Dirilis pada 3 Februari 2023, ‘My 21st Century Blues’ bukan sekadar debut album dari penyanyi-penulis lagu asal Inggris, RAYE. Album ini adalah pernyataan—suatu corak pelepasan diri dari jeratan industri musik nan selama bertahun-tahun menahannya dalam bayang-bayang.
Setelah bertahun-tahun menulis hits untuk artis lain dan merasa terkekang dalam perjanjian label besar, RAYE akhirnya menegaskan eksistensinya lewat album ini secara independen. Hasilnya? Sebuah karya nan emosional, mentah, dan tak kenal kompromi.
Secara musikal, ‘My 21st Century Blues’ menawarkan kekayaan style nan luas namun tetap koheren. RAYE memadukan jazz, R&B klasik, soul, blues, pop, hingga trip-hop. Produksi album ini terasa organik dan tidak dibuat-buat. Trek seperti “Escapism.” (kolaborasi dengan rapper 070 Shake) menjadi single paling menonjol, dengan produksi nan atmosferik dan bassline nan berat, menciptakan bumi sonik nan gelap dan menghantui.
Namun, di kembali kekelaman tersebut, RAYE menyelipkan trek seperti “Oscar Winning Tears” dan “The Thrill Is Gone” nan membuktikan versatilitasnya sebagai vokalis dan penulis lagu. Lagu-lagu ini menunjukkan keahlian vokal RAYE nan kuat—mendalam, penuh nuansa, dan emosional—dengan aransemen nan menghormati tradisi soul dan jazz klasik tanpa kehilangan sentuhan modern.
Lirik adalah jantung dari album ini. RAYE menulis dengan kejujuran nan membakar, tidak takut untuk mengungkap trauma, luka, dan perjuangannya. Lagu “Hard Out Here” adalah pembukaan nan menyengat, langsung menampar industri nan selama ini mengeksploitasi dan membungkamnya. Ia menyanyi dengan kemarahan dan kepercayaan diri, seolah menegaskan bahwa ini adalah panggungnya sekarang.
Puncak emosional album datang lewat lagu “Ice Cream Man.” Di sini, RAYE menyentuh topik pelecehan seksual dengan langkah nan sangat menyentuh namun tidak menjadikan dirinya korban pasif. Dengan nada bunyi nan lembut namun menyakitkan, dia mengubah luka menjadi senjata naratif.
Tak kalah tajam, “Body Dysmorphia” membahas tekanan gambaran tubuh dan trauma pribadi dengan sensitivitas tinggi, menunjukkan keberanian luar biasa untuk membuka luka terdalam demi menyampaikan pesan nan lebih besar.
Salah satu kekuatan utama ‘My 21st Century Blues’ adalah narasinya nan individual namun universal. Album ini tidak mencoba menjadi segala perihal untuk semua orang, tapi justru dalam keberaniannya menjadi sangat spesifik dan personal, dia sukses menyentuh banyak orang. RAYE tidak sekadar bernyanyi—ia bercerita, mengakui, melawan, dan menyembuhkan.
Beberapa bagian mungkin terasa berat secara emosional, dan beberapa trek condong lebih eksperimental dari nan diharapkan pendengar pop arus utama. Tapi di sinilah letak kekuatannya: RAYE tidak sedang membikin album pop biasa. Ia sedang menulis ulang kisahnya sendiri.
‘My 21st Century Blues’ adalah debut album nan berani, matang, dan sangat manusiawi. Ia menggabungkan musikalitas nan luar biasa dengan penulisan lirik nan jujur dan tanpa filter. Album ini adalah bukti bahwa kebebasan kreatif, meskipun susah diperoleh, dapat menghasilkan karya nan betul-betul menggetarkan jiwa.
RAYE tidak hanya merilis album. Ia membebaskan dirinya, dan dalam proses itu, menghadirkan salah satu rilisan debut paling krusial dalam satu dasawarsa terakhir.
Rachel Agatha Keen bakal tampil di Special Show Java Jazz Festival 2025 hari ketiga.
1 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·