One Battle After Another Review: Epik Revolusi dan Keluarga dalam Gaya Sinematik

Sedang Trending 9 bulan yang lalu

One Battle After Another (2025), movie garapan Paul Thomas Anderson, adalah karya ambisius nan memadukan aksi, drama keluarga, dan satir politik dalam satu bingkai epik. Berdasarkan novel Vineland karya Thomas Pynchon, movie ini mengisahkan mantan revolusioner Bob Ferguson (Leonardo DiCaprio) nan hidup menyendiri berbareng putrinya Willa (Chase Infiniti) setelah bertahun-tahun mundur dari aktivitas radikal.

Hidup mereka nan tenang terguncang saat musuh lama, Lockjaw (Sean Penn), kembali, dan Willa tiba-tiba menghilang memaksa Bob untuk kembali berkompetisi demi menyelamatkan keluarganya sekaligus menghadapi bayang-bayang masa lalu.

Skenario nan ditulis oleh Anderson sendiri sangat padat dan kaya tema. Ia sukses menyeimbangkan narasi politik dengan drama emosional ayah-anak, sekaligus menyelipkan satir terhadap otoritarianisme dan rasisme. Konflik antara idealisme revolusioner dan realita pahit pasca-revolusi digali dengan tajam, sementara plot pencarian Willa memberi urgensi emosional nan kuat.

Meskipun durasinya cukup panjang (sekitar 2 jam 42 menit) alur tetap terasa bergerak dan tidak mudah kehilangan arah, berkah struktur segmen nan dirancang untuk selalu menggiring penonton ke momen-momen puncak. Sebagian ulasan menyebut plotnya “cepat, intens, dan borderline overwhelming” tapi tetap bisa diikuti dengan kohesi nan baik.

One Battle After Another Review

Salah satu kelebihan teknis movie ini adalah penggunaan format VistaVision, IMAX 70 mm, dan apalagi proyeksi rupa-rupa besar lainnya, nan menghadirkan skala visual sangat luas dan imersif.

Sinematografer Michael Bauman bekerja sama dengan Anderson untuk menciptakan gambaran sinematik nan grand dan mendalam, memperlihatkan lanskap Amerika nan terfragmentasi baik secara bentuk maupun ideologis. Adegan aksi—mulai dari konfrontasi desertik hingga pengejaran karismatik—difilmkan dengan style kinetik namun tetap terkontrol, memberi sensasi “kekacauan terstruktur”. Beberapa penonton menyebut momen-momen ini sebagai “masterclass dalam controlled chaos.”

Leonardo DiCaprio memerankan Bob Ferguson dengan perpaduan kerentanan dan ketangguhan; Bob adalah ayah nan capek secara emosional tapi tetap sangat berkomitmen pada idealismenya. DiCaprio bisa menghadirkan karakter nan sangat manusiawi—tak sempurna, terkadang kikuk, tetapi sangat tulus dalam perjuangannya.

Teyana Taylor sebagai Perfidia Beverly Hills dan Sean Penn sebagai Lockjaw juga memberikan warna penting: Taylor menghadirkan figur revolusioner nan penuh semangat, sementara Penn sebagai antagonis lama membawa bentrok ideologis nan dalam. Chase Infiniti sebagai Willa sukses mencuri perhatian meski usianya muda: karakternya berapi-api, mandiri, dan menjadi motor emosional dalam film. Ensemble lainnya—termasuk Benicio del Toro dan Regina Hall—turut memberi performa solid nan memperkuat narasi film.

One Battle After Another Review

Screenplay dikerjakan dengan visi besar: Anderson menggabungkan perbincangan nan tajam, momen komedi gelap, dan set-piece tindakan spektakuler. Transisi antar segmen terasa mulus, meskipun ada titik-titik di mana tema dan nada berubah cepat—dari satire ke drama, dari politik ke aksi. Beberapa pengulas menyebut bahwa meski movie ini sangat panjang, tempohnya tidak terasa membosankan; sebaliknya, terasa seperti rollercoaster emosional dan ideologis nan terus bergolak.

Namun, pendekatan ini mungkin menantang bagi sebagian penonton nan mengharapkan plot konvensional—film ini lebih banyak berani dalam struktur dan style dibanding movie tindakan tipikal.

Musik diciptakan oleh Jonny Greenwood, nan sudah lama menjadi kolaborator Anderson. Skor-nya bisa mengangkat ketegangan movie sekaligus menambahkan lapisan emosional nan mendalam. Sound design sangat detail: bunyi tembakan, mobil berkecepatan, perbincangan internal tokoh, dan bisikan ideologis saling berbaur dengan sangat baik. Kombinasi musik dan sound design ini memperkuat sensasi imersi, terutama saat adegan-adegan tindakan dan momen-momen reflektif.

One Battle After Another tak hanya sebuah thriller aksi, tapi juga komentar sosial nan tajam. Anderson menggunakan kisah revolusioner masa lampau untuk mencerminkan masalah kontemporer: otoritarianisme, rasisme, ekstremisme politik, dan gimana ideologi masa muda terbentur realitas dewasa.

Film ini membujuk penonton mengambil perspektif ganda—sebagai orang nan pernah bermimpi revolusi dan sebagai orang nan menghadapi akibat dari mimpi itu. Kritik terhadap sistem kekuasaan nan represif disampaikan dengan sindiran, lawakgelap, dan emosionalitas pribadi, membikin movie ini relevan sekaligus menghibur.

Meski banyak dipuji, movie ini bukan tanpa kelemahan. Durasi nan sangat panjang bisa menjadi hambatan bagi penonton kasual. Beberapa momen ideologis terasa terlalu padat dan mungkin membingungkan jika tidak diikuti dengan seksama. Ada pula kritik bahwa karakter sampingan tertentu kurang mendapat waktu eksplorasi mendalam, terutama dari sisi motivasi revolusioner mereka. Selain itu, style Anderson nan eksperimental dan berani bisa jadi kurang disukai penonton nan lebih menyukai narasi linier dan sederhana.

“One Battle After Another” adalah salah satu karya Paul Thomas Anderson paling ambisius dan sukses dalam menggabungkan komponen tindakan spektakuler, drama keluarga, dan satire politik. Dengan sinematografi luar biasa, akting kuat dari Leonardo DiCaprio dan ensemble pendukung, serta skenario nan berpikiran besar, movie ini menawarkan pengalaman sinematik nan menggetarkan sekaligus reflektif.

Meski lama panjang dan tema berat bisa jadi tantangan, movie ini sangat layak ditonton—terlebih di layar besar seperti IMAX alias format VistaVision.

Selengkapnya
Sumber cultura
cultura