Pesugihan: Saat Kekayaan Selalu Datang Bersama Harga yang Harus Dibayar

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Hampir setiap budaya di bumi mempunyai satu cerita nan sama: seseorang memperoleh kekayaan secara instan, tetapi kudu bayar nilai nan jauh lebih mahal. Di Indonesia, kisah itu dikenal sebagai pesugihan. Bentuknya beragam—mulai dari legenda Nyi Blorong, tuyul, babi ngepet, hingga praktik-praktik nan dipercaya melibatkan perjanjian dengan makhluk gaib. Terlepas dari betul alias tidaknya klaim tersebut, satu perihal nan menarik adalah realita bahwa narasi ini terus hidup dari generasi ke generasi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pesugihan itu nyata, melainkan kenapa masyarakat terus menceritakannya.

Dalam kajian antropologi, pesugihan dapat dipahami sebagai bagian dari folklor dan sistem kepercayaan lokal. Folklor tidak selalu dimaksudkan sebagai catatan sejarah nan dapat diverifikasi, tetapi sebagai langkah masyarakat menjelaskan dunia, menyampaikan nilai moral, dan mengekspresikan kekhawatiran kolektif.

Yang menarik, inti cerita pesugihan nyaris selalu sama. Seseorang menginginkan kekayaan tanpa melalui proses nan panjang. Sebagai imbalannya, dia kudu memberikan sesuatu nan dianggap sangat berharga: personil keluarga, keturunan, kehidupan pribadi, alias apalagi jiwanya sendiri. Dengan kata lain, kekayaan tidak pernah betul-betul “gratis”.

Konsep tersebut rupanya tidak hanya ditemukan di Indonesia. Di Eropa, legenda Faust menceritakan seorang cerdas pandai nan membikin perjanjian dengan setan demi memperoleh pengetahuan dan kekuasaan. Dalam tradisi blues Amerika, muncul mitos tentang Robert Johnson nan konon menjual jiwanya di persimpangan jalan demi menjadi gitaris luar biasa. Di Thailand terdapat kisah Kuman Thong, sementara beragam budaya lain juga mengenal cerita tentang roh alias entitas nan dapat memberikan kemakmuran dengan syarat tertentu.

Nama dan bentuknya berbeda, tetapi struktur ceritanya identik: ambisi, perjanjian, lampau konsekuensi. Kesamaan ini menunjukkan bahwa pesugihan bukan sekadar cerita misterius unik Nusantara. Ia merupakan bagian dari pola narasi universal tentang bujukan manusia terhadap jalan pintas.

Mengapa tema ini begitu kuat? Karena dia berbincang tentang sesuatu nan sangat manusiawi: gairah memperoleh hasil besar dengan upaya sekecil mungkin. Dalam kehidupan modern, kita mengenalnya dalam corak nan berbeda—skema sigap kaya, investasi bodong, perjudian, hingga obsesi terhadap kesuksesan instan. Pesugihan menjadi metafora tentang kemauan menghindari proses.

Tidak mengherankan jika nyaris semua cerita pesugihan selalu diakhiri dengan tragedi. Kekayaan memang datang, tetapi diikuti kehilangan nan lebih besar. Pesan moralnya sederhana: setiap untung selalu mempunyai harga.

Di sinilah kegunaan folklor bekerja. Cerita-cerita seperti ini menjadi pengingat bahwa keserakahan dapat menghancurkan seseorang, bukan melalui balasan hukum, melainkan melalui kehancuran moral, keluarga, dan kemanusiaannya.

Tema tersebut kemudian banyak diangkat dalam sinema Indonesia. Film-film seram modern kerap menggunakan pesugihan bukan hanya sebagai sumber ketakutan, tetapi juga sebagai simbol ambisi nan melampaui pemisah etika. Keluarga, desa, apalagi seluruh organisasi digambarkan ikut menanggung akibat dari keputusan segelintir orang nan mengutamakan kekayaan di atas segalanya.

Yang membikin pesugihan terus relevan bukanlah lantaran masyarakat semakin percaya pada hal-hal gaib, melainkan lantaran ceritanya bisa beradaptasi dengan zaman. Ketika kesenjangan ekonomi melebar, tekanan hidup meningkat, dan budaya instan semakin menguat, kisah tentang seseorang nan “membeli” kekayaan dengan nilai kemanusiaannya kembali terasa dekat.

Pada akhirnya, pesugihan bukan hanya tentang roh, tumbal, alias ritual. Ia adalah cermin dari ketakutan manusia sendiri: gimana jika kemauan untuk mempunyai segalanya justru membikin kita kehilangan perihal nan paling berharga?

Mungkin itulah argumen kenapa cerita ini tidak pernah betul-betul hilang. Karena selama manusia tetap tergoda mencari jalan pintas menuju kemakmuran, legenda tentang pesugihan bakal selalu menemukan pendengarnya.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura