjelajahan melintasi planet untuk mengumpulkan petarung terbaik. Tak hanya menemukan kawan-kawan baru, Kora juga bakal berhadapan dengan masa lampau nan telah dia tinggalkan.
“Rebel Moon” dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama ‘A Child of Fire’ nan telah rilis, nan kedua ‘The Scargiver’ bakal rilis pada April 2024. Banyak media utama nan memberikan score rendah untuk movie Zack Snyder kali ini, lepas dari promosi dan euforia nan telah dibangun beberapa bulan belakangan. Memang ada banyak kekurangan, namun “Rebel Moon” juga mempunyai beberapa kelebihan tersendiri.

Cr. Chris Strother/Netflix
Mengikuti Perjalanan Kora Mengumpulkan Petarung Terhebat
Plot movie pertama “Rebel Moon” ini konsentrasi pada perjalanan Kora berbareng Gunnar, dalam mencari petarung terhebat, membentuk tim untuk melawan Balisarius, kembali ke Veldt.
Kita bakal mengetahui penyebab dari perang galaksi nan pecah, ialah lantaran kemurahan hati raja Motherworld sebelumnya nan dianugerahi anak perempuan, Putri Issa nan mempunyai keahlian sihir kehidupan. Sayangnya, raja berbareng keluarganya dibantai kemudian memotivasi senator Balisarius untuk memulai perang baru demi balas dendam.
“Rebel Moon” tampak hendak mengangkat kembali ketenaran opera luar angkasa ala “Star Wars”. Beberapa latar belakangan, perkembangan plot, character arc, ada nan langsung mengingatkan kita pada franchise retro sci-fi legendaris tersebut. Namun jika kita mempunyai ekspektasi bakal movie khayalan luar angkasa serupa, dijamin bakal dibuat kecewa lantaran “Rebel Moon” tidak digodok dengan sempurna untuk menjadi movie khayalan besar berikutnya. Potensinya ada, namun eksekusinya lebih banyak memberatkan pada style dari pada kedalaman dramanya.

Produksi Maksimal dengan Visual Dramatis Khas Zack Snyder
Mungkin media terbilang cukup sadis memberikan rating nan terlau rendah untuk “Rebel Moon”. Rotten Tomatoes memberikan 22%, sementara Metacritic memberikan 30%.
Menurut Cultura, movie ini setidaknya mempunyai kualitas 50 banding 50 secara keseluruhan. Karena kita tidak bisa melupakan produksi movie khayalan nan megah ini. Mulai dari CGI, kualitasnya termasuk nan layak jika dibandingkan dengan film-film MCU dan DC nan belakangan ini mengalami penurunan kualitas CGI dan pengaruh visual lainnya.
Tata rias, tata busana, dan kreasi latar “Rebel Moon” juga sangat detail. Ada beberapa penampilan karakter monster nan prostetiknya sangat berkualitas. Begitu pula CGI beberapa monster nan cukup berkesan, setidaknya ada dua segmen pertarungan dengan monster nan memikat dalam movie ini.
“Rebel Moon” juga mempunyai sinematografi dramatis unik Zack Snyder. Dengan slow motion pada adegan-adegan bertarung, visualisasi semesta nan tajam dan komposisi gelap nan pas. Meski memang banyak segmen baku tembak dan aplikasi senjata luar nomor nyentrik nan tetap kurang berkesan.
Perkembangan Cerita Terlalu Cepat, Motivasi dan Penokohan Semua Karakter Lemah
Salah satu perihal paling menganggu nan jelas terlihat dalam “Rebel Moon” adalah perkembangan plot nan terlalu cepat. Hal paling krusial dalam membangun semesta khayalan apalagi opera luar angkasa adalah world building dan sentimen pada setiap karakter nan penting. Sejak awal, “Rebel Moon” sudah kandas dalam world building, ini semesta baru nan sampai akhir movie tidak terlalu jelas kedalaman budaya dan patokan mainnya.
Semuanya melangkah terlalu sigap dan terlalu banyak penjelasan melalui perbincangan nan membosankan. Mulai dari latar belakang protagonis kita, Kora, hingga navigasi planet dan golongan nan asal nyentrik saja secara visual. Perjalanan Kora mulai dari berkenalan, membujuk karakter-karakter baru bergabung, hingga pecahnya pengkhianatan dalam tim prematurnya sama sekali tidak mempunyai kedalaman emosi.
Hal ini membikin penonton kesulitan merasakan emosi tertentu ketika ada karakter nan meninggal alias berkhianat. Baik ketika karakter baik meninggal lantaran berkorban, alias karakter jahat akhirnya meninggal dengan langkah paling memuaskan. Tidak ada sentimen antar karakter nan bisa mempengaruhi penonton. Ini juga membikin motivasi dari setiap karakter dipertanyakan.
Pada akhirnya, “Rebel Moon” sebetulnya mempunyai potensi sebagai opera luar angkasa nan seru, apalagi dengan visual dan visi khayalan dari Zack Snyder. Namun world building dan character arc nan lemah tetap menjadi masalah nan sering kita temukan dalam movie khayalan gagal, “Rebel Moon” juga mempunyai masalah nan sama. Presentasi seperti ini sayangnya tidak cukup untuk membikin penonton tetarik untuk menantikan bagian kedua pada April 2024 mendatang.
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·