Pembalikan Nasib di ‘Reversal of Fortune’

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Di awal movie Reversal of Fortune (1990), seorang laki-laki tua duduk di bangku roda. Tubuhnya lumpuh. Suaranya nyaris hilang. Ia hanya bisa mengeluarkan bunyi-bunyi pendek nan susah dipahami. Tetapi matanya tetap tajam—dingin, sinis, dan seperti menyimpan sesuatu nan tak pernah betul-betul selesai.

Lelaki itu adalah Claus von Bülow, bangsawan kaya nan pernah menghebohkan Amerika lantaran dituduh mencoba membunuh istrinya sendiri, Sunny von Bülow. Sang istri, pewaris kekayaan minyak, ditemukan koma akibat overdosis insulin. Dua kali. Dan publik segera mencium aroma cerita klasik: suami aristokrat, istri kaya raya, warisan miliaran, dan kemungkinan pembunuhan perlahan.

Tetapi Reversal of Fortune bukan movie pidana biasa. Ia tidak melangkah seperti movie detektif nan sibuk mencari “siapa pelakunya”. Film ini lebih licik. Ia justru membikin penonton terus bertanya: gimana jika kita tidak pernah betul-betul tahu kebenarannya?

Sutradara Barbet Schroeder membangun movie ini seperti ruang pengadilan nan dingin: penuh percakapan panjang, ironi sosial, dan permainan persepsi. Tidak banyak ledakan emosi. Tidak ada musik dramatis berlebihan. nan ada justru ketidaknyamanan pelan-pelan—seperti duduk terlalu lama di ruangan orang kaya nan penuh rahasia.

Tokoh sentral sebenarnya bukan Claus, melainkan pengacaranya: Alan Dershowitz, guru besar norma dari Harvard nan diperankan dengan gugup dan pandai oleh Ron Silver. Dershowitz awalnya tidak terlalu tertarik. Ia apalagi menganggap Claus tampak bersalah. Tetapi sebagai pengacara banding, tugasnya bukan menentukan moralitas klien—melainkan memastikan apakah proses norma melangkah adil. Di sinilah movie mulai menggigit.

Karena Reversal of Fortune tidak pernah betul-betul meminta penonton mencintai Claus von Bülow. Bahkan sebaliknya. Claus digambarkan sebagai laki-laki aristokrat nan dingin, sarkastik, dan nyaris tak mempunyai empati sosial. Ia berbincang seperti orang nan terlalu lama hidup di ruangan mewah hingga lupa langkah terdengar manusiawi.

Dan di tangan Jeremy Irons, karakter itu menjadi magnetik. Penampilannya begitu tenang sampai menakutkan. Ia tidak berteriak. Tidak memohon simpati. Bahkan saat dituduh membunuh istrinya, dia tetap tampak seperti laki-laki nan lebih terganggu oleh gangguan sosial daripada ancaman penjara.

Jeremy Irons memainkan Claus seperti sebilah pisau perak: elegan, dingin, dan mungkin berbahaya. Tidak heran dia memenangkan Oscar Aktor Terbaik lewat movie ini.

Namun kekuatan terbesar movie ini justru terletak pada keberaniannya menolak memberi jawaban pasti. Apakah Claus betul-betul mencoba membunuh Sunny? Film tidak pernah menjawab secara mutlak. Dan itu membuatnya terasa lebih realistis dibanding banyak drama pengadilan lain.

Karena di bumi nyata, norma tidak selalu bekerja untuk menemukan “kebenaran absolut”. Kadang norma hanya menentukan: apakah bukti cukup kuat? apakah prosedur dilanggar? apakah keraguan tetap ada?

Di tangan Alan Dershowitz, kasus Claus berubah dari persoalan moral menjadi persoalan norma teknis. Tim pengacara menemukan kemungkinan manipulasi bukti, kesalahan prosedur, dan kelemahan investigasi. Perlahan, kepercayaan publik mulai retak.

Di sinilah titel Reversal of Fortune terasa cerdas. Ia bukan hanya berfaedah “pembalikan nasib”, tetapi juga pembalikan persepsi. Orang nan tampak jelas bersalah bisa dibebaskan. Orang nan tampak korban bisa berubah menjadi bagian dari misteri nan lebih kompleks.

Film ini juga diam-diam menyindir kelas atas Amerika. Dunia Claus dan Sunny dipenuhi pesta aristokrat, kamar-kamar mahal, pelayan pribadi, dan percakapan sosial nan terasa hampa. Semua tampak elegan di luar, tetapi rentan di dalam. Ada sesuatu nan sangat 1980-an dalam atmosfer movie ini: kekayaan lama nan mulai membusuk perlahan.

Sunny sendiri nyaris tidak pernah betul-betul “hadir” sebagai karakter utuh lantaran sebagian besar waktu dia berada dalam kondisi koma. Tetapi justru itu membuatnya seperti hantu nan mengawasi seluruh film. Semua orang berbincang tentang dirinya—hartanya, tubuhnya, penyakitnya—namun suaranya sendiri hilang.

Dan mungkin di situlah tragedi terdalam movie ini berada. Bahwa di tengah pertarungan hukum, media, dan ambisi sosial, seorang wanita berubah menjadi objek perebutan narasi.

Menariknya lagi, movie ini tidak dibangun dengan daya thriller modern. Ritmenya lambat, dialognya panjang, dan tensinya lahir dari kecerdasan, bukan aksi. Tetapi justru lantaran itu, movie terasa seperti membaca tulisan investigasi panjang di majalah lama—dingin, rinci, dan perlahan membikin penonton tenggelam dalam keraguan.

Hari ini, ketika publik terbiasa dengan serial true crime nan sibuk mencari sensasi, Reversal of Fortune terasa berbeda. Ia tidak berteriak. Ia tidak mencoba mengejutkan setiap lima menit. Film ini cukup percaya diri untuk membiarkan ketidakpastian tetap hidup.

Dan mungkin itu sebabnya movie ini bertahan. Karena setelah angsuran penutup selesai, pertanyaan itu tetap menggantung: apakah Claus von Bülow tidak bersalah… alias hanya terlalu pandai untuk dibuktikan bersalah?

Film ini tidak memberi jawaban. Dan justru lantaran itulah dia terasa begitu mengganggu. Film “Reversal of Fortune” mempunyai skor sekitar 7,2/10 di IMDb.

Akhir Hayat Para Tokoh Utama

Sunny von Bülow: Ia tidak pernah terbangun dari komanya. Setelah menghabiskan 28 tahun dalam kondisi vegetatif di panti jompo mewah di Manhattan, Sunny meninggal bumi pada 6 Desember 2008 dalam usia 76 tahun akibat henti jantung.

Claus von Bülow: Setelah melepaskan klaim warisan, Claus pindah kembali ke London dan hidup sebagai penduduk biasa nan menjauh dari sorotan publik. Ia meninggal bumi di rumahnya di London pada 30 Mei 2019 dalam usia 92 tahun.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura